Nurbaiti

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Ketika Gawai Diminta Istirahat Cantik di Sekolah

Ketika Gawai Diminta Istirahat Cantik di Sekolah

Ketika Gawai Diminta “Istirahat Cantik” di Sekolah

Oleh Nurbaiti

 

“Bu, serius nih HP gak boleh dipakai terus di sekolah?”

Pertanyaan itu mungkin sedang berseliweran di kepala banyak anak-anak sekarang 😄

Maklum saja. Gawai sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Bangun tidur pegang HP, mau tidur pegang HP lagi. Kadang yang paling sering disentuh bukan gagang pintu rumah, tapi layar ponsel 😭

Belakangan ini, Dinas Pendidikan DKI Jakarta mengeluarkan aturan tentang pembatasan penggunaan gawai di sekolah melalui Surat Edaran bernomor : e-0001/SE/2026.

Ketika pertama membaca informasinya, saya tersenyum sendiri.

Bukan karena aturannya lucu. Tapi karena saya langsung teringat suasana kelas akhir-akhir ini. Guru sedang menjelaskan materi dengan penuh perjuangan. Di depan kelas menerangkan dengan semangat 45. Kadang ditambah bonus suara serak dan tenggorokan kering. Sementara di bangku siswa, beberapa pasang mata terlihat fokus ke depan.

Namun entah fokus pada guru… atau fokus menahan keinginan membuka HP 🤣. Kadang saya membayangkan isi kepala mereka saat belajar:

“Notifikasi tadi siapa ya?”

“Story-ku udah dilihat belum?”

“Video yang tadi belum selesai…” 😭

Akhirnya materi pelajaran hanya lewat sebentar: masuk telinga kanan, lalu melambaikan tangan keluar lewat telinga kiri. Sayang sekali.

Padahal di dalam kelas sedang terjadi proses penting: belajar memahami hidup, ilmu, dan masa depan. Bukan sekadar menghafal rumus atau mencatat teori.

Saya pribadi tidak membenci HP. Justru sebaliknya. Gawai sangat membantu pekerjaan guru dan siswa. Banyak tugas lebih mudah dikerjakan. Informasi lebih cepat ditemukan. Bahkan video pembelajaran bisa membuat materi sulit menjadi lebih mudah dipahami.

Namun masalahnya bukan pada HP-nya. Masalahnya adalah: apakah kita mengendalikan gawai… atau justru dikendalikan olehnya?

Kadang yang terasa lucu sekaligus miris adalah saat jam istirahat.  Satu kursi panjang penuh anak-anak duduk bersama. Tapi semuanya diam. Bukan karena sedang bertapa mencari jati diri. Melainkan sibuk dengan layar masing-masing. 

Jempol aktif. Mata fokus. Tapi dunia nyata di sekelilingnya perlahan menghilang. 

Padahal masa sekolah adalah masa paling indah untuk: tertawa bersama, bercerita, saling mengejek lucu, bermain, dan menciptakan kenangan nyata. Bukan hanya saling mengirim emoji di chat 😄. 

Aturan pembatasan penggunaan gawai ini menurut saya bukanlah bentuk hukuman. Bukan juga usaha “memisahkan manusia dengan HP-nya” secara paksa. Tetapi lebih kepada usaha mengembalikan keseimbangan.

Bahwa di sekolah ada waktu untuk fokus belajar. Ada waktu untuk berinteraksi nyata. Ada waktu melatih disiplin dan pengendalian diri.

Dan bukankah hidup memang tentang belajar mengendalikan diri? Karena tidak semua yang kita inginkan harus langsung dilakukan saat itu juga.

Yang paling menarik perhatian saya adalah ketika aturan ini juga tetap memberi ruang penggunaan HP untuk pembelajaran. Artinya: teknologi tidak dimusuhi. Ia tetap dipakai untuk hal-hal yang bermanfaat: mencari informasi, menonton video edukasi, riset, atau kebutuhan darurat. Ini penting. Karena anak-anak zaman sekarang hidup di era digital. Mereka tidak mungkin dijauhkan sepenuhnya dari teknologi.

Yang perlu dibangun adalah kesadaran: kapan gawai digunakan, dan kapan harus disimpan. Saya jadi teringat suasana ulangan di kelas. Kadang ada anak yang gelisah luar biasa. Matanya melirik ke bawah meja. Mencuri-curi pandang, mengamati gerak gerik guru. Tangannya mulai bergerak perlahan. Seolah sedang menjalankan operasi rahasia tingkat internasional. Padahal yang dicari cuma jawaban Fisika 🤣

Mungkin dalam hati mereka berharap: ChatGPT, Gemini, Meta, atau “teman maya” lainnya datang menyelamatkan. Padahal sejatinya yang diuji adalah kemampuan diri sendiri. Karena sehebat apa pun teknologi membantu, tetap ada hal yang tidak bisa digantikan, yaitu kejujuran.

Saya percaya… anak-anak sebenarnya luar biasa. Mereka hanya hidup di zaman yang penuh distraksi. Karena itu mereka perlu dibimbing, bukan dimarahi. Perlu diajak memahami bahwa: HP hanyalah alat. Bukan tujuan hidup.

Dan sekolah… bukan sekadar tempat hadir lalu pulang. Tetapi tempat bertumbuh menjadi manusia yang siap menghadapi kehidupan nyata 🌿.

 

Baiti Jannati, Malaka 3, Kamis, 14 Mei 2026

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post