Nurbaiti

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Duduk Manis Menuju Langit (lanjutan)

Duduk Manis Menuju Langit (Lanjutan)

Syahbaty

Aku duduk di kursi 10A, posisi yang selalu kuusahakan setiap kali naik pesawat. Dekat jendela. Bagiku, jendela kecil pesawat bukan sekadar lubang kaca. Ia seperti pintu rahasia menuju perenungan.

Jika kutoleh ke kiri, sayap pesawat terbentang gagah, seolah ikut mengajari manusia bagaimana cara percaya pada keseimbangan. Aku pingin melihat langsung penerapan hukum Bernoulli pada sayap pesawat.

Di ujungnya, langit terbuka luas tanpa batas. Dan di sanalah pertunjukan Allaah dimulai. Langit dihiasi awan putih dan kelabu. Indah sekali.

Sebagian tampak seperti kapas yang disusun rapi. Sebagian lain menjulang seperti gunung-gunung lembut yang tidak memiliki kaki untuk berpijak. Ada juga yang menyerupai busa di atas permukaan air saat kita mencuci baju, ringan, mengembang, dan terasa akrab dengan kehidupan sehari-hari.

Aku terpaku. Awan-awan itu bergerak melawan arah pesawat, atau mungkin sebenarnya kamilah yang melaju menembus diamnya mereka. Sulit membedakan mana yang bergerak dan mana yang diam ketika berada di angkasa.

Kadang pesawat memasuki hamparan awan putih, dunia luar seketika menghilang. Hanya kabut terang memenuhi jendela. Lalu tiba-tiba berubah gelap ketika kami menembus awan kelabu.

Beberapa saat kemudian suara pilot terdengar, memberi informasi bahwa pesawat sedang melewati kondisi cuaca kurang baik. Dimohon kepada semua penumpang untuk menegakkan kursi, mengikat sabuk pengaman, dan tidak ke toilet sampai lampu tanda "aman" menyala.

Tak lama… Pesawat bergetar. Sekali. Dua kali. Lalu lebih kuat.

Rasanya seperti mobil yang tiba-tiba masuk lubang di jalan. Tubuhku ikut terangkat sedikit dari kursi. Jantungku refleks berdegup lebih cepat. Hamparan angkasa gelap. Tak ada awan putih. Awan hitam seperti asap membuatku semakin takut. Apakah umurku sampai di sini? Ajalku sudah tiba?

Aku langsung beristighfar. “Astaghfirullah… astaghfirullah… astaghfirullah…”

"Laailaahaillallaah....,Muhammadarrasuulullah...." Ucapku agak keras. Orang yang duduk di kursi depan dan belakangku, mengucapkan hal yang sama denganku.

Getaran datang lagi. Kali ini lebih terasa. Tanganku otomatis mencengkeram sandaran kursi. Pikiran manusia memang unik, dalam kondisi seperti itu, semua kemungkinan langsung terlintas tanpa diundang.

Apakah akan terjadi sesuatu? Aku tidak ingin membiarkan pikiranku berlarut. Sejenak aku mengingat, tadi sudah shalat Hajat, sudah membaca do'a ketika naik pesawat.

Segera kubuka Al-Qur’an mini yang sejak tadi berada di pangkuanku. Dunia di sekelilingku perlahan memudar. Suara mesin, getaran pesawat, bahkan orang-orang di sekitar seperti menjauh.

Aku sibuk sendiri. Membaca. Melantunkan ayat demi ayat. Bukan sekadar membaca, tapi seperti sedang berpegangan.

Di ketinggian ribuan meter itu, aku sadar satu hal: manusia tidak pernah benar-benar mengendalikan perjalanan. Kita hanya duduk, memasang sabuk pengaman, lalu menyerahkan sisanya kepada Yang Maha Menjaga langit dan bumi.

Kupasrahkan hidup dan matiku hanya kepada Allaah semata. Tak ada daya upaya yang bisa dilakukan oleh seorang hamba kecuali memasrahkan diri kepada sang Pencipta. Catatan takdir sudah Allaah tulis di Lauh Mahfudz.

Ketika aku pasrah, Setiap ayat yang kubaca terasa berbeda. Lebih hidup. Lebih dekat. Seolah kalimat-kalimat itu turun langsung menenangkan hatiku.

Getaran masih terasa sesekali. Namun anehnya, rasa takut perlahan berubah menjadi tenang. Karena di antara langit dan bumi, aku menemukan posisi paling jujur seorang manusia, seorang hamba yang hanya bisa berharap:

“Ya Allah… selamatkanlah perjalanan kami.”

Aku terus tilawah, sesekali berzikir …hingga tanpa terasa awan-awan mulai menipis, cahaya kembali terang, dan langit perlahan membuka dirinya lagi. Seperti memberi tahu: bahwa setelah guncangan, selalu ada ketenangan yang Allah siapkan.

Para penumpang termasuk aku merasa lega dengan rasa syukur, "Alhamdulillah" ketika pesawat sudah mendarat di lapangan bandara Sukarno-Hatta, Cengkareng.

Kutulis ini, Sabtu 28 Maret 2026, Dalam pesawat kursi no. 10 A

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post