Meja yang Penuh, Kepala yang Lenih Penuh
Meja yang Penuh, Kepala yang Lebih Penuh
Oleh Syahbaty
Selesai upacara, kami kembali ke ruang guru dengan langkah yang sedikit lebih ringan. Matahari masih tinggi, tapi energiku rasanya sudah separuh tertinggal di lapangan tadi.
Aku duduk di kursiku.
Dan… langsung terdiam.
Mejaku penuh.
Bukan sekadar penuh — tapi sesak.
Karya PKWU kelas XII dari bahan limbah plastik memenuhi hampir seluruh permukaan meja. Ada yang berbentuk tas, pot bunga, tempat tisu, bahkan ada yang bentuknya masih misterius tapi penuh usaha. Di sela-selanya, buku Fisika kelas X bertumpuk berlapis-lapis, seperti antre menunggu keadilan untuk diperiksa.
Aku menarik napas panjang.
“Ya Allah… ini mulai dari mana dulu?”
Tanganku diam. Mataku berpindah dari satu tumpukan ke tumpukan lain.
Di kepalaku tiba-tiba muncul daftar lain yang tidak kalah panjang.
Aku baru saja mendaftar kelas “Terapi Menulis Afirmasi.”
Video materinya sudah dikirim. Notifikasinya rajin muncul. Tapi… belum semua kutonton. Bahkan mungkin belum separuh.
Aku tersenyum kecil.
Banyak sekali yang ingin kulakukan.
Mengajar dengan baik.
Menilai tugas anak-anak dengan adil.
Menulis buku.
Ikut kelas menulis.
Memperbaiki diri.
Menjadi versi terbaik dari diriku.
Masalahnya satu.
Waktu tetap dua puluh empat jam.
Dan sepertinya… aku belum benar-benar pintar mengaturnya.
Aku tertawa pelan sendiri.
“Kayaknya aku ini bukan kekurangan waktu… tapi kebanyakan mau.”
Namun di balik keluhan kecil itu, ada satu hal yang kusadari.
Mungkin ini bukan tanda aku buruk dalam manajemen waktu.
Mungkin ini tanda bahwa hatiku masih hidup — masih ingin belajar, masih ingin bertumbuh, masih ingin memberi manfaat.
Yang perlu diperbaiki bukan mimpinya.
Tapi ritmenya.
Aku menatap lagi meja yang penuh itu.
Tiba-tiba rasanya tidak semenakutkan tadi.
Satu buku dulu.
Satu tugas dulu.
Satu video dulu.
Karena ternyata hidup bukan tentang menyelesaikan semuanya sekaligus, tapi setia menyelesaikan yang ada di depan mata.
Aku merapikan satu tumpukan buku.
Pelan.
Tidak tergesa.
Dan untuk pertama kalinya hari itu, aku merasa… mungkin aku tidak sedang terlambat. Aku hanya sedang belajar berjalan dengan tempo yang Allah pilihkan.
Baiti Jannati, Swnin 6 April 2026
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan