Nurbaiti

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Razia Tas dan Misteri Lipstick Nasional

Razia Tas dan Misteri Lipstick Nasional

Syahbaty

Anak-anak, boleh izin membuka tas kalian?” tanyaku.

“Boleh buuu…” jawab mereka serentak.

Aku dan Pak Devan, teman ngawas hari itu, langsung saling pandang sebentar.

Alhamdulillah. Aman. Tidak ada tanda-tanda perlawanan.

Memang kadang-kadang, dalam dunia pengawasan ujian, ada satu kegiatan yang terdengar agak dramatis: menggeledah tas siswa.

Tas-tas itu ditumpuk rapi di depan kelas, tepat di bawah papan tulis.

Seperti antrean calon penumpang pesawat… hanya saja isinya bukan koper liburan, tapi rahasia kehidupan remaja.

Satu per satu kami buka.

Tas pertama.

Aku berhenti.

“Pak Devan…” bisikku.

“Iya?”

“Ini… lipstick.”

Pak Devan mengangguk tenang.

“Normal, Bu.”

Tas kedua.

Lipstick lagi.

Tas ketiga.

Lipstick… tapi kali ini dengan warna yang menurutku terlalu berani untuk ukuran ujian matematika.

Tas keempat.

Kartu

Tas kelima

Maskara.

Tas keenam.

Lipstick lagi.

Aku mulai merasa seperti petugas Bea Cukai di bandara yang menemukan barang impor yang sama terus-menerus.

“Ini tas siapa?” tanyaku.

Seorang murid cewek mengangkat tangan dengan wajah datar.

“Punya saya, Bu.”

“Oke… ini tidak boleh dibawa ke sekolah ya.”

“Iya Bu.”

Tas berikutnya kami buka lagi.

Lipstick.

Aku melirik Pak Devan.

“Pak, ini ujian apa… atau audisi make up artist nasional?”

Pak Devan hampir tertawa tapi berusaha menjaga wibawa pengawas.

Beberapa barang yang diizinkan kami kembalikan:

pelembab bibir tanpa warna, hand body, bedak biasa, parfum, earphone.

Sisanya kami sisihkan di meja guru.

Meja itu perlahan berubah fungsi.

Bukan lagi meja pengawas.

Tapi konter kosmetik mini.

Aku lalu duduk sebentar dan tiba-tiba pikiranku melayang jauh…

ke beberapa puluh tahun yang lalu.

Zaman ketika aku masih seusia mereka.

Tas sekolahku dulu isinya sederhana sekali.

Buku.

Pensil.

Penghapus.

Kadang ada penggaris.

Sudah.

Kalau ada lipstick di tas?

Mustahil.

Jangankan lipstick.

Bedak saja rasanya sudah seperti barang mewah.

Aku bahkan ingat jelas, pertama kali pakai lipstick itu saat kuliah semester tiga.

Itu pun bukan karena niat sendiri.

Temanku yang memakaikannya.

“Coba pakai, Des… biar kelihatan dewasa.”

Aku menurut saja.

Begitu kaca dihadapkankan ke wajahku, aku langsung kaget.

“Ini aku??”

Rasanya seperti melihat orang lain.

Sepanjang hari aku berjalan sambil menunduk.

Takut ketemu siapa pun.

Terutama kalau sampai Mak melihat.

Bayanganku waktu itu sederhana:

kalau Mak melihatku pakai lipstick…

mungkin beliau akan berkata,

“Ini anak kuliah atau mau jadi penyanyi dangdut keliling kampung?”

Aku tersenyum sendiri mengingatnya.

Lalu kulihat lagi meja pengawas di depanku.

Belasan lipstick berjajar rapi seperti peserta lomba baris-berbaris.

Aku menggeleng pelan.

“Anak-anak sekarang luar biasa ya, Pak,” kataku pada Pak Devan.

“Kenapa Bu?”

“Mereka datang ujian… tapi persiapannya seperti mau syuting drama Korea.”

Pak Devan akhirnya tertawa kecil.

Sementara di bangku belakang, para siswi pura-pura serius mengerjakan soal…

tapi bahunya terlihat sedikit berguncang menahan tawa.

Ah… zaman memang berubah.

Dulu kami takut ketahuan pakai lipstick.

Sekarang…

lipstick malah ketahuan di dalam tas saat ujian.

Dan yang lebih menarik lagi…

warnanya lebih banyak daripada soal pilihan ganda. 😄

Baiti Jannati, Malaka Sari, Jum'at 6 Maret 2026

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post