Antara Tidak Mampu dan Belum Disiplin
Antara Tidak Mampu dan Belum Disiplin
Aku masih duduk di saf tengah, kipas masjid berputar pelan, mengaduk udara yang hangat. Siang itu tidak terlalu panas, tapi cukup membuat keringat diam-diam turun di pelipis. Entah karena cuaca… atau karena kalimat yang baru saja masuk ke telingaku.
“Siapa bilang kita tidak bisa berqurban? Asal disiplin, semua kita bisa.”
Aku terdiam.
Kalimat sederhana, tapi seperti ada yang mengetuk pelan di dalam dada.
Pak ustadz melanjutkan dengan tenang, tidak menggebu, tapi justru itu yang membuat setiap katanya terasa lebih dalam.
“Coba kita jujur… berapa banyak uang yang kita keluarkan setiap hari tanpa kita sadari?”
Aku menunduk.
Tiba-tiba bayangan gelas kopi, jajanan kecil, dan “sekadar” pengeluaran receh muncul satu per satu. Tidak terasa… tapi nyata.
“Sepuluh ribu saja sehari. Tidak besar. Tapi kalau disiplin… setahun bisa lebih dari tiga juta. Sudah cukup untuk berqurban seekor kambing.”
MasyaAllah…
Sepuluh ribu.
Nominal yang sering hilang tanpa pamit.
Tapi ternyata… bisa menjadi jalan menuju ibadah besar.
Aku tersenyum kecil… sekaligus malu.
Selama ini mungkin aku sering berkata dalam hati, “belum mampu berqurban…”
Padahal bisa jadi… bukan tidak mampu, tapi belum benar-benar meniatkan.
Pak ustadz membuka mushaf kecil di tangannya, lalu membaca dengan suara yang tenang:
“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu, dan berqurbanlah.”
(QS. Al-Kautsar: 2)
Perintah itu singkat.
Jelas.
Tanpa banyak penjelasan.
Seolah Allah ingin berkata:
“Ini ibadahmu… ini bukti cintamu.”
Beliau lalu melanjutkan,
“Qurban itu bukan sekadar menyembelih hewan. Tapi menyembelih ego, menyembelih cinta dunia, dan menggantinya dengan cinta kepada Allah.”
Aku menarik napas pelan.
Tiba-tiba kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail terlintas di benakku.
Bagaimana seorang ayah rela… dan seorang anak menerima… hanya karena satu hal: taat kepada Allah.
Dan kita?
Hanya diminta menyisihkan sedikit dari rezeki…
yang bahkan bukan sepenuhnya milik kita.
“Dagingnya tidak sampai kepada Allah, darahnya juga tidak. Tapi yang sampai adalah ketakwaannya.”
(QS. Al-Hajj: 37)
Aku menutup mata sejenak.
Jadi selama ini… yang Allah lihat bukan kambingnya, bukan sapinya…
tapi hati yang mau melepaskan.
Pengajian hampir selesai.
Orang-orang mulai bergerak, merapikan mukena, saling tersenyum.
Tapi aku masih duduk diam.
Di dalam hati, seperti ada percakapan kecil yang belum selesai.
“Benarkah aku tidak mampu…
atau aku hanya belum mencoba?”
Sepuluh ribu sehari…
Bukan angka yang besar.
Tapi kalau disertai niat… bisa menjadi jalan menuju ibadah yang besar.
Aku bangkit perlahan.
Langkahku terasa berbeda.
Lebih ringan… tapi juga lebih sadar.
Mungkin… tahun ini bukan sekadar mendengar tentang qurban.
Tapi mulai menabung niat, menabung ikhtiar.
Sedikit demi sedikit.
Pelan tapi pasti.
Karena ternyata…
jalan menuju qurban itu tidak selalu besar di awal,
tapi bisa dimulai dari hal kecil yang dijaga dengan istiqamah.
Dan dalam hati aku berbisik pelan:
“Ya Allah…
jika Engkau beri rezeki, mampukan aku untuk berbagi.
Jika Engkau beri kelapangan, lapangkan juga hatiku untuk memberi.
Dan jika suatu hari aku bisa berqurban…jadikan itu bukan sekadar ibadah, tapi tanda bahwa aku mulai belajar mencintai-Mu.”
Kamis, 24 April 2026
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan