Nurbaiti

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Cerita di Jembatan Kepala Gunung

Cerita di Jembatan Kepala Gunung

Perjalanan setelah shalat subuh sungguh lega. Udara pagi yang masih sejuk menyapa wajah lewat celah kaca mobil, jalanan lancar tanpa kemacetan yang biasanya jadi momok mudik. Kali ini bukan mudik biasa seperti tahun-tahun sebelumnya.

Kami akan melanjutkan perjalanan ke Bireuen, kampung suami, untuk mengadakan tahlilan. Maklum, kedua mertuaku sudah berpulang kerahmatullah. Beberapa bulan yang lalu, adik ipar satu-satunya juga tak luput dari panggilan-Nya. Kini suamiku tinggal seorang diri di dunia ini, tak ada lagi saudara kandung yang bisa dia ajak berbincang santai.

"Kalau dilihat dari fisika, lho sayang," suami mulai membuka pembicaraan sambil menjaga kecepatan mobil di batas aman, "jalan menurun dari jembatan itu membuat gaya gravitasi bekerja lebih kuat. Kalau ada kendaraan yang tiba-tiba berhenti, kita kan butuh jarak pengereman yang lebih panjang daripada di jalan rata." Aku hanya tersenyum mendengar penjelasan ilmiah suami yang selalu muncul kapan saja, walau terkadang pas-pasan waktu nya, tapi unik juga sih.

Tiba-tiba, ketika kami melintas jembatan di daerah Kepala Gunung sebuah mobil Brio hitam tiba-tiba muncul dari arah kanan, berbelok tanpa lampu sein sama sekali. Mobil di depan kami, sebuah sedan putih, langsung mengerem dadakan. Padahal kami baru saja meluncur dari atas jembatan.

Gaya inersia yang diajarkan di sekolah dulu benar-benar bekerja: mobil kami seakan terseret maju walau rem sudah diinjak dengan penuh kekuatan. "Innalillahi wainna ilaihii raaji'uun," ucap kami berdua serempak saat benturan tak terhindarkan terjadi.

Perjalanan yang hampir sampai ke vtujuan malah berbalik jadi petualangan yang tak terduga dan menghabiskan banyak waktu.

Kami langsung berhenti di pinggir jalan, begitu juga pemilik sedan putih. Dari mobil itu turun seorang bapak dengan kemeja abu-abu tua yang tampak cukup tua, usianya kira-kira sejajar dengan suamiku. Diikuti oleh istrinya yang mengenakan gamis hitam dengan hijab yang rapi. Aku segera turun menyusul suami, hati sudah siap menghadapi segala kemungkinan.

Yang mengejutkan, tak ada satu pun yang menunjukkan emosi marah. Masing-masing hanya melihat kondisi mobilnya sendiri dengan tenang. Sedan putih itu punya bagian bumper depan yang sedikit bonyok, dan besi pelintang di belakangnya sedikit bengkok seperti kerangka tulang yang sedikit menyimpang. Sementara Innova hitam milik abang sepupu yang kami kendarai juga tidak luput – bagian depan kanan lecet parah, kayak luka bakar ringan aja sih kalau dilihat dari sisi medis, hehehe.

Urusan administrasi jadi panjang lebar. Malangnya, mereka mengakui bahwa kami tidak bersalah sama sekali – penyebab utama adalah mobil Brio yang sudah menghilang tak berbekas. Tapi mereka tetap meminta kami bertanggung jawab untuk memperbaiki mobilnya. Alangkah susahnya kalau kita jadi sok benar di tengah jalan kan? Seperti yang diajarkan dalam ajaran Islam, lebih baik berkorban sedikit daripada membuat masalah jadi lebih besar.

Sayangnya, tak ada satu bengkel pun yang buka. Masih hari raya ke tiga, suasana lebaran masih sangat kental di seluruh pelosok Aceh – tukang bengkel juga pasti sedang sibuk silaturahmi atau berbagi kebahagiaan dengan keluarga.

Solusi yang ditemukan? Masing-masing menghubungi teman yang bekerja di bengkel. Hasilnya jadi bikin sedikit bingung: teman kami yang datang langsung melihat kerusakan menyatakan bahwa biaya perbaikan maksimal sekitar 1 juta rupiah. Sedangkan pihak mereka hanya mengirim foto dan memperkirakan biaya sekitar 1,3 juta rupiah.

"Apalagi ya sayang," suami menjelaskan padaku dengan nada pasrah, "kalau kita menghitung energi kinetik saat benturan, kerusakan memang bisa berbeda dari perkiraan karena faktor material dan sudut benturan. Tapi ya udahlah, kita tidak usah memperpanjang urusan ini. Lebih baik kita bayar sesuai permintaan mereka saja."

Kami akhirnya membayar sesuai permintaan: 500 ribu tunai dan sisanya 800 ribu melalui transfer. Tak hanya itu, mobil Innova yang kami pinjam juga harus segera dirawat ke "dokter" di rumah bengkel – biayanya juga sekitar satu juta rupiah. Jadi totalnya dua juta lebih terbuang begitu saja. Habis duit, tapi hati jadi lega kan?

Yaa Allah... Mudah-mudahan Allah memberikan kami rezeki yang halal, melimpah, dan penuh berkah. Aamiin.

Aku duduk di samping suami yang sedang menyetir pulang, merenung sejenak. Sebenarnya awalnya kami berencana naik bis kecil. Saat itu kami lagi antri pesan tiket di terminal, saat sedang bersilaturahmi ke rumah kakak sepupu, di Tanjong. Obrolan suami dengan sopir bis kecil malah terdengar oleh kakak sepupu.

"Kenapa harus naik bis, padahal kita punya dua mobil nganggur di rumah! Pakai aja salah satu, terserah mau yang mana – Innova atau Avanza aja!" kata Cut Lem dengan suara yang penuh semangat. Tidak hanya dia, Kak Ida – istrinya – juga ikut mendukung dengan senyum hangat.

Akhirnya kami sepakat untuk membatalkan tiket dan meminjam Innova milik mereka. Entah itu takdir atau ujian kecil dari-Nya, tapi yang pasti – setiap kejadian di dunia ini punya hikmahnya sendiri. Seperti yang kita tahu, alam semesta berjalan sesuai dengan hukum yang telah Allah tetapkan – baik hukum fisika, maupun hukum yang mengatur kehidupan kita sebagai makhluk-Nya.

Cerita ini kutulis dalam perjalanan, Senin 3 Syawal 1447 H

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post