Nurbaiti

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Ketiduran di Waktu Paling Sakral

Ketiduran di Waktu Paling Sakral

Syahbaty

Ada saja kejadian yang kalau diingat sekarang malah bikin senyum sendiri.

Semuanya berawal saat azan Magrib berkumandang. Suami sudah berangkat ke masjid sejak iqamah hampir tiba, sementara aku masih di rumah, menunggu azan selesai seperti biasa. Badan rasanya agak lemas, mata mengantuk setelah beberapa malam terakhir begadang. Sepuluh malam terakhir Ramadhan, siapa yang mau menyia-nyiakannya? Malam seribu bulan tidak datang dua kali dalam setahun.

Sambil tiduran sebentar, kupanjangkan tangan mengambil baju di dekat tempat tidur. Niatnya cuma mau merendam pakaian sebelum shalat.

Cuma sebentar.

Katanya.

Entah bagaimana, tangan masih memegang baju, tapi mata lebih dulu menyerah.

Gelap.

Hening.

Dan… tidur total.

“Sudah shalat Magrib?”

Suara suami yang baru pulang dari masjid membuatku tersentak. Jantung rasanya lompat satu tingkat. Aku membuka mata setengah sadar, mencoba memahami realitas.

Lampu sudah menyala. Suasana rumah terasa berbeda. Otakku bekerja lambat, seperti komputer jadul yang baru dinyalakan.

“Hah…?” jawabku refleks.

Aku duduk tergesa. Kepala masih berat. Lalu mataku menangkap jam di dinding.

Astaghfirullah.

Bukan lagi waktu Magrib.

Sudah hampir Isya.

Dalam hitungan detik, semua kesadaran datang bersamaan: aku belum buka puasa, belum shalat Magrib, dan… tertidur persis di waktu paling sakral untuk berbuka.

Suami menatap dengan campuran heran dan menahan senyum.

“Kamu… tidur?”

Aku hanya bisa mengangguk pelan sambil tertawa kecil, antara malu dan tidak percaya pada diri sendiri.

Begadang mengejar Lailatul Qadar, tapi justru tumbang di Magrib.

Ironis sekali.

Aku segera berwudhu dengan langkah setengah berlari. Di sela-sela itu, aku malah tersenyum sendiri. Ternyata tubuh juga punya haknya. Ia diam-diam menagih istirahat setelah dipaksa kuat selama sepuluh malam berturut-turut.

Malam itu aku belajar sesuatu yang sederhana: ibadah bukan hanya tentang kuat bertahan, tapi juga tentang mengenal batas diri.

Allah tidak butuh kita sempurna. Bahkan mungkin, tidur lelah karena ingin beribadah pun sudah dicatat sebagai cinta yang tulus.

Dan sejak kejadian itu, setiap kali azan Magrib di sepuluh malam terakhir, aku selalu memastikan satu hal terlebih dahulu, duduk tegak. Jangan tiduran. Jangan sampai niat ibadah, tapi yang datang malah mimpi indah.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post