Nurbaiti

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Anak Terlalu Jujur

Anak Terlalu Jujur

Syahbaty

 

Aku berdiri di depan kelas.

Tangan bersedekap, wajah setenang pengawas profesional… padahal dalam hati, aku lagi menebak-nebak:

Hari ini… siapa yang bakal bikin aku senyum diam-diam?

Jam baru berjalan lima belas menit.

Anak-anak mulai menunjukkan “versi asli” mereka.

Ada yang dari tadi nulis tanpa henti, kayak lagi dikejar deadline hidup.

Ada yang menatap soal lama sekali… seolah berharap angka-angka itu berubah jadi huruf, lalu jadi puisi.

Dan ada juga… yang menatap kosong ke depan.

Entah melihat masa depan, atau justru kehilangan arah di soal nomor dua.

Aku berjalan pelan di antara bangku.

Sepi… tapi penuh cerita.

Sampai akhirnya, aku berhenti di satu meja.

Selembar kertas jawaban.

Tulisan rapi.

Tapi… ada satu kalimat yang langsung membuat langkahku tertahan.

“Maaf Bu, saya sudah berusaha, tapi otak saya lagi loading…”

Aku menahan senyum.

Loading…

Anak zaman sekarang memang beda.

Kalau dulu mungkin nulis, “Saya tidak tahu, Bu.”

Sekarang… bahkan otaknya pun punya alasan teknis.

Aku lanjut membaca.

Di nomor berikutnya:

“Saya paham sedikit, tapi kayaknya sedikit banget.”

Lalu di bawahnya lagi:

“Ini saya jawab pakai feeling ya Bu, semoga feeling saya tidak PHP.”

Aku hampir tertawa.

Tapi kutahan. Profesional, kataku dalam hati.

Aku melangkah lagi.

Beberapa meja berikutnya…

aku menemukan “kejujuran” versi lain.

“Bu, sebenarnya saya belajar… tapi pas dibuka soalnya, kok kayak belum pernah ketemu ya?”

Dan satu lagi, yang ini… sederhana, tapi entah kenapa bikin dada agak hangat:

“Saya janji habis ini akan belajar lebih rajin.”

Aku diam sejenak.

Di ruangan ini, bukan cuma jawaban yang sedang ditulis.

Ada rasa cemas, ada harapan, ada usaha… yang mungkin belum sempurna.

Aku kembali ke depan kelas.

Melihat mereka lagi.

Yang tadi terlihat santai… ternyata sedang menggigit ujung pulpen.

Yang dari tadi menunduk… pelan-pelan mulai menulis sesuatu.

Mungkin benar, tidak semua anak langsung bisa menjawab soal dengan benar.

Tapi hari ini… mereka menjawab dengan sesuatu yang lebih jujur.

Usaha.

Dan di antara angka-angka yang tak selalu mereka mengerti,

aku menemukan hal yang jarang diajarkan di buku:

Keberanian untuk mengakui.

Aku tersenyum kecil.

Dalam hati aku berkata,

“Tidak apa-apa… yang penting kalian tidak berhenti mencoba.”

Di sudut kertas itu,

emoji polos seolah ikut berbicara tanpa suara:

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post