Kolak dan Irisan Tangan
Kolak dan Irisan Tangan
Oleh Syahbaty
Pagi-pagi sekali perut ku sudah mulai keroncongan. Aku berjalan ke dapur sambil membayangkan sesuatu yang hangat untuk mengisi pagi.
Di rak dapur masih ada empat singkong, jagung sepertiga bonggol, segelas kecil beras ketan, segenggam kacang hijau, sedikit kara, dan dua keping gula merah. Rasanya semua bahan itu terlalu sayang jika dibiarkan sendiri-sendiri. Akhirnya aku memutuskan untuk mencampur semuanya, alias kolak campur ala “apa saja yang tersisa di dapur” 😄
Beras ketan dan jagung ku rebus lebih dulu. Kacang hijau menyusul di panci berbeda. Di panci kecil lain, gula pasir ku sangrai sebentar lalu ku tambahkan gula merah agar aromanya lebih harum. Dua lembar daun pandan ikut masuk untuk menyempurnakan rencana pagi tadi.
Tinggal singkong yang belum disentuh.
Aku mengupasnya perlahan sambil membayangkan kolak hangat yang manis dan wangi. Singkong terakhir sebenarnya boleh saja disimpan untuk besok. Namun aku berpikir, “Kalau tinggal satu, kasian gak ada temannya, bisa-bisa malah masuk angin.” Pikiran yang kadang hanya dimengerti para penghuni dapur 😄
Padahal saat itu, sembilan puluh persen pekerjaan sudah selesai.
Baru saja singkong terakhir siap dipotong, tiba-tiba: sliiittt…
Pisau kecil yang sejak tadi ku pegang hati-hati berhasil mengiris telunjuk kiri ku. membentuk garis lurus sepanjang 13 mm di sebelah kanan kuku.
“Laailaahaillallaah… Muhammadarrasulullah…” seru ku refleks.
Darah mulai keluar dan rasa perih perlahan terasa. Tanpa berpikir panjang, telunjuk itu langsung masuk ke mulut. Entah kenapa, sejak kecil aku selalu merasa ludah adalah pertolongan pertama paling cepat 😄
Suami yang mendengar suara ku langsung bertanya dari atas “Kenapa?”
Aku buru-buru mematikan api lalu naik ke atas sambil tetap memegangi jari yang terluka. Aku ingin minta tolong. Melihat keadaan ku, suami segera mengambil perlengkapan obat yang memang selalu tersedia di rumah.
Di tengah rasa panik, aku membaca Surah Al-Lahab pelan-pelan. Dulu ibu ku pernah berkata bahwa bacaan itu bisa membantu menghentikan perdarahan. Aku tidak tahu bagaimana penjelasannya, tetapi setiap mengingat nasihat ibu, hati ku selalu terasa lebih tenang. Jadi tidak heran dari kecil surat Al-Lahab sudah gak lekang dari ingatanku.
Tak lama kemudian luka selesai dibersihkan dan diperban.
Setelah semuanya beres, aku kembali turun ke dapur. Masih ada sepuluh persen pekerjaan yang harus diselesaikan. Kolak yang sudah terlanjur wangi tidak boleh gagal hanya karena satu telunjuk 😄
Saat akhirnya matang, aroma pandan dan gula merah memenuhi dapur. Aku duduk sebentar memandangi panci kolak hangat itu sambil tersenyum kecil. Aku wadahi dan suapan pertama mestilah suami baru tetangga.
Kadang dari dapur sederhana, Allah mengajarkan banyak hal: tentang hati-hati, tentang perhatian, tentang nasihat ibu yang masih tinggal di ingatan, dan tentang rasa syukur yang sering datang setelah luka kecil, dan tentang hafalan yang tiba-tiba dikeluarkan. Hehe....
Baiti Jannati, Malaka Sari, Sabtu, 16 Mei 2026.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan