Tamu Agung Telah Pulang
Tamu Agung Telah Pulang
Syahbati
Ia datang tanpa suara,
namun hatiku langsung tahu—
langit sedang membuka pintunya.
Malam-malam menjadi lebih panjang,
air mata terasa lebih dekat,
dan doa seperti menemukan jalannya sendiri
menuju Arsy.
Ia mengetuk lewat azan subuh,
membangunkanku dengan rindu yang aneh,
seolah berkata,
“Bangun… ada cinta yang menunggumu.”
Di bawah lampu redup,
aku belajar kembali menjadi kecil—
meminta ampun,
menghitung dosa,
dan berharap masih dianggap hamba.
Ramadhan…
tamu agung itu
tidak pernah banyak bicara,
namun mengubah segalanya.
Ia mengajari lapar agar aku mengerti syukur,
mengajari kantuk agar aku mengerti perjuangan,
dan mengajari kehilangan
agar aku mengenal arti pertemuan.
Kini ia telah pulang.
Masjid tak lagi seramai kemarin,
tasbih tak secepat dulu berputar,
dan malam terasa kembali biasa—
terlalu biasa.
Aku berdiri di ambang Syawal,
dengan hati setengah kosong,
bertanya pelan:
apakah aku masih orang yang sama
seperti sebelum ia datang?
Ramadhan…
jika kau kembali tahun depan,
temukan aku masih menunggumu—
dengan iman yang belum padam,
dan rindu yang belum selesai.
Sebab ternyata,
yang pergi bukan hanya engkau,
tetapi juga versi terbaik diriku
yang sempat hidup bersamamu
Baiti Jannati, Lamklat, Jum'at, 30 Ramadhan 1447 H, 20 Maret 2026
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan