Nurbaiti

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Sedekah yang Gagal di Tikungan

Sedekah yang Gagal di Tikungan

Syahbaty

 

Tadi pagi, aku berkendara seperti biasa. Jalanan santai, hati tenang, dzikir mengalun pelan di dalam hati. Semua terlihat normal.

Sampai aku melihat sosok legendaris di pertigaan.

Bapak Ogah.

Berdiri gagah. Tatapan jauh ke depan. Aura profesional terpancar kuat.

Aku langsung tergerak.

“Ah, ini kesempatan sedekah pagi,” batinku penuh semangat keimanan.

Tanganku merogoh saku.

Dapat dua lembar uang.

MasyaAllah… rezeki beliau hari ini.

“Pak..! Pak..!” panggilku sambil mengangkat tangan.

Tidak ada respons. Beliau tetap diam. Mungkin sedang kontemplasi hidup, pikirku. Aku tetap memanggil sambil mulai berbelok dari kiri.

Di saat yang sama…dari arah kanan…muncul seorang bapak lain dengan motor yang juga sedang berbelok. Dan di sinilah alam semesta mulai bekerja sama membuat adegan sinematik. Kami berdua bergerak melingkar.

Pelan. Anggun. Seperti dua planet yang salah orbit. Dalam kepalaku tiba-tiba semuanya berjalan slow motion.

Aku sempat berpikir:

“Ini kayaknya bakal nabrak deh…”

Dan benar saja.

KLETUK.

Bukan tabrakan keras. Lebih mirip saling menyapa terlalu dekat.

Masalahnya… satu tanganku masih menggenggam uang sedekah.

Bukan stang.

Fisika tidak mengenal niat baik. Keseimbangan hilang. Motor berputar sedikit.

Dan aku…jatuh. Pelan. Elegan. Setidaknya versiku hehe.... 

Seperti daun gugur yang kehilangan arah hidup.

Dalam sepersekian detik aku masih sempat berpikir:

“Ya Allah… semoga gak ada murid lewat…”

Aneh sekali.

Tidak sakit.

Tidak panik.

Tubuhku otomatis bergerak mode ninja.

Dalam hitungan detik aku sudah berdiri, mengangkat motor, menyalakan mesin, dan duduk kembali seolah latihan ini sudah sering kulakukan sejak kecil.

Uang?

Masih di tangan.

Tidak jatuh.

Prioritas tetap jelas.

Aku menoleh ke bapak Ogah.

Beliau melihatku…dan tertawa.

Tertawa yang tulus. Lepas. Bahagia. Aku tersenyum, dan mendadak merasa seperti pemain komedi pagi hari.

Uang yang tadi ingin kuberikan perlahan kumasukkan kembali ke saku.

Hari ini… sedekahnya ditunda dulu.

Motor kembali melaju. Di sepanjang jalan aku berpikir: Ternyata hidup itu unik. Niatnya berbagi rezeki. Yang didapat malah pelajaran keseimbangan.

Sejak keluar rumah aku memang terus berdzikir, membaca Al-Fatihah berulang tanpa hitungan.

Dan mungkin karena itu juga…

aku jatuh tanpa luka.

Hanya harga diri yang sedikit terguncang.

Tapi tidak apa-apa.

Harga diri bisa diperbaiki.

Yang penting motor hidup, badan utuh, dan tidak ada yang merekam.

Karena kalau ada CCTV…

mungkin sekarang aku sudah viral dengan judul:

“Ibu Guru Jatuh Artistik di Tikungan.”

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post