Nurbaiti

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Kopi Rasa Fisika

Rasa di Balik Jatuhnya Secangkir Kopi

Kami masuk ke salah satu kedai kopi yang paling ramai di pusat kota Bireuen. Entah kenapa, tempat itu selalu penuh penikmat kopi. Cita rasanya… seolah sudah punya nama sendiri di hati para pelanggan.

Kami memilih duduk di meja pojok—bukan tanpa alasan.

Aku memperhatikan sekeliling.

Dan saat itu aku sadar…

aku satu-satunya wanita di kedai kopi itu.

Di Aceh, wanita jarang keluar rumah hanya untuk sekadar menikmati kopi di kedai. Mereka lebih sering membuat kopi sendiri di rumah, sambil menjalani aktivitas harian—terutama di sawah.

Lalu aku?

Aku tersenyum kecil.

Saat itu aku memang sedang tidak di rumah. Aku sedang dalam perjalanan silaturahmi yang cukup jauh—lima jam dari pusat ibu kota Aceh.

Jadi… rasanya wajar saja jika aku menjadi satu-satunya wanita di sana.

Sedikit malu, iya.

Tapi aku mencoba tenang.

Toh, aku tidak dikenal di sana. Kalaupun ada yang mengenal suamiku, mereka tahu kami hanya sedang mudik, dan beberapa hari lagi akan kembali ke Jakarta.

Kami memesan kopi tanpa gula, ditemani ketan dengan selai—salah satu makanan favorit di sana.

Sambil menunggu pesanan datang, mataku mulai “bekerja”.

Bukan mengobrol.

Bukan memainkan ponsel.

Tapi memperhatikan…

setiap gerakan abang yang khusus meracik kopi itu.

Kopi yang sudah diseduh itu tidak langsung disajikan.

Ia diangkat tinggi—tinggi sekali—lalu dituangkan ke wadah di bawahnya.

Kemudian diangkat lagi… dan dituangkan lagi.

Berulang-ulang.

Aku menahan senyum.

“Ini abang jual kopi… atau lagi praktikum fisika?” 😄

Rasa penasaranku tak tertahan.

“Bang… kenapa kopinya diangkat tinggi-tinggi begitu? Apa ada pengaruhnya ke rasa?”

Abangnya tersenyum.

“Ibu memperhatikan ya? Jarang loh ada yang tanya begitu…”

Aku ikut tersenyum.

“Menurut saya, itu tidak mudah. Pasti ada keahlian khusus.”

Ia mengangguk pelan.

Dari beberapa abang penjual kopi yang pernah kutanya, jawabannya hampir sama:

Agar muncul busa

Agar panasnya berkurang

Agar rasa lebih keluar

Agar kopi lebih “hidup”

Aku kembali ke tempat duduk.

Menyeruput kopi perlahan.

Dan… benar saja.

Rasanya berbeda.

Lebih kuat. Lebih terasa.

Aku tertawa kecil dalam hati.

“Pantes… beda sama kopi buatanku di rumah…” 😅

Sebagai guru fisika, pikiranku mulai berjalan.

Bukankah ini ada hubungannya dengan gerak jatuh bebas?

Semakin tinggi kopi diangkat, semakin besar kecepatannya saat jatuh.

Dan saat mencapai wadah di bawah, gerakan itu membuat campuran kopi menjadi lebih merata.

Udara masuk.

Busa terbentuk.

Rasa pun ikut “terbangun”.

Tanpa sadar…

fisika hadir di dalam secangkir kopi.

Aku kembali menatap gelas di tanganku.

Hangatnya terasa sampai ke dalam.

Dan hari itu aku belajar sesuatu yang sederhana…

Sesuatu yang terlihat biasa…

bisa menjadi luar biasa…

jika diperlakukan dengan cara yang berbeda.

Sejak saat itu, aku punya dua pilihan:

Belajar membuat kopi seperti abang Aceh…

atau tetap menikmati saja hasil racikan mereka.

Dan sejujurnya…

aku memilih yang kedua 😄

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post