Nurbaiti

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Ubi dan Tila

Ubi dan Tila

Syahbaty

Pagi itu aku menyuruh anakku pergi ke pasar kecil dekat ujung gang. “Tolong beli boh ubi ya…” kataku santai sambil tetap membereskan dapur. Karena dari tadi kami ngobrol pakai bahasa Aceh, aku merasa instruksiku sudah sangat jelas. Ia pun berangkat dengan langkah penuh percaya diri, sementara aku membayangkan singkong rebus hangat untuk teman minum kopi sore nanti.

Sepuluh menit kemudian, ia pulang sambil menyerahkan kresek hitam dengan wajah bangga seperti baru menyelesaikan misi negara. “Ini, Bun.” Aku membuka plastik itu perlahan… lalu terdiam. Di dalamnya berjajar manis beberapa ubi jalar ukuran sedang. Aku mengernyit bingung. “Kok ubi neuk?” tanyaku spontan. Anakku langsung menjawab polos, “Lah tadi Bunda bilang ubi.” Aku menepuk jidat pelan. “Ya Allah… Bunda bilang boh ubi… maksudnya singkong. Tadi kita kan ngomong Aceh…”

Anakku malah ikut bingung. “Terus kalau ubi itu bahasa Acehnya apa?” tanyanya tanpa rasa bersalah sedikit pun. Aku menahan senyum yang mulai merayap. “Boh tila…” jawabku sambil tertawa kecil. Ia langsung melongo beberapa detik, lalu ikut ngakak. Dan pagi itu aku sadar, ternyata yang bikin lucu bukan salah belinya… tapi rasa percaya diri kami masing-masing saat merasa paling benar. 😂

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post