Toples Gula yang Menghilang
Toples Gula yang Menghilang
Oleh Syahbaty
Sore itu aku pulang dengan perasaan ringan.
Tugas luar sudah selesai. Tumpukan buku tugas yang menunggu di meja guru sudah berhasil kutunda sampai besok. Untuk sementara, aku ingin berdamai dulu dengan tubuh yang mulai lelah.
Di atas meja, semangkuk kolak menungguku. Kolak yang tadi pagi kubawa ke sekolah, tetapi gagal kumakan karena keburu kenyang nasi kuning.
Aku tersenyum.
Rezeki memang tidak selalu datang tepat waktu. Kadang ia datang ketika perut sudah kenyang.
Kadang ia datang ketika kita sudah di rumah.
Dan kadang berupa kolak yang berhasil selamat dari perjalanan pulang pergi sekolah.
Aku membuat secangkir kopi panas.
Kopi tubruk kesayanganku.
Tanpa banyak ritual.
Tanpa mesin mahal.
Tanpa istilah-istilah asing yang membuat harga kopi melonjak berkali-kali lipat.
Cukup kopi, air panas, dan rasa syukur.
Aku duduk santai di depan meja.
Ponsel kusandarkan pada sebuah benda di depanku. Dari layar terdengar lantunan doa sore dan bacaan Al-Qur'an yang dipandu Ustaz Adi Hidayat.
Sore yang sempurna.
Kolak.
Kopi.
Doa.
Dan sedikit waktu untuk diri sendiri.
Namun seperti biasa, hidup jarang membiarkan kita menikmati kesempurnaan terlalu lama.
Tiba-tiba aku ingin menambahkan gula ke dalam kopi.
Aneh.
Padahal aku termasuk manusia yang lebih sering minum kopi tanpa gula.
Mungkin sore itu ada bagian dari diriku yang sedang ingin dimanjakan.
Aku mulai mencari toples gula.
Kulihat ke kanan.
Tidak ada.
Kulihat ke kiri.
Tidak ada.
Aku menggeser mangkuk kolak.
Tidak ada.
Aku mengangkat gelas kopi.
Tetap tidak ada.
Aku mulai menyisir meja dengan ketelitian seorang detektif.
Mataku sampai sedikit melotot.
Tetap nihil.
"Apa ada yang membawa ke bawah ya?" pikirku.
Lalu aku berhenti.
Rumah sedang sepi.
Penghuninya hanya aku dan suami.
Dan setahuku, beliau tidak memiliki riwayat menculik toples gula.
Aku mulai membuat hipotesis.
Mungkin tadi aku sendiri yang memindahkannya.
Mungkin lupa.
Mungkin sedang berada di dapur.
Mungkin.
Dalam fisika, jika sebuah benda hilang, biasanya ada dua kemungkinan.
Benda itu berpindah tempat.
Atau pengamatnya kurang teliti.
Aku mulai curiga pada kemungkinan kedua.
Namun rasa malas bergerak ternyata lebih besar daripada rasa penasaran.
Akhirnya aku menyerah.
"Ya sudah. Mungkin kopi ini memang tidak berjodoh dengan gula."
Aku pun melanjutkan menikmati kopi pahitku.
Seteguk demi seteguk.
Hangat.
Nikmat.
Alhamdulillah.
Tanpa gula pun ternyata tetap habis.
Tak ada setetes pun tersisa di dasar gelas.
Ketika doa sore selesai, aku bersiap membereskan meja.
Kugelindingkan mangkuk kolak yang sudah kosong.
Kuraih gelas kopi.
Lalu kuangkat ponselku.
Dan...
Aku terdiam.
Astaghfirullah.
Di bawah ponsel itulah toples gula berada.
Sejak tadi.
Diam.
Tenang.
Tidak ke mana-mana.
Menjadi sandaran ponsel yang sedang kupakai mendengarkan doa sore.
Aku tertawa sendiri.
Tertawa cukup lama.
Mungkin kalau toples gula itu bisa bicara, ia akan berkata,
"Aku tidak hilang. Kamu saja yang kurang fokus."
Aku kembali duduk.
Lalu merenung.
Bukankah hidup sering seperti itu?
Kita mencari sesuatu ke mana-mana.
Padahal yang dicari ada di depan mata.
Kita mencari ketenangan, padahal Allah sudah menghadirkannya lewat dzikir dan Al-Qur'an.
Kita mencari kebahagiaan, padahal ia hadir dalam secangkir kopi dan semangkuk kolak sederhana.
Kita mencari nikmat yang besar, padahal sering lupa mensyukuri nikmat kecil yang setiap hari menemani.
Sore itu aku tidak hanya menemukan toples gula.
Aku juga menemukan alasan untuk kembali bersyukur.
Dan tentang lupa?
Aku memilih berdamai dengannya.
Karena anak kecil juga sering lupa.
Lalu aku teringat sebuah kalimat.
Semakin bertambah usia, manusia perlahan akan kembali seperti anak-anak.
Aku tersenyum lagi.
Kemudian berkata pada diri sendiri,
"Tenang... ini bukan pikun."
"Hanya RAM otak yang sedang penuh." 😄
Alhamdulillah.
Baiti Jannati, Jum'at, 5 Juni 2026
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan