Nurbaiti

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Nomor 297

Nomor 297

Oleh Syahbaty

Jam istirahat baru saja dimulai. Anak-anak keluar kelas dengan berbagai tujuan. Ada yang menuju kantin, ada yang berburu ke toilet dan ada juga yang tetap bertahan di lab fisika sambil bercanda.

Sementara itu, aku duduk di kursi paling belakang. Seperti biasa, tanganku refleks membuka ponsel. Bukan untuk hal penting. Hanya scrolling sebentar sambil menikmati jeda sebelum pelajaran berikutnya dimulai.

Tiba-tiba mataku tertumbuk pada sebuah pesan di grup WhatsApp "3000 Puisi untuk Guru".

Ada dua file Excel yang baru saja dibagikan panitia. Judul file pertama berbunyi Lolos Kurasi. Judul file kedua berbunyi Lolos Kurasi dan Diterbitkan. Entah kenapa jantungku langsung berdetak sedikit lebih cepat.

"Ya Allah, mudah-mudahan puisiku masuk," batinku.

Padahal aku tahu, jumlah peserta yang mengirimkan karya tidak sedikit. Ada 566 peserta dengan total 1.443 puisi yang masuk ke panitia.

Aku menarik napas. Lalu melakukan apa yang mungkin juga dilakukan banyak peserta lain. Aku membuka file kedua. Bismillah. Aku mulai mencari namaku. Huruf demi huruf. Baris demi baris. Naik. Turun. Naik lagi. Aku menyisir daftar itu menggunakan telunjuk. Takut mataku yang minus sedang bercanda. Takut harapan membuatku salah membaca.

Sekali. Dua kali. Aku ulangi lagi. Lalu tiba-tiba... Aku menemukannya. Nomor 297. Namaku ada di sana. Aku terdiam beberapa detik. Kemudian spontan mengucapkan,

"Alhamdulillah..."

Rasanya seperti menemukan sesuatu yang sempat hilang. Bukan karena hadiah. Bukan karena penghargaan. Tetapi karena karya yang lahir dari hati ternyata sampai kepada hati orang lain. Yang membuatku lebih bersyukur lagi, bukan hanya satu puisi yang lolos. Tapi Kelima puisi yang kukirim dinyatakan lolos kurasi dan siap diterbitkan.

Lima puisi. Lima cerita. Lima potongan kehidupan guru yang selama ini kusimpan dalam ingatan.

Tentang murid yang berkata, "Semuanya, Bu..."

Tentang luka kecil ketika seorang murid lupa menyebut kata "Ibu".

Tentang guru mengaji sederhana di desa yang menanam cahaya sepanjang hidupnya.

Tentang hari libur yang ternyata tidak pernah benar-benar libur.

Dan tentang guru yang pulang paling malam demi menghidupi keluarganya.

Tiba-tiba aku teringat suatu hal. Setiap puisi itu lahir dari pengalaman yang nyata. Dari ruang kelas. Dari meja guru. Dari tumpukan koreksian. Dari doa-doa yang diam-diam dipanjatkan setelah mengajar.

Mungkin itulah sebabnya puisi-puisi itu terasa hidup. Karena ia tidak ditulis untuk mengejar kemenangan. Ia ditulis untuk menyimpan rasa.

Sebagai guru fisika, aku sering menjelaskan bahwa setiap aksi akan menghasilkan reaksi. Dalam kehidupan, rupanya prinsip itu juga berlaku. Setiap usaha yang dilakukan dengan sungguh-sungguh akan menghasilkan sesuatu. Tidak selalu berupa kemenangan. Tidak selalu berupa piala. Kadang berupa pengalaman. Kadang berupa pelajaran. Kadang berupa pertemuan dengan orang-orang baik yang mendukung langkah kita.

Dan kali ini, Allah menghadiahkan rasa syukur yang sulit dijelaskan dengan angka. Yang membuatku semakin terharu, buku antologi puisi tersebut direncanakan akan diluncurkan di Jepang pada tanggal 6 Juli 2026.

Aku tersenyum sendiri membayangkannya. Puisi-puisi yang ditulis di sela-sela mengoreksi tugas siswa. Puisi-puisi yang lahir di ruang guru dan di sudut rumah. Puisi-puisi yang ditulis oleh seorang guru biasa.

Akan ikut melakukan perjalanan sejauh itu. Saat menulis bagian ini, aku teringat murid-muridku. Anak-anak yang sering berkata bahwa menulis itu sulit. Bahwa mereka tidak berbakat. Bahwa karya mereka tidak akan dibaca orang. Padahal sering kali yang membatasi bukan kemampuan. Melainkan ketakutan untuk mencoba.

Karena itu, jika ada pelajaran yang ingin kubagikan hari ini, mungkin sederhana saja. Jangan terlalu sibuk menghitung peluang gagal sampai lupa memberi kesempatan pada diri sendiri untuk berhasil.

Jika ada kesempatan, ada peluang, kirimkan tulisanmu. Ikuti lombanya. Tulis puisinya. Selesaikan cerpennya. Bacakan idemu. Karena kita tidak pernah tahu karya mana yang akan mengetuk pintu takdir.

Aku membayangkan seandainya dulu aku memilih tidak mengirimkan puisi-puisi itu. Mungkin hari ini tidak ada cerita tentang nomor 297. Tidak ada rasa haru saat menemukan namaku dalam daftar. Dan tidak ada pelajaran berharga yang bisa kubagikan kepada murid-muridku.

Alhamdulillah. Hari ini, di sela jam istirahat sekolah, aku kembali belajar satu hal. Harapan memang tidak selalu berujung sesuai keinginan. Tetapi harapan yang disertai ikhtiar dan doa selalu layak diperjuangkan.

Dan terkadang, kebahagiaan datang dalam bentuk yang sangat sederhana. Sebuah file Excel. Sebuah nomor urut. Dan sebuah nama yang berhasil ditemukan setelah dua kali menyisir layar dengan telunjuk karena takut mata minus sedang menipu. Mudah-mudahan ini belum berakhir. Aamiin.

Pondok Bambu, Nasa, lab Fisika. Kamis, 4 Juni 2026

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post