Nilai, Angka dan Sebuah Sikap
Nilai, Angka, dan Sebuah Sikap
Oleh Syanbaty
Selesai membagikan kertas ulangan, aku duduk di kursi meja guru sambil mempersilakan anak-anak memeriksa nilai mereka masing-masing. Seperti biasa, aku selalu memberi kesempatan jika ada yang ingin bertanya atau merasa ada penilaian yang kurang sesuai.
Bagiku, nilai bukan sesuatu yang sakral tanpa cela. Guru juga manusia. Bisa saja salah menghitung, salah melihat jawaban, atau ada tulisan anak yang terlewat.
Satu per satu anak mulai mencocokkan jawaban mereka. Ada yang tersenyum lega, ada yang menghela napas panjang, ada pula yang mulai membandingkan nilainya dengan teman sebelah.
Lalu seorang murid maju ke depan meja guru.
“Kenapa nilai saya beda dengan yang ini?”
Aku sedikit tertegun.
Bukan karena pertanyaannya. Pertanyaan seperti itu biasa. Yang membuatku terdiam justru intonasi suaranya. Ketus. Dingin. Bahkan tak ada kata “Ibu” di sana.
Tangannya menunjuk kertas dengan gerakan cepat, seolah sedang menuntut sebuah keadilan besar di ruang sidang.
Aku memandang wajahnya sejenak.
Tak ada senyum. Tatapannya terasa keras.
Dalam hati aku bertanya-tanya: Apakah ia sedang punya masalah? Sedang marah? Sedang lelah? Atau mungkin hatinya sedang tidak baik-baik saja?
Aku menarik napas pelan, berusaha menjaga hati agar tidak ikut terpancing.
Padahal berkali-kali kami selalu menanamkan:
“Akhlak dulu, baru ilmu.”
“Rini, maaf ya, mungkin ada tulisanmu yang terlewat sehingga luput dari penilaian. Coba jelaskan ke Ibu, bagian mana yang menurutmu berbeda?” tanyaku pelan.
Ia mulai menjelaskan. Katanya jawaban miliknya dan temannya sama, tetapi nilainya berbeda.
Aku memeriksa kertas yang ia tunjuk.
“Oh… bedanya memang ada,” jelasku sambil menunjukkan satu per satu. “Temanmu menulis lengkap: diketahui, ditanya, rumus, proses, hasil, dan satuan. Sementara di jawabanmu ada beberapa bagian yang tidak ditulis. Sebelum ulangan Ibu sudah menjelaskan bahwa poin-poin itu juga masuk penilaian.”
Ia masih belum puas.
“Tapi masa segini jauh bedanya?”
Kalimat itu kembali meluncur tanpa sapaan hormat sedikit pun.
Aku tetap mencoba tersenyum.
“Baiklah, mari kita hitung sama-sama. Siapa tahu memang Ibu yang salah.”
Aku mulai memberi poin pada setiap langkah jawabannya sambil menjelaskan perlahan. Setelah selesai, kertas itu kuberikan kepadanya.
“Nah, sekarang coba kamu hitung sendiri.”
Ia menghitung dengan wajah serius.
“Berapa hasilnya?” tanyaku.
“56.”
Hanya dua kata.
Padahal nilai sebelumnya yang kutulis adalah 58.
Aku tersenyum kecil.
“Jadi, mau Ibu tulis tetap 58 seperti tadi, atau 56 hasil hitungan setelah protesmu?”
“Terserah aja.”
Ia kembali ke tempat duduknya.
Aku memandang punggung anak itu berjalan menjauh.
Entah kenapa, yang membuat hatiku sedih bukan protes nilainya. Bukan pula angka 56 atau 58 itu.
Tetapi sikapnya.
Kadang anak-anak lupa, guru tidak hanya mengajarkan rumus dan angka. Kami juga sedang berusaha mengajarkan cara berbicara, menghargai, dan menjaga adab ketika meminta penjelasan.
Keesokan harinya aku masuk lagi ke kelas mereka untuk membagikan kartu peserta Asesmen Sumatif Akhir Tahun.
Satu per satu anak maju mengambil kartu sambil mengucapkan: “Terima kasih, Ibu.”
Ketika namanya kupanggil, ia maju ke depan. Mengambil kartunya. Lalu kembali ke tempat duduk tanpa sepatah kata pun.
Aku terdiam sesaat.
Bukan marah. Hanya berpikir.
Betapa sulitnya mendidik ilmu tanpa akhlak.
Aku memandang kelas yang mulai kembali ramai. Anak-anak sibuk merapikan meja dan kursi sebelum jam berakhir.
Hari itu waktuku terlalu sempit untuk berbicara dengannya.
Mungkin besok. Atau lusa.
Aku ingin memanggilnya pelan-pelan. Bukan untuk memarahinya.
Tetapi untuk mengingatkannya bahwa kepintaran akan terlihat lebih indah ketika dibungkus dengan sikap santun.
Senin, 2 Zdulhijjah 1447 H
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan