Kekasihmu yang Telah Pergi
Aku membaca tulisanmu dalam diam.
Ada rasa haru yang sulit dijelaskan, antara sedih, takjub, dan… iri yang pelan.
Ternyata benar, tidak semua kepulangan adalah kehilangan.
Sebagian adalah kepulangan yang Allah siapkan dengan begitu rapi, begitu lembut, seolah dunia hanya menjadi persinggahan terakhir sebelum seorang hamba benar-benar dipanggil pulang.
Kekasihmu telah menghadap sang khaliq, pergi dalam rangkaian kebaikan: langkah menuju ibadah, perjalanan silaturahim, lalu sakit yang menjadi penghapus dosa. Seakan Allah membersihkan satu per satu, sebelum mempertemukannya dengan kehidupan yang lebih kekal.
Dan di titik ini, hati justru gemetar…
bukan hanya karena kehilangan, tetapi karena sebuah pertanyaan yang diam-diam hadir:
Bagaimana nanti akhir perjalanan kita?
Apakah langkah terakhir kita sedang menuju Allah… atau justru menjauh?
Apakah sakit kita kelak menjadi penggugur dosa… atau hanya keluhan tanpa makna?
Apakah nama kita akan disebut dengan doa-doa penuh harap… atau sekadar kenangan yang cepat berlalu?
Ya Rabb…
kami sering merasa masih punya waktu panjang, padahal kematian tidak pernah menunggu kesiapan manusia.
Jika Engkau menjemput kami nanti, jemputlah saat hati sedang kembali kepada-Mu.
Jemputlah ketika lisan masih mampu menyebut nama-Mu.
Jemputlah dalam keadaan Engkau ridha, bukan saat kami lalai dari mengingat-Mu.
Kekasihmu telah pulang membawa kebaikan yang membuat kami iri, iri pada akhir yang indah, iri pada cara Allah memuliakan hamba-Nya tanpa banyak diketahui manusia.
Maka hari ini kami belajar, bahwa hidup bukan tentang panjangnya usia, tetapi tentang bagaimana Allah menutup kisahnya.
Untukmu, sahabatku…
Air mata adalah cinta yang belum selesai diucapkan. Dan Allah mengetahui setiap rasa yang tak mampu dijelaskan oleh kata.
Semoga Allah menenangkan hatimu, menguatkan sabarmu, dan mengganti setiap kehilangan dengan kedekatan yang lebih dalam kepada-Nya.
Dan semoga suatu hari nanti, ketika giliran kita tiba, kita juga dipanggil pulang dengan cara yang membuat orang-orang yang ditinggalkan berkata:
“Betapa beruntungnya ia…”
Allahummaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fu’anhu.
Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
Baiti Jannati, Malaka Sari, Jakarta Timur, Kamis 2 April 2026
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan