Nurbaiti

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Ketika Literasi Turun ke Lapangan

Ketika Literasi Turun ke Lapangan

Oleh Syahbaty

Tahun 2025-2026 saya diamanahi jadi penanggung jawab Literasi 20 kelas. Jujur, saya senang. Pingin mengubah budaya tahun-tahun sebelumnya. Tidak lagi melihat anak nulis cuma buat setor link. Literasi harus berubah, tidak akan ada lagi tulisan yang cuma jadi angka di spreadsheet, dan tidak ada yang menilainya.

Saya bilang ke kepala sekolah: "Bu, boleh gak tahun ini anak nulis beneran pake tangan? Biar ada yang baca tulisannya, bukan cuma server Google Drive?"

Alhamdulillah, dijawab: "Boleh. Asal cantik."

Saya jawab dalam hati: "Siap. Akan saya bikin secantik mungkin."

Maka lahirlah Bionarasi. Biodata rasa cerita. Anak saya paksa nulis: nama orang tua, jarak ke sekolah berapa km, naik apa, cita-citanya, sampai penyakit yang pernah dialami.

Kenapa? Biar mereka membaca dirinya sendiri sebelum membaca dunia.

Saya kasih contoh. Saya tulis bionarasi saya, saya posting di Gurusiana, saya kasih linknya ke mereka. Malu? Iya. Tapi kalau gurunya gak berani telanjang duluan, murid mana mau buka hati?

Dua minggu mereka menulis. Digital dulu, kirim ke Drive kelas. Wali kelas pilih 2 terbaik. Total 40 nama masuk ke tim literasi. Dari 40, kami pilih 20 yang akan naik podium.

Rabu. Hari Literasi.

Lapangan sekolah yang mungil mendadak sesak. Lautan mini berseragam coklat berkacu merah putih. Guru, karyawan, 20 kelas tumplek blek.

Nama saya dipanggil. Saya tarik napas. "Ya Allah... mudahkan lidahku."

Tujuh ratus lima puluh mata. Pertama kali buat saya. Saya harus setenang air dalam gelas, padahal gelasnya mau pecah.

Saya naik. Saya sambutan. Anak-anak tepuk tangan. Lega. Artinya saya selamat dari podium.

Dari 20 yang tampil, akan dipilih 3 terbaik. Dapat sertifikat. Dapat hadiah. Tapi yang paling mahal: 40 tulisan anak akan kami abadikan dalam "buku antologi".

Itu jejak. Gak bisa di-delete. Gak bisa expired kayak link.

Rabu itu saya belajar: "kebangkitan gak butuh gedung DPR. Kebangkitan cuma butuh lapangan mungil, anak yang berani baca ceritanya, dan guru yang berani gemeteran di podium."

Harkitnas tahun ini, jejak kami bukan upacara. Jejak kami adalah bionarasi.

Baiti Jannati, Jum'at 8 Mei 2026

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post