Nurbaiti

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Kertas Ulangan dan Preman Jalanan

Kertas Ulangan dan Preman Jalanan

Oleh Syahbaty

Zaman itu metromini masih berjaya. Bus tua penuh suara knalpot batuk-batuk, kursi panas, jendela setengah macet, dan musik dangdut samar dari radio sopir yang kalah keras dengan suara kernet:

“Melayu… Melayu… belakang masih kosong!”

Aku dan beberapa teman guru duduk berjejer sambil memangku tas masing-masing.

Bukan tas berisi emas. Bukan juga uang banyak. Isinya lebih menyeramkan: kertas ulangan anak-anak. Tumpukannya tebal. Ada yang belum diperiksa. Ada yang sudah diberi nilai. Ada pula yang tulisannya mirip resep dokter gagal terbaca.

Pokoknya… kalau tas itu hilang, bukan cuma barang yang lenyap. Tapi juga ketenangan hidup guru.

Di tengah perjalanan, naiklah beberapa preman bertato. Wajah mereka serius. Tatapan tajam. Gelagatnya jelas membuat penumpang mulai waspada. Aku melirik teman-temanku.

Semua mendadak duduk manis seperti siswa yang baru sadar ada pengawas ujian. Seorang preman mulai meminta uang. Receh berpindah tangan satu per satu. Sampailah pada seorang temanku. Ia merogoh tas. Lalu wajahnya berubah panik kecil.

Tak ada uang receh. Yang ada hanya lembar lima puluh ribuan. Mungkin dalam hatinya sedang menghitung:

“Kalau dikasih… uang makan seminggu bisa hilang.”

Ia tersenyum canggung.

“Maaf Bang… gak ada receh.”

Preman itu tampak kesal. Matanya langsung tertuju pada tas besar di pangkuan temanku.

“Serahkan tas itu!”

Suasana mendadak tegang.

“Jangan Bang… ini cuma kertas…” kata temanku setengah memohon.

Tapi preman tetap preman. Tas itu direbut cepat. Lalu dilempar begitu saja ke lantai metromini.

“BRUK!”

Resleting terbuka. Dan…lembar demi lembar kertas ulangan beterbangan keluar. Ada yang jatuh di sandal penumpang. Ada yang nyangkut di kursi. Ada yang melayang pelan seperti daun gugur penuh penderitaan guru.

“Ya Allah Bang… itu kertas ulangan anak-anak!” seru temanku hampir menangis.

Preman itu terdiam. Ekspresinya berubah. Tatapan galaknya perlahan luntur.

“Maaf… Ibu guru ya?” tanyanya pelan.

Temanku mengangguk lemas. Dan keajaiban pun terjadi. Preman bertato itu mendadak jongkok. Memunguti satu per satu kertas ulangan yang berserakan. Bahkan temannya ikut membantu.

“Ini Bu… yang nomor tiga jatuh di bawah kursi…”

“Yang ini kayaknya halaman belakangnya…”

“Waduh tulisan murid sekarang susah dibaca ya Bu…”

Metromini mendadak berubah seperti ruang guru habis ujian semester. Di lampu merah berikutnya, preman-preman itu pun turun. Aku yang dari tadi menahan napas… akhirnya tak kuat lagi menahan tawa. Temanku ikut tertawa juga. Sebelum pergi, salah satu dari mereka berkata:

“Maaf ya Bu… kirain uang…”

Lalu mereka turun begitu saja. Metromini kembali berjalan. Dan sejak hari itu aku sadar…bahkan preman jalanan pun tahu, jangan macam-macam dengan kertas ulangan guru.

baiti Jannati, Sabtu, 23 Mei 2026

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post