Nurbaiti

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Tiga

FATIYA, Tiga Saudara Ketemu Gede

"Persahabatan tidak selalu dimulai sejak kecil. Ada yang justru tumbuh ketika usia sudah dewasa, lalu terasa seperti saudara kandung."

Banda Aceh ternyata tidak hanya menyambutku dengan semilir angin dan langit yang teduh.

Ia juga mempertemukanku kembali dengan dua perempuan yang Allah titipkan sebagai saudara, meskipun kami tidak dilahirkan dari rahim yang sama.

Kami menyebut diri kami...

FATIYA.

Singkatan sederhana.

Fa dari Fatimah.

Ti dari Beti.

Dan Ya dari Aya.

Tiga perempuan.

Tiga kepala.

Tiga karakter.

Satu hati.

Lucunya, kami bukan sahabat sejak kecil.

Kami bukan teman bermain di gang sempit.

Bukan pula teman sebangku di sekolah dasar.

Kami bertemu ketika usia sudah sama-sama bertambah.

Sudah melewati angka empat puluh.

Usia yang kata orang adalah masa ketika seseorang mulai lebih tenang.

Entahlah.

Yang jelas, setiap kali kami bertemu, rasanya justru seperti kembali menjadi anak-anak.

Tertawa tanpa sebab.

Saling menggoda tanpa baper.

Dan saling menyayangi tanpa syarat.

Di antara kami bertiga, ada Fatimah.

Kalau orang bertanya, siapa yang paling sabar?

Jawabannya hampir pasti Fatimah.

Entah bagaimana caranya, perempuan ini nyaris tidak pernah marah.

Aku bahkan curiga, Allah memberi stok kesabaran lebih banyak kepadanya.

Sebab dua adiknya...

tidak pernah kehabisan ide untuk menjahilinya.

Termasuk aku.

🤣

Lalu ada Beti.

Si bungsu.

Tubuhnya mungil.

Dulu berat badannya bahkan belum menyentuh angka lima puluh kilogram.

Tetapi jangan salah.

Di balik tubuh kecil itu tersimpan keberanian yang sering membuat kami geleng-geleng kepala.

Kalau ada ide nekat...

biasanya berasal dari Beti.

Dan kalau sudah begitu...

Fatimah tinggal menarik napas panjang.

Sementara aku...

tertawa.

🤣🤣

Sedangkan aku...

Aya.

Mereka sering menggodaku sebagai yang paling tinggi.

Katanya juga paling putih.

Entahlah.

Kalau soal tinggi mungkin benar.

Kalau soal cantik...

biarlah itu menjadi rahasia mereka berdua.

Yang jelas, di antara kami bertiga, tidak pernah ada yang merasa lebih.

Karena persahabatan tidak dibangun oleh warna kulit.

Tidak pula oleh bentuk tubuh.

Tetapi oleh hati yang saling menerima.

Kami tinggal berjauhan.

Bagok.

Jakarta.

Kuala Simpang.

Kalau melihat peta, rasanya seperti tiga titik yang dipisahkan jarak.

Namun anehnya...

kami selalu menemukan alasan untuk bertemu.

Entah sudah berapa kali reuni kecil kami lakukan.

Dan setiap pertemuan selalu menghasilkan satu hal.

Cerita.

Banyak sekali cerita.

Dan aku yakin...

pertemuan kali ini pun akan meninggalkan cerita yang tak kalah seru.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post