Nurbaiti

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Kursi Biru

Kursi Biru yang Hafal Jam Pulangku

Oleh: Desy

Di ruang guru, aku punya teman setia.

Warnanya biru.

Tidak pernah mengeluh.

Tidak pernah izin sakit.

Tidak pernah minta cuti.

Dan selalu siap menungguku setiap pagi.

Ia adalah kursi putarku.

Bentuknya sederhana. Bisa dinaikkan dan diturunkan. Bisa maju, mundur, bahkan berputar ke segala arah karena roda-roda kecil di kakinya.

Aku menyukainya.

Bahkan sampai sekarang, kadang aku masih iseng memutarnya pelan ke kanan dan ke kiri ketika sedang berpikir.

Entah kenapa. Mungkin ide-ide lebih mudah keluar ketika dunia sedikit berputar.

Atau mungkin aku memang masih menyimpan jiwa anak-anak yang belum sepenuhnya lulus.

Belakangan ini aku mendadak menjadi "orang kaya".

Bukan karena menang undian.

Bukan karena mendapat kenaikan gaji.

Bukan pula karena menemukan emas di halaman sekolah.

Aku kaya karena sekarang memiliki dua meja dan dua kursi.

Terdengar mewah, bukan?

Sayangnya kenyataan tidak semewah itu.

Teman yang duduk di sebelahku telah memasuki masa purna tugas.

Mejanya kosong.

Kursinya kosong.

Tak ada lagi tas yang biasa tergeletak di sana.

Tak ada lagi suara yang menyahut ketika aku mengucapkan salam.

Tak ada lagi teman berbagi cerita di sela-sela kesibukan.

Kini kursi biru miliknya hanya diam.

Menunggu.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post