Di Balik Kaca Jendela Pesawat
Kupandang keluar lewat kaca jendela kecil di sebelah kiriku.
Allah membuka mata kita, memperlihatkan betapa agung ciptaan-Nya. Tak ada kata dan kalimat yang benar-benar sanggup mewakili untuk mengatakan betapa indah dan agungnya angkasa raya.
Awan putih yang terlihat seperti kapas itu mengingatkanku pada janji Allah dalam Al-Qur'an. Bahwa nanti akan datang hari ketika langit yang kini tampak tenang akan berubah. Gunung-gunung akan beterbangan seperti bulu yang dihamburkan, dan langit akan terbelah.
Hari itu adalah hari ketika manusia akhirnya menyadari sepenuhnya betapa kecil dirinya di hadapan Sang Pencipta.
Hari ini kita melihat awan itu lembut, tenang, berlapis-lapis, seolah menjadi lukisan raksasa yang digantung di langit. Tapi sesungguhnya awan-awan itu juga tanda kekuasaan Allah.
Allah menciptakannya dengan bentuk yang tak pernah sama. Ada yang tipis seperti selendang putih. Ada yang tebal seperti gunung kapas. Ada yang berarak panjang, seolah sedang melakukan perjalanan jauh melintasi langit.
Semua itu seperti bisikan lembut kepada manusia:
Lihatlah… perhatikanlah… berpikirlah…
Bahwa semua ini tidak mungkin terjadi tanpa kehendak Sang Maha Pencipta.
Awan itu bergerak tanpa suara, tetapi mengajarkan begitu banyak hal. Ia mengingatkan kita bahwa Allah Maha Agung, Maha Pencipta, Maha Kuasa atas segala sesuatu. Tak terbantahkan.
Kupandangi lagi…
lagi…
dan lagi…
Sampai akhirnya pesawat mulai menurunkan ketinggian.
Langit yang tadi terasa begitu dekat perlahan menjauh dari pandanganku. Putih dan indahnya awan berganti dengan hamparan hijau di muka bumi.
Pohon-pohon tampak kecil dari atas sana, seperti karpet hijau yang digelar luas.
Lara… aku ingin sekali menulis semua yang ada di dalam pikiranku saat berada di angkasa seperti ini. Tapi sering kali kata-kata terasa tidak cukup.
Ada keharuan tersendiri setiap kali aku berada di “angkasa”.
Seolah-olah Allah sedang memperlihatkan sebagian kecil dari kebesaran-Nya kepada kita.
Andai Lara bisa ikut menikmati pemandangan ini, aku yakin Lara pun akan merasakan hal yang sama… atau bahkan lebih.
Setiap kali naik pesawat, aku selalu meminta duduk di dekat jendela. Kaca kecil itu seperti portal kecil menuju keajaiban.
Mataku bisa berlama-lama memandang keluar tanpa merasa lelah.
Awan berarak, berlapis-lapis, membentuk seperti gunung-gunung putih yang megah.
Ada juga yang berwarna kelabu, seperti sedang membawa rahasia hujan.
Ada yang tipis dan bergerak cepat. Aku jadi berpikir, berapa ya kira-kira kecepatan gerak awan itu?
Ternyata awan memang bergerak. Angin di ketinggian bisa membawa mereka melaju puluhan kilometer per jam. Kita mungkin menganggapnya diam, padahal mereka sedang melakukan perjalanan panjang melintasi langit.
Beberapa awan terlihat bergerombol seperti rombongan besar yang saling mengejar. Ada juga yang menjulang tinggi, membentuk gunung raksasa yang memuncak dan menutupi sebagian kecil birunya langit.
Indah sekali.
Tak ada bandingannya.
Sungguh luar biasa.
Masya Allah…
Allahu Akbar.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan