Nurbaiti

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Karton Manila dan Cermin Bernama Teman

Karton Manila dan Cermin Bernama Teman

Karton Manila dan Cermin Bernama Teman

Oleh: Syahbaty

Hari ini, aku masuk kelas tanpa membawa materi fisika. Tidak ada pembahasan vektor. Tidak ada soal Kinematika. Tidak ada rumus geraka parabola.

Kegiatan pembelajaran sudah selesai. Di luar kelas, suasana sekolah sedang meriah. Anak-anak bersiap mengikuti NASAGames, berbagai pertandingan dan perlombaan yang digelar di lapangan dalam sekolah.

Namun sebelum mereka berhamburan keluar kelas, aku meminta mereka duduk kembali.

"Ada tugas terakhir," kataku.

Mereka langsung memperhatikan. Sudah seminggu sebelumnya aku meminta setiap anak membawa karton Manila berukuran 30 x 30 sentimeter. Laki-laki berwarna biru muda dan perempuan pink muda. Karton itu dilipat dua seperti sebuah buku sederhana.

Di bagian depan mereka menuliskan nama. Di bagian dalam mereka menuliskan target hidup. Ada yang ingin menjadi dokter. Ada yang ingin menjadi polisi. Ada yang ingin menjadi guru. Ada pula yang masih bingung, tetapi tetap menulis sesuatu sebagai harapan masa depan. Sedangkan bagian belakang sengaja dibiarkan kosong. Hari itu bagian kosong itulah yang akan diisi.

"Buat dua kekuatan dan dua kelemahan teman kalian," jelasku.

Mereka terlihat antusias. "Tidak boleh menulis yang sama."

"Tidak boleh asal-asalan."

"Tidak boleh saling mengejek."

"Tulislah dengan jujur dan santun."

Mereka memahaminya. Karton-karton itu mulai berpindah tangan. Dari meja ke meja. Dari satu anak ke anak lainnya. Seperti estafet yang tidak membawa tongkat, tetapi membawa penilaian dan kepercayaan.

Aku duduk memperhatikan mereka. Ada yang langsung menulis. Ada yang berpikir lama. Ada yang tersenyum sendiri. Ada yang sesekali melihat temannya lalu tertawa kecil. Ternyata menilai orang lain tidak semudah yang dibayangkan. Apalagi ketika harus menemukan kelebihan mereka.

Di situlah aku belajar sesuatu. Selama ini kita sering lebih cepat menemukan kekurangan orang daripada kelebihannya. Padahal setiap manusia memiliki keduanya. Kekuatan dan kelemahan. Kelebihan dan kekurangan. Dan keduanya sama-sama penting untuk dikenali.

Yang membuatku bahagia, anak-anak terlihat serius menjalankan tugas itu. Mereka tidak sedang mengerjakan soal fisika. Namun sesungguhnya mereka sedang belajar memahami manusia. Termasuk dirinya sendiri.

Sebab pada akhirnya karton itu akan kembali kepada pemiliknya. Melalui orangtua ketika menyerahkan rapor semester dua. Semester yang menyatakan apakah mereka naik kelas atau bertaham di kelas X.

Dan di situlah kejutan dimulai. Aku membayangkan suatu malam nanti mereka akan membuka karton tersebut di rumah. Membaca satu demi satu tulisan teman-temannya.

Mungkin ada yang tersenyum karena baru tahu dirinya dianggap ramah.

Mungkin ada yang terkejut karena ternyata banyak teman yang menganggapnya suka membantu.

Mungkin ada pula yang termenung ketika membaca kelemahan yang ditulis berulang oleh beberapa orang.

Terlalu pendiam. Kurang percaya diri. Sering terlambat. Mudah marah. Atau mungkin yang lain. Kadang kita membutuhkan cermin untuk melihat diri sendiri.

Dalam fisika, cermin memantulkan cahaya sehingga kita dapat melihat wajah kita. Namun karakter tidak bisa dipantulkan oleh cermin biasa.

Untuk melihat karakter, kita membutuhkan cermin yang berbeda. Namanya teman. Melalui mereka, kita bisa melihat sisi diri yang selama ini tidak kita sadari. Mereka melihat kebiasaan kita. Mereka melihat sikap kita. Mereka melihat hal-hal kecil yang mungkin luput dari perhatian kita sendiri. Mungkin istilah ynag cocok menyebut kegiatan sederhana ini adalah "latihan bercermin".

Bukan bercermin pada kaca. Melainkan bercermin pada pandangan orang lain. Tentu tidak semua pendapat harus diterima mentah-mentah. Namun jika beberapa orang menuliskan hal yang sama, mungkin ada pesan yang perlu kita renungkan. Bukankah memperbaiki diri selalu dimulai dari kesadaran?

Hari ini tidak ada angka. Tidak ada nilai. Tidak ada peringkat. Namun aku merasa anak-anak mendapatkan pelajaran yang sangat berharga. Pelajaran tentang mengenali diri. Pelajaran tentang menerima masukan. Pelajaran tentang menghargai kelebihan orang lain. Dan pelajaran bahwa setiap manusia selalu memiliki ruang untuk bertumbuh menjadi lebih baik.

Ketika waktunya tiba dan mereka keluar kelas, ada yang langsung menuju lapangan untuk mengikuti NASAGames, ada yang menyaksikan dari koridor lantaibdua .

Aku masih memandangi tumpukan karton Manila yang tersisa di meja. Aku tersenyum. Kadang pendidikan tidak selalu hadir dalam bentuk rumus dan angka. Kadang ia hadir melalui selembar karton sederhana yang membantu seorang anak melihat dirinya sendiri.

Melalui sebuah cermin bernama teman. Semoga mereka menemukan banyak kekuatan yang selama ini tersembunyi. Dan semoga mereka memiliki keberanian untuk memperbaiki setiap kelemahan yang masih tersisa.

Karena pada akhirnya, tujuan pendidikan bukan hanya membuat anak menjadi pintar. Tetapi juga membantu mereka mengenal dirinya sendiri.

Baiti Jannati, Rabu, 24 Juni 2026, 9 Muharram 1448 H.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post