Ketika Guru Ikut Menjadi Penulis
Hari ini, aku senang. Pagi yang cerah, langit NASA terlihat begitu indah. Melihat ratusan anak-anak duduk manis di lapangan membuat hatiku hangat.
Literasi hari ini sedikit berbeda dengan literasi setiap minggunya. Tidak di kelas, tapi di lapangan. Angin pagi berhembus pelan, membawa suara bisik-bisik kecil dari barisan siswa yang duduk rapi. Ada yang serius, ada yang menoleh kanan kiri, ada juga yang masih berusaha mengusir kantuk.
Setiap kelas memiliki perwakilan. Hari ini, satu orang dari setiap kelas membacakan hasil tulisan mereka Kamis yang lalu.
Hup… sebelumnya, setelah kata sambutan dari wakil kesiswaan, aku justru diberi kesempatan pertama untuk membacakan tulisan tanganku sendiri.
Aku sempat tersenyum kecil. Biasanya aku yang menilai tulisan mereka. Hari ini, aku seakan ikut diuji di depan mereka. 😁
Di atas panggung, aku berdiri. Buku tulis sederhana berada di tanganku. Bukan kertas print rapi, bukan naskah resmi. Sama seperti milik mereka. Ditulis tangan. Dengan tinta yang kadang menebal, kadang memudar. Kadang biru kadang hitam. Ach...
Aku ingin mereka tahu, guru juga belajar. Aku menarik napas pelan, lalu mulai membaca. Tentang sebuah perjalanan hampir dua minggu yang lalu. Tentang keberangkatan dari Aceh menuju Jakarta bersama suami. Tentang koper yang tak terlalu penuh, mukena yang kugenggam erat, dan Al-Qur’an kecil yang menemaniku sejak dari rumah.
Beberapa anak mulai mengangkat kepala. Mungkin mereka berpikir, “Oh… Bu Guru juga nulis cerita?”
Aku lanjut membaca.
Tentang bandara Sultan Iskandar Muda, tentang pesawat yang delay, tentang snack kecil yang tak cukup mengobati kecewa, dan tentang rasa kantuk yang datang diam-diam setelah membaca beberapa ayat Al-Qur’an.
Di barisan depan, beberapa siswa mulai tersenyum. Mungkin di bagian aku ngantuk. Atau mungkin karena mereka merasa cerita itu dekat, tidak dibuat-buat.
Suasana lapangan perlahan berubah. Tidak seperti upacara. Lebih seperti seseorang sedang bercerita kepada keluarga besarnya.
Ketika sampai pada bagian pesawat bergetar hebat, aku sempat berhenti sejenak.
Aku membaca bagaimana pesawat terasa seperti jatuh dari ketinggian. Bagaimana istighfar keluar tanpa disuruh. Bagaimana tanganku membuka Al-Qur’an dan memilih sibuk bertilawah daripada sibuk takut.
Aku sempat mengangkat pandangan.
Beberapa siswa memegang dada mereka, mungkin ikut merasakan tegangnya cerita.
Dan di saat itu aku sadar…tulisan sederhana ternyata bisa memindahkan perasaan.
Aku menutup buku perlahan. Diam sejenak. Lapangan hening.
Lalu tepuk tangan datang, bukan karena diminta, tapi karena mereka benar-benar hadir di dalam cerita itu.
Aku tersenyum. Hari ini aku belajar sesuatu: Literasi bukan sekadar menulis di buku. Literasi adalah keberanian membagikan pengalaman hidup, agar orang lain menemukan makna di dalamnya.
Dan pagi ini, di bawah langit yang cerah, aku tidak hanya menjadi guru.
Aku menjadi penulis… bersama murid-muridku.
NASA, Pondok Bambu, Ruang Guru Lantai Dua, Kamis, 9 April 2026
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
