Nurbaiti

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Kode Rahasia di Balik Pintu

Kode Rahasia di Balik Pintu Kelas

Aku berdiri di luar pintu kelas.

Tidak langsung masuk. Sengaja.

Dari celah kaca kecil di pintu, kulihat mereka sedang serius — atau setidaknya terlihat serius — mengerjakan soal-soal fisika. Kepala menunduk, buku terbuka, pena bergerak. Pemandangan yang seharusnya membuat hati guru tenang.

Tapi hanya butuh lima detik untuk menyadari sesuatu.

Ada suara nyanyian.

Pelan… lalu makin kompak.

Bukan diskusi.

Bukan rumus.

Bukan juga keluhan tentang soal.

Mereka sedang bernyanyi.

Aku menahan tawa di luar.

Anak-anak ini selalu punya energi cadangan yang entah datang dari mana.

Dengan perlahan kubuka pintu.

Cklek.

Seperti adegan film yang tombolnya ditekan bersamaan, lagu itu langsung berubah.

Serempak.

Tanpa aba-aba.

“Shallallahu ‘ala Muhammad…”

Aku berhenti di ambang pintu.

Mereka bernyanyi dengan wajah paling polos yang pernah ada dalam sejarah kepolosan siswa SMA.

Aku menatap mereka beberapa detik.

Mereka menatap balik… terlalu tenang untuk ukuran anak yang baru saja ketahuan.

Aku akhirnya tertawa kecil.

“Kok bisa sebegitunya ya…?” tanyaku jujur.

Tanpa merasa bersalah sedikit pun, Rafes menjawab cepat dari bangkunya.

“Ada setting-nya kok, Bu.”

Kelas langsung meledak tertawa.

Aku ikut tertawa. Mau marah juga rasanya sayang.

Rafes memang spesialis suasana cair. Anak itu punya bakat langka: bisa serius saat belajar, tapi juga ahli mengubah kelas jadi panggung komedi dadakan.

Belum selesai tawanya reda, Rafes dan beberapa temannya membuat kode rahasia dengan jemari mereka — membentuk tanda hati di udara.

Aku pura-pura menghela napas panjang, lalu membalas dengan dua jempol tinggi.

Sorak kecil terdengar.

Entah sejak kapan kelas fisika berubah jadi tempat tukar kode cinta versi anak SMA.

Kadang aku berpikir, mungkin mereka tidak selalu ingat rumus percepatan atau hukum Newton. Tapi aku berharap mereka akan ingat satu hal:

bahwa pernah ada kelas di mana mereka boleh tertawa, belajar, dan menjadi diri sendiri… tanpa takut dihakimi.

Aku melangkah masuk.

“Oke, penyanyi religi dadakan,” kataku sambil meletakkan buku di meja.

“Sekarang kita kembali ke hukum fisika. Karena gravitasi tetap berlaku, walaupun kalian barusan hampir melayang.”

Tawa kembali pecah.

Dan di tengah riuh itu, aku sadar —

kelas yang hidup memang sedikit berisik,

tapi justru di situlah pembelajaran diam-diam terjadi.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post