Nurbaiti

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Ketika Negara Menyapaku (lanjutan)

Ketika Negara Menyapaku (lanjutan)

Baiklah. Sepertinya aku harus menyerah pada takdir administrasi.

Walau sudah tidur, rasa kantuk masih bertahan di dua watt.

Belum terang, tapi cukup untuk membuatku bangkit dari kasur dengan langkah yang tidak sepenuhnya sadar.

Target pertama: mencari map dokumen penting.

Secara teori, map itu ada di tempat yang sangat aman.

Secara praktik… tidak ada yang tahu di mana.

Aku menurunkan koper dari atas lemari, membukanya perlahan.

Map merah, isinya resep dokter.

Map biru, fotokopi KK lama.

Map hijau, rapor anak waktu SD.

Aku berhenti sejenak.

“Lho… ijazahku mana?”

Mulai panik kecil.

Aku buka laci kedua. Ketemu amplop tebal. Deg-degan. Kubuka perlahan.

Isinya?

Undangan pernikahan tahun 1989.

MasyaAllah… arsip sejarah lengkap, tapi bukan yang dicari.

Aku mulai bicara sendiri.

“Tenang… kamu pasti pernah menyimpannya dengan sangat rapi…”

Kalimat yang biasanya berarti: disimpan terlalu rapi sampai diri sendiri lupa.

Aku menghentikan pencarian.

Tahajud dulu.

Setelah dua rakaat dan beberapa doa yang sedikit diselipi harapan menemukan ijazah, aku kembali melanjutkan ekspedisi nasional ini.

Sepuluh menit kemudian, akhirnya ketemu satu map besar warna cokelat.

Sudutnya sudah sedikit melengkung dimakan usia.

Kubuka pelan.

Dan… di sanalah mereka.

Ijazah.

Transkrip nilai. Sudah gak jelas tulisannya. Kayaknya karbon mesin ketik zaman itu mulai memudar.

SK CPNS. Bukan asli. Bukan palsu juga. Foto copy.

SK PNS. Kertasnya sangat tipis, nyaris transparan.

Dokumen-dokumen sakral yang dulu diperjuangkan dengan begadang, tugas menumpuk, dan doa panjang setiap ujian.

Aku tersenyum haru. Sampai kemudian mataku jatuh pada foto ijazah.

Aku terdiam.

“Ini aku?”

Wajah polos.

Tatapan serius.

Rambut rapi tanpa jejak lelah dunia pendidikan.

Aura mahasiswa idealis.

Belum kenal rapat mendadak.

Belum kenal revisi kurikulum.

Belum kenal upload link sebelum deadline jam 12.00.

Aku tertawa kecil sendiri.

Kalau foto itu bisa bicara, mungkin dia akan berkata:

“Tenang… hidupmu nanti penuh kejutan administrasi.”

Belum selesai sampai di situ.

Tantangan berikutnya: scan dokumen.

Aku pakai ponsel saja.

Harus download aplikasi scanner dulu.

Scanner dinyalakan.

Aku mencoba.

Klik.

Tidak terdeteksi.

Aku tarik napas.

Klik lagi.

Masih tidak mau bekerja.

Aku menatap aplikasi itu dengan tatapan seorang guru yang biasanya cukup membuat siswa langsung membuka buku.

“Tolong kerja sama ya… ini urusan negara.”

Akhirnya setelah diusap-usap, diketuk pelan versi merayu, scanner pun seperti tersadar.

Satu per satu dokumen itu kufoto.

Setiap bunyi klik… seperti suara mesin waktu.

Mengingatkanku bahwa perjalanan panjang itu nyata.

Bahwa semua proses yang dulu terasa berat, sekarang hanya berubah menjadi file PDF berukuran satu megabyte.

Dulu begadang demi nilai.

Sekarang begadang demi upload besok.

Jam menunjukkan hampir pukul empat pagi.

Kusimpan file-file itu setelah kunamai satu per satu dengan penuh kehati-hatian.

Jangan sampai nanti malah upload “rapor anak SD” ke link negara.

Besok di sekolah saja ku-upload, pikirku.

Dan benar saja.

Di sela-sela mengawas ujian, aku membuka link yang diberikan.

Satu per satu file masuk.

Proses loading berjalan.

Beberapa detik yang terasa seperti menunggu pengumuman kelulusan.

Lalu tulisan kecil muncul di layar:

Upload successful.

Aku bersandar lega.

Ternyata… menjadi guru bukan hanya soal mengajar di kelas.

Kadang juga soal membuktikan kepada sistem bahwa kita benar-benar pernah sekolah.

Hari sudah siang.

Mengawas sudah selesai.

Kantuk kembali datang.

Kali ini lebih damai.

Sebelum tidur, aku sempat tersenyum dan berpikir, Mudah-mudahan tidak ada lagi urusan yang begini.

Tapi kalaupun ada…setidaknya sekarang aku tahu satu hal penting:

Aku bukan hanya guru.

Aku juga arsiparis kehidupan sendiri. 😁

Baiti Jannati, Malaka Sari, Kamis 5 Maret 2025.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post