Aku di NASA
Bab -1
Rotasi
Aku tidak pernah menyangka akan begitu lama berada di sini.
Awalnya, SMA 61 hanyalah nama sekolah yang tertulis dalam surat tugas. Sebuah tempat baru yang harus kutuju, seperti halnya tugas-tugas lain yang pernah datang dalam hidupku.
Namun, jika kuingat kembali, kisah ini sebenarnya tidak dimulai dari gerbang sekolah. Tidak juga dari ruang guru atau ruang kelas. Kisah ini dimulai pada sebuah sore di akhir Desember 2014.
Sore itu telepon genggamku berdering.
Seorang teman mengabarkan sesuatu yang sedang ramai diperbincangkan para guru saat itu.
"Kita kena rotasi."
Aku terdiam.
Benar-benar diam.
Mungkin hanya beberapa detik, tetapi rasanya seperti jauh lebih lama. Di ujung telepon, temanku sampai memanggil-manggil namaku beberapa kali. Barangkali ia khawatir aku pingsan setelah mendengar kabar itu. Untung tidak. Aku hanya sedang berusaha mencerna sebuah kata yang saat itu begitu viral di kalangan guru.
Rotasi.
Satu kata yang sederhana, tetapi mampu membuat banyak guru ketar-ketir.
Di ruang guru, di kantin, di sela-sela rapat, kata itu sering muncul dalam percakapan. Ada yang penasaran. Ada yang pasrah. Ada yang berharap namanya tidak tercantum dalam daftar. Dan aku termasuk yang diam-diam berharap tidak perlu berpindah.
Tetapi harapan tidak selalu sejalan dengan keputusan.
Kebijakan sudah ditetapkan. Guru-guru tertentu akan dipindahkan ke sekolah lain. Tidak ada ruang untuk menolak. Tidak ada kolom keberatan. Mau tidak mau, suka tidak suka, kami harus siap menjalankannya.
Terhitung mulai 1 Januari 2015, enam orang guru dari sekolah kami mendapatkan penugasan baru.
Aku salah satunya.
Namaku tercantum sebagai guru yang ditempatkan di SMA 61 Jakarta. Sekolah yang saat itu masih asing bagiku.
Sekitar lima kilometer dari rumah.
Tidak terlalu jauh memang.
Tetapi yang membuat pikiranku penuh bukanlah jarak.
Melainkan perpisahan.
Aku memikirkan anak-anak.
Murid-murid yang baru satu semester kubersamai. Murid-murid yang sedang kupersiapkan menghadapi ujian. Murid-murid yang sudah mulai kukenal satu per satu karakternya.
Aku sudah menyusun materi-materi penting. Sudah menyiapkan strategi belajar. Sudah membayangkan bagaimana kami akan menyelesaikan tahun pelajaran bersama.
Ternyata Allah memiliki rencana lain.
Yang berat bukan hanya bagiku.
Anak-anak pun merasakan hal yang sama.
Dalam waktu yang hampir bersamaan, mereka kehilangan enam guru sekaligus. Sebagian terkejut. Sebagian bertanya-tanya. Sebagian lagi mencoba menerima meskipun tidak mudah.
Saat itu aku belajar satu hal.
Tidak semua perpisahan datang karena kita siap.
Kadang perpisahan datang karena memang sudah waktunya.
Dan tugas kita hanyalah menerima dengan ikhlas.
Maka perlahan aku belajar percaya bahwa keputusan ini pasti membawa kebaikan. Bagi guru. Bagi murid. Bagi sekolah yang kutinggalkan. Dan bagi sekolah yang akan kutuju.
SMA 61. Atau yang kemudian lebih akrab kusapa dengan nama NASA. Sebuah sekolah yang saat itu hanya kukenal dari cerita. Sekolah yang memiliki reputasi baik di Jakarta Timur. Sekolah yang membuatku penasaran sekaligus gugup.
Aku belum tahu siapa teman-temanku nanti. Aku belum tahu seperti apa murid-muridnya. Aku belum tahu bahwa sekolah ini kelak akan memberiku begitu banyak cerita.
Banyak sekali yang aku tidak tahu, selain hanya tahu satu hal, yaitu Pada awal Januari 2015, aku akan melangkah ke tempat yang baru. Dan tanpa kusadari, langkah kecil itu akan menjadi awal dari perjalanan panjang yang mengubah banyak hal dalam hidupku.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan