Mengejar Target di Atas Awan
Mengejar Target di Atas Awan
Oleh: Syahfaty
Dengan sabar aku mengikuti antrean yang berkelok-kelok seperti ular. Satu per satu penumpang memperlihatkan boarding pass kepada pramugari yang menyambut dengan senyum ramah. Kini giliranku.
Aku melangkah menyusuri lorong sempit pesawat hingga berhenti di kursi 6F. Alhamdulillah. Kursi dekat jendela. Posisi favoritku. Di sebelahku duduk seorang anak laki-laki, kira-kira kelas lima SD, ditemani ibunya.
Aku mengangkat tas ransel ke kabin atas. Masih sempat berpikir, Untung tadi di ruang guru gak sempat nambah buku lagi. Kalau tidak, mungkin otot lenganku yang protes lebih dulu daripada pundakku.
Tas kecil kutaruh di samping. Isinya sederhana. Dua Al-Qur'an. Titipan Susi buat siapa saja yang gemar membaca Al-Qur'an. Dan sebuah buku kepemilikan mobil milik Ria yang harus ikut bepergian bersamaku.
Pesawat mulai dipersiapkan. Pramugari memperagakan prosedur keselamatan. Kupingku mendengar. Mataku memperhatikan. Namun kedua ibu jariku tetap menari di atas layar ponsel. Aku sedang mengejar target. Bukan target penjualan. Bukan target langkah harian. Melainkan target tulisan.
Entah mengapa ide-ide justru bermunculan ketika aku sedang bepergian. Barangkali pikiranku ikut berjalan bersama langkah kaki. Perlahan pesawat bergerak. Mula-mula pelan. Lalu semakin cepat. Mesin lebih terdengar. Tubuh kusedikit terdorong ke belakang.
Beberapa detik kemudian roda-rodanya meninggalkan bumi. Aku spontan melihat ke arah sayap. Guru fisika dalam diriku langsung bangun. "Nah... sekarang gaya angkat bekerja." Aku tersenyum sendiri.
Di balik indahnya penerbangan, ada begitu banyak hukum Allah yang bekerja melalui hukum-hukum alam. Sayap pesawat. Aliran udara. Gaya angkat. Perbedaan tekanan. Semua saling bekerja sama sehingga ratusan manusia dapat terbang ribuan meter di atas permukaan bumi. Semakin tinggi. Semakin putih.
Awan mulai menyelimuti jendela. Sesaat kemudian dunia di luar menghilang. Yang terlihat hanya hamparan putih. Seperti kapas raksasa. Seperti kabut yang sedang memeluk pesawat. Entah sejak kapan mataku mulai menyerah.
Pil pahit kehidupan yang kutelan pagi tadi akhirnya memenangkan pertandingan. Aku tertidur.
Ketika terbangun, aroma Pop Mie menyambut lebih dulu daripada suara pramugari.
Anak kecil di sebelahku sedang menikmati makanannya dengan lahap. Aku tersenyum. Perjalanan ternyata membuat siapa pun mudah lapar. Kulihat ponselku. Layarnya sudah gelap. Tulisan yang sejak tadi kuketik masih tersimpan. Aku segera menekan tombol Simpan.
Pengalaman hari ini terlalu sayang jika hilang hanya karena jemariku salah menekan tombol. Sebab aku percaya. Setiap perjalanan selalu membawa oleh-oleh. Kadang berupa jilbab dari Tanah Abang. Kadang berupa kaus kaki dari pedagang kaki lima. Dan kadang. berupa cerita yang lahir di antara bumi dan langit.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan