Dangdutan di Dalam Perut
Dangdutan di Dalam Perut
Oleh: Syahfaty
Pagi itu aku sama sekali tidak memasak nasi.
Dalam bayanganku, siang nanti akan menikmati hidangan resepsi pernikahan anak sahabat suamiku. Undangannya jelas tertulis, pukul dua belas siang.
Untuk berjaga-jaga, sekitar pukul sembilan aku memasak tiga mangkuk mi rebus. Lumayan lengkap. Ada bawang merah, bawang putih, cabai, telur, dan seledri. Sarapan sederhana itu menjadi bekal sebelum berangkat.
Sebelum itu, hampir satu setengah jam aku sibuk merawat pohon jambu.
Dua minggu kutinggalkan karena pulang ke Aceh. Ketika kubuka satu per satu "baju" plastik yang melindungi buahnya, banyak yang gugur. Dalam hati aku membuat teori sendiri.
Mereka bukan mati karena kepanasan.
Mungkin mereka kehausan.
Berjemur setiap hari, tetapi kekurangan air. Daunnya menguning, buahnya berguguran.
Innalillahi wa inna ilaihi raji'un...
Semoga gugurnya menjadi pupuk bagi semangatku merawat yang masih bertahan.
Tepat menjelang siang kami tiba di gedung.
Megah.
Ramai.
Meriah.
Namun... pengantin baru justru memasuki ruangan hampir pukul satu siang.
Aku mulai melirik jam.
Belum salat Zuhur.
Belum makan.
Sementara acara seremoni masih berlangsung.
Lalu terdengarlah musik.
Bukan dari pengeras suara.
Melainkan dari dalam perutku.
Dangdut.
Semakin lama semakin semangat.
Aku sampai ingin menjauh dari kerumunan.
Takut nanti ada yang ikut berjoget mengikuti irama perutku.
Ketika prasmanan akhirnya dibuka, antreannya sudah mengular.
Suamiku menoleh.
"Masih kuat antre?"
Aku langsung menjawab tanpa berpikir panjang.
"Apa kita pulang saja?"
Rupanya jawaban itu memang sedang ditunggunya.
Beliau tersenyum lebar.
Kami keluar gedung dengan ringan.
Perut masih berdangdut.
Tetapi hati tenang.
Kami mencari masjid terlebih dahulu.
Entah mengapa, masjid kecil di pinggir jalan itu justru menjadi tempat paling menenangkan hari itu. Mukena bersih. Karpet tebal dan harum. Tempat wudu' mengilap. Bahkan marbot dengan ramah menyalakan AC khusus ruang perempuan.
Aku tersenyum sendiri. Untung hari ini riasanku sangat sederhana. Hanya sedikit bedak dan lipstik tipis. Kalau sampai berdandan lengkap hanya untuk batal makan prasmanan, mungkin aku perlu negosiasi lagi dengan nasib.
Selesai salat, kami mencari makan.
Bukan restoran mewah.
Bukan hotel.
Hanya membeli makanan lalu menikmatinya di rumah.
Berdua.
Sambil mengobrol.
Sambil tertawa mengenang "dangdutan" di dalam perut tadi.
Hari itu aku mendapat pelajaran sederhana.
Makanan paling enak ternyata bukan yang tersaji di gedung megah.
Makanan paling nikmat adalah yang datang ketika rasa lapar bertemu dengan rasa syukur.
Alhamdulillah.
Baiti Jannati. Ahad, 12 Juli 2026.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan