Menulis itu Mudah, Begini Caranya
Menulis Itu Mudah, Begini Caranya
Oleh Nurbaiti
Menulis Itu Tidak Sulit, Jika Tahu Cara Memulainya. Setiap hari selalu punya cerita.
Di sekolah kami, ada hari literasi. Satu hari dalam seminggu, kadang selasa, kadang Rabu, kadang Kamis. Hari literasi yang di dominaai ketika anak-anak membuka buku tulis mereka, lalu berusaha merangkai kata demi kata menjadi sebuah cerita.
Sebagian menulis dengan lancar. Pena mereka seperti berlari mengikuti aliran pikiran. Namun sebagian yang lain hanya memandang halaman kosong cukup lama. Sesekali menggigit ujung pena, menghela napas, merenung sebentar lalu menulis satu dua kalimat yang menggantung.
"Bu, saya bingung mau nulis apa."
Kalimat itu sering kudengar. Dulu aku mengira masalahnya adalah kemampuan menulis. Tapi setelah aku membaca setiap tulisan di buku literasi mereka, lama-kelamaan aku menyadari, ternyata bukan itu masalahnya.
Mereka tidak kekurangan cerita. Mereka hanya tidak tahu bagaimana memulai. Padahal setiap anak membawa begitu banyak kisah di dalam dirinya. Ada cerita tentang keluarga. Ada cerita tentang sahabat. Ada cerita tentang kegagalan yang pernah membuatnya menangis diam-diam. Ada cerita tentang keberhasilan yang membuatnya tersenyum sepanjang hari. Ada pula cerita sederhana yang mungkin dianggap sepele, padahal sangat berharga untuk dituliskan.
Sayangnya, ketika diminta menulis, mereka sering langsung berpikir tentang tulisan yang bagus. Tentang kata-kata yang indah. Tentang kalimat yang sempurna.
Akibatnya mereka justru berhenti sebelum memulai. Padahal menulis tidak harus dimulai dengan kata-kata yang hebat. Menulis cukup dimulai dengan mengingat. Ya, mengingat.
Sebelum pena menyentuh kertas, cobalah kembali ke dalam ingatan. Ingatlah satu peristiwa. Satu momen. Satu pengalaman yang masih tersimpan di kepala.
Misalnya, hari pertama masuk sekolah. Siapa teman pertama yang mengajak berbicara? Apa yang dirasakan saat itu? Apakah gugup? Apakah senang? Apakah takut?
Pertanyaan-pertanyaan kecil seperti itulah yang akan membuka pintu cerita. Karena sesungguhnya satu kenangan akan memanggil kenangan yang lain. Dari satu kalimat lahir satu paragraf. Dari satu paragraf lahir satu halaman. Lalu tanpa disadari, cerita itu selesai dituliskan.
Contoh:
Ini hari pertamaku ke sekolah baru, SMA 61. Aku takut terlambat. Jadi pagi sekali Aku sudah berdiri di depan gerbang sekolah. Belum banyak yang datang.
Aku sudah memakai seragam baru. Walau maaih diizinkan memakai seragam SMP, tapi aku sudah tak sabaran dengan seragam putih abu-abu. Seragam ini masih terasa kaku. Sepatu baru, hitam dan bersih. Tas juga baru di beli minggu lalu.
Aku melihat banyak wajah asing. Ada yang datang bersama teman SMP-nya. Ada yang sudah tertawa-tawa seolah kenal semua orang. Sementara aku? Masih sibuk mengingat nama kelas sendiri. Aku bertanya ke dalam hati sendiri,
"Apakah aku bisa punya teman?"
"Apakah pelajarannya akan sulit?"
"Apakah aku akan betah di sini?"
Dari pertanyaan-pertanyaan itu, lahirlah tulisan yang berkelanjutan.
Sekarang, coba jika mereka diminta untuk membayangkan kembali perjalanan mereka selama satu tahun. Membayangkan, lalu menghadirkan kembali kenangan saat itu. Apa yang membuat mereka bangga? Apa yang pernah membuat mereka kecewa? Siapa yang ingin mereka ucapkan terima kasih? Apa yang berubah dalam diri mereka dibanding setahun yang lalu?
Ajaibnya, setelah pertanyaan-pertanyaan itu muncul, tulisan mereka menjadi lebih panjang. Lebih hidup. Lebih jujur. Karena mereka tidak sedang menulis untuk memenuhi tugas. Mereka sedang bercerita tentang hidupnya sendiri.
Di situlah aku belajar bahwa menulis sebenarnya sangat dekat dengan manusia. Setiap orang bisa menulis karena setiap orang memiliki pengalaman. Setiap orang memiliki cerita karena setiap orang sedang menjalani kehidupan. Yang diperlukan hanyalah keberanian untuk memulai.
Dan mungkin, sedikit kesediaan untuk menoleh ke belakang. Melihat kembali jejak langkah yang pernah dilewati. Sebab sering kali kita tidak kekurangan kata-kata. Kita hanya lupa bahwa di dalam diri kita tersimpan begitu banyak cerita yang menunggu untuk dituliskan.
Maka jika suatu hari kamu merasa tidak tahu harus menulis apa, jangan buru-buru menutup buku. Tutup matamu sejenak. Panggil kembali satu kenangan. Lalu mulailah menulis. Karena setiap perjalanan layak untuk diceritakan. Dan setiap manusia adalah pemilik kisah yang berharga.
Menulis bukan tentang mencari kata-kata yang sempurna. Menulis adalah keberanian untuk menceritakan perjalanan hidup yang pernah kita lalui.
Semangat menulis...
Salam literasi
Baiti Jannati, Senin, 1 Juni 2026
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan