Ketika Negara Menyapaku
Ketika Negara Menyapaku
Syahbaty
Bayangkan… niat hati ingin menutup hari dengan ibadah dan segera beristirahat. Mata sudah mode hemat energi, mungkin tinggal dua watt. Pikiran juga sudah mulai logout satu per satu.
Tiba-tiba… ting!
WA masuk.
Pengirimnya: Orang nomor satu tenaga kependidikan sekolahku. Kepala TU.
Aku langsung duduk tegak. Bukan karena segar. Tapi karena refleks seorang guru yang tahu: kalau pesan datang malam-malam dari kepala Tata Usaha, hampir pasti bukan ucapan selamat tidur.
Jam sudah menunjukkan pukul 22.42.
Aku sempat menatap layar beberapa detik. Antara membuka atau pura-pura tidak melihat. Tapi rasa penasaran mengalahkan rasa kantuk.
Dengan sedikit memelas kubuka notifikasi yang baru masuk itu. Dan benar saja. Katanya namaku muncul di angka 74 dan tolong ditindaklanjuti.
Aku menelusuri nama-nama yang tertera di situ, adakah yang bernasib sama dengan ku? benar aku ada di angka 74 dari 163 orang dalam dokumen panjang itu. Temanku, Rini ada pada angka setelahku.
Instruksinya sederhana, tapi efeknya luar biasa: Scan ijazah asli, transkrip nilai, SK CPNS, SK PNS, lalu upload ke link yang tertera biru di situ. Date line besok jam 12.00 siang. Wauuuu....
Sederhana bagi yang membaca. Tidak sederhana bagi yang menjalani.
Aku terdiam. Bukan karena malas. Tapi karena pikiranku langsung berjalan ke masa lalu.
Ijazah Diploma III… kosong? Aku mengernyit.
Bukankah semua itu dulu diraih dengan perjuangan? Dengan perjalanan panjang, tugas menumpuk, air mata, dan doa yang tidak sedikit?
SK CPNS itu bahkan bertanggal 1 Maret 1990. Dokumen yang usianya mungkin hampir seusia beberapa guru muda di sekolah ku sekarang.
Aku tersenyum sendiri. Negara ternyata punya cara unik untuk mengajak kita bernostalgia.
Di saat orang lain bersiap tidur, aku justru diajak membuka kembali lembar-lembar masa lalu: map tua, plastik bening menguning, dan arsip yang disimpan dengan penuh harap agar suatu hari tetap dianggap ada. Itulah yang terbayang olehku.
Ya sudahlah. Dalam dunia administrasi, segala kemungkinan memang bisa terjadi. Yang dulu kita kira sudah selesai, ternyata bisa dipanggil kembali, seperti mantan yang tiba-tiba muncul, tapi versi resmi dan berlogo instansi.
Aku menarik napas panjang. Baiklah. Besok sepertinya bukan hanya mengajar yang harus disiapkan. Tapi juga berburu dokumen sejarah hidup sendiri.
Akhirnya aku menyerah. Tidur lebih bijak daripada berburu ijazah dan kroni-kroninya tengah malam gini. Tetangga sudah tidur, masa harus ikut terlibat dalam pencarian dokumen bersejarahku?
Biarlah malam ini aku bermimpi saja dulu. Siapa tahu dalam mimpi ada petunjuk lokasi ijazah, lengkap dengan Google Maps dan arah panahnya. Hehehe....
Baiti Jannati, Selasa malam, 3 Maret 2026.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan