Nurbaiti

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Sehari Bersama Al-Qur'an

Sehari Menjadi Tamu Al-Qur'an

Hari itu berbeda dari biasanya.

Pukul enam lewat sedikit, aku sudah berdiri di depan printer ruang Tata Usaha. Beberapa lembar tugas harus segera dicetak sebelum aku meninggalkan sekolah. Tak lama kemudian, aku berkeliling dari kelas ke kelas.

"Hari ini Ibu tidak mendampingi kalian di kelas ya. Ibu ada tugas luar."

Anak-anak menyambut tugas yang kubagikan dengan antusias. Sebagian mungkin berharap tugas itu dapat membantu memperbaiki nilai mereka. Aku tersenyum sendiri. Kadang-kadang aku memang sedikit "obral nilai tugas". Tentu hanya untuk mereka yang mau berusaha. Yang tidak mengerjakan, ya rugi sendiri.

Tak lama kemudian, aku dan Bu Lita meluncur meninggalkan sekolah menuju Hotel Mercure Jakarta Simatupang.

Meninggalkan kelas.

Meninggalkan papan tulis.

Meninggalkan tumpukan koreksian yang setia menunggu di meja guru.

Meninggalkan rutinitas yang hampir setiap hari membersamaiku.

Sesekali ternyata kita memang perlu keluar sejenak dari lintasan yang sama, agar hati bisa melihat pemandangan yang berbeda.

Jakarta pagi itu seperti biasa.

Macet.

Motor-motor saling menyelip mencari celah kehidupan.

"Ada berapa lama lagi, Bang?" tanyaku kepada pengemudi gojek.

"Di aplikasi satu jam lebih, Bu."

Aku melirik layar ponselnya. Dua puluh satu kilometer.

Tidak terlalu jauh, pikirku.

Yang penting semangat jangan sampai bocor di tengah jalan.

Aku pun membuka aplikasi Al-Qur'an. Sesekali melafalkan ayat-ayat yang mungkin akan kubacakan nanti. Persiapanku tidak terlalu istimewa. Namun ada satu hal yang membuatku bahagia.

Hari itu aku akan berada di tengah orang-orang yang mencintai Al-Qur'an.

Dan ternyata, itu sudah cukup membuat hati berdebar.

Setelah satu jam lebih sedikit, aku tiba di hotel.

Acara pembukaan hampir dimulai.

Peserta memenuhi ballroom. Sebagian besar adalah guru-guru dan ASN dari berbagai instansi. Kami kemudian diarahkan ke ruang sesuai cabang lomba masing-masing.

Aku tetap tinggal di ballroom.

Cabang tilawah tidak perlu berpindah ruangan.

Nomor peserta dibagikan.

Dan entah bagaimana caranya, aku mendapatkan nomor satu.

Aku sempat bertanya-tanya dalam hati.

Apakah aku pendaftar pertama?

Atau panitia sedang ingin menguji keberanian guru fisika?

Entahlah.

Yang jelas, takdir sudah mempersilakan aku maju lebih dulu.

Ketika namaku dipanggil, aku berjalan menuju meja hakim.

Lampu hijau menyala.

Aku mulai membaca Surah Hud ayat 84.

Bayyati.

Hijaz.

Nahawan.

Dan kembali ke Bayyati sebagai penutup.

Satu demi satu nada mengalir bersama ayat yang kubaca.

Lampu kuning menyala.

Kemudian merah.

Tanda waktu hampir selesai.

Aku mengatur napas dan menuntaskan bacaan.

Alhamdulillah.

Selesai.

Aku kembali ke kursi peserta dengan perasaan lega.

Di antara para peserta, ada satu momen yang membuatku tersenyum sendiri.

Seorang bapak sedang melantunkan ayat-ayat Al-Qur'an.

Suaranya merdu.

Wajahnya teduh.

Lagu-lagu tilawahnya mengalir begitu indah.

Aku diam-diam mengaguminya.

Dalam hati aku menebak-nebak.

Mungkin usianya empat puluhan.

Paling jauh lima puluh tahun.

Setelah selesai membaca, beliau kembali ke kursi peserta.

Kebetulan kursinya tidak jauh dariku.

Karena penasaran, aku melepas kacamata.

Lalu memperhatikan beliau lebih dekat.

Dan...

Astaghfirullah.

Ternyata usianya sudah mendekati kepala enam.

Aku langsung tersenyum sendiri.

Entah kacamata minusku yang selama ini menipuku.

Atau Al-Qur'an yang benar-benar memuliakan wajah para pecintanya.

Hari itu aku bertemu banyak qari dan qariah hebat.

Sebagian besar guru agama.

Sebagian lagi ASN yang sehari-harinya bergelut dengan pekerjaan kantor.

Di tengah mereka, mungkin hanya aku dan Bu Lita yang datang membawa bekal vektor, percepatan, dan geometri.

Namun anehnya, aku tidak merasa asing.

Karena di hadapan Al-Qur'an, semua gelar dan profesi seperti melebur menjadi satu.

Kami hanya hamba-hamba Allah yang sedang berusaha mencintai firman-Nya.

Dan itulah bagian yang paling membahagiakan.

Aku lupa pada koreksian.

Lupa pada tugas administrasi.

Lupa pada segala hal yang biasanya memenuhi pikiran.

Aku hanya menikmati lantunan ayat demi ayat yang menenangkan hati.

Sore harinya kami kembali ke sekolah.

Tidak membawa piala.

Belum membawa tiket ke tingkat nasional.

Namun kami membawa sesuatu yang jauh lebih berharga.

Ketenangan.

Kebahagiaan.

Dan rasa syukur karena pernah menjadi tamu Al-Qur'an selama satu hari.

Alhamdulillah.

Nikmat mana lagi yang pantas didustakan?

Sore menjelang ketika mobil yang mengantar kami kembali memasuki halaman sekolah.

Aku turun dengan langkah ringan.

Entah karena hati masih dipenuhi lantunan ayat-ayat Al-Qur'an yang kudengar sepanjang hari, atau karena memang rasa bahagia itu masih tersisa.

Aku menaiki tangga menuju lantai dua.

Di ujung tangga beberapa anak berpapasan denganku.

"Bu, buku tugasnya sudah kami letakkan di atas meja."

Mereka menyalamiku lalu berlari menuruni tangga.

Aku tersenyum.

"Wa'alaikumussalam..."

Mungkin mereka bangga sudah menyelesaikan tugasnya.

Mungkin mereka berharap nilai tugasnya sedikit membantu rapor nanti.

Aku melanjutkan langkah menuju ruang guru.

"Assalamu'alaikum..."

Beberapa teman menjawab salamku.

Aku menuju meja.

Lalu...

aku terdiam.

Empat tumpukan buku tugas berdiri tegak di atas meja.

Rapi.

Tenang.

Dan sangat siap untuk dikoreksi.

Sejenak aku menatap mereka.

Mereka menatap balik.

Dalam diam.

Dengan penuh harapan.

Aku menarik napas panjang.

Ternyata menjadi tamu Al-Qur'an selama satu hari memang sangat menenangkan.

Namun menjadi guru...

tetaplah sebuah takdir yang harus dijalani dengan bahagia. 😭

Aku tersenyum.

Lalu dalam hati berdoa,

"Ya Allah...

apakah besok ada tugas luar lagi?" 🤣

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post