Nurbaiti

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Harga Sebuah Kejujuran

Harga Sebuah Kejujuran

Harga Sebuah Kejujuran

Oleh Syahbaty

 

Suasana ruang 8D pagi itu terasa begitu tenang. Suara detik jam dinding terdengar jelas di sela-sela kesunyian. Aroma melati dari pengharum ruangan di pojok kelas perlahan menyapu udara, bercampur dengan hawa tegang anak-anak yang sedang menghadapi ujian.

Di atas meja guru pengawas, sebuah kotak transparan penuh gawai tampak diam berjajar rapi. Puluhan HP tidur sementara waktu, dipaksa “puasa dunia maya” demi sebuah ujian bernama kejujuran.

Sementara itu, anak-anak sibuk menatap layar laptop masing-masing.

Klik. Diam. Klik lagi. Sunyi kembali.

Baru sekitar sepuluh menit ujian berjalan, seorang anak mulai terlihat berbeda. Duduknya sedikit miring. Satu tangannya memegang jaket erat di paha. Pengawas memperhatikannya diam-diam. Naluri seorang pengawas kadang lebih tajam daripada kamera CCTV. 

Beliau belum bergerak. Masih memberi kesempatan. Mungkin hanya salah posisi duduk. Mungkin dingin. Mungkin pegal.

Lima menit berlalu. Anak itu mulai tampak gelisah. Tangannya makin sering bergerak di balik jaket. Sesekali ia melirik ke depan.. Melihat pengawas. 

Lalu perlahan mencoba berbicara pada teman seperjuangannya yang duduk tepat di depan. Temannya tetap diam. Mungkin takut ikut terseret arus dosa akademik.

Pengawas mulai bangkit perlahan.

“Simpan jaketnya ya…”

Suaranya lembut. Tenang. Tapi cukup membuat jantung berdebar. Anak itu justru makin erat memegang jaketnya.

“Taruh di belakang saja. Yuk berdiri dulu… atau mau Bapak bantu?”

Kini pengawas sudah berada di dekatnya. Tangannya mulai gemetar kecil.

Dan…

“PREEENGGG!”

Sesuatu jatuh dari balik jaket. Sebuah handphone meluncur cepat menuju lantai akibat gaya gravitasi bumi dengan percepatan sempurna 😭

Fisika benar-benar bekerja tanpa kompromi. Suasana kelas mendadak berubah hening tingkat tengah malam. Tak ada yang menoleh terang-terangan. Tapi semua tahu: ada sebuah “benda keramat” yang baru saja menyerahkan diri.

Wajah anak itu pucat. Tangannya gemetar. Matanya kosong seperti baru sadar bahwa kehidupan kadang lebih kejam daripada soal pilihan ganda.

Mungkin rusaknya HP bukan masalah terbesar. Toh katanya membawa dua: satu dikumpulkan, satu lagi diselundupkan diam-diam dalam jaket. Tapi ada satu hal yang jauh lebih mahal daripada harga gawai: rasa malu.

Dengan sisa tenaga dan kewarasan yang masih tersisa, ia kembali duduk dan mencoba melanjutkan ujian. Matanya menatap layar laptop. 

Klik.

Tak bergerak.

Klik lagi.

Tetap diam.

Terkunci.

Sempurna.

Ucapan panitia ujian beberapa hari lalu ternyata bukan sekadar ancaman penghias pengeras suara:

“Jika terbukti curang, peserta akan mendapat nilai nol dan tidak dapat melanjutkan ujian.”

Hari itu, aturan benar-benar menunjukkan taringnya. Dan di ruang 8D yang wangi melati itu, seorang anak mungkin sedang belajar sesuatu yang lebih besar daripada materi ujian. Bahwa nilai bisa dicari lagi. Ujian bisa diulang lagi. Tetapi kejujuran…

sekali retak, ia meninggalkan suara yang panjang di dalam hati. 

 

Baiti Jannati, Kamis, 21 Mei 2026 

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post