Ketika Awan Bersembunyi dan Sayap Bercerita
Ketika Awan Bersembunyi dan Sayap Pesawat Bercerita
Oleh: Syahfaty
Aku sempat kecewa.
Keinginan bertemu "sang supir besi terbang" belum juga terwujud. Sejak duduk di ruang tunggu Bandara Sultan Iskandar Muda, aku sudah menyiapkan beberapa pertanyaan. Tentang kecepatan pesawat, ketinggian jelajah, hingga bagaimana seorang pilot memandang langit yang setiap hari menjadi tempat bekerjanya.
Namun Allah mempunyai rencana lain. Aku tidak bertemu pilot. Sebagai gantinya, Allah menghadiahkanku kursi 19A. Persis di dekat jendela. Sebelah kiri. Tepat di belakang sayap pesawat. Alhamdulillah.
Di sebelahku duduk seorang ibu bersama anak gadisnya. Kami sempat saling berkenalan, lalu tenggelam dalam kesibukan masing-masing. Aku sibuk memandang keluar. Hari itu langit berbeda.
Aku merindukan awan-awan putih yang biasanya menggumpal seperti kapas, berbaris, lalu berubah bentuk sesuka Sang Pencipta.
Namun rupanya mereka sedang bermain petak umpet. Mungkin awan-awan itu malu. Mereka menyamarkan diri di balik hamparan kabut kelabu yang begitu luas.
Dari balik jendela kecil itu, laut dan langit seolah memakai warna yang sama. Aku sulit membedakan batas keduanya. Sesekali bumi tampak melengkung lembut. Aku hanya mampu berbisik, "Subhanallah..." Betapa Allah melukis semesta dengan keindahan yang tak pernah habis dipandang.
Perhatianku kemudian berpindah ke sayap pesawat. Saat pesawat mulai mengudara, bagian belakang sayap bergerak perlahan. Ketika hendak mendarat, bagian itu kembali berubah. Bahkan setelah roda menyentuh landasan, bagian atas sayap terangkat tinggi hingga aku dapat melihat mekanisme di dalamnya.
Baru kali ini aku melihatnya sejelas itu. Aku juga melihat beberapa batang kecil di bagian belakang sayap. Sekilas seperti paku-paku kecil yang menonjol. Rasa penasaranku langsung muncul.
Apa fungsinya? Aku membatin, "Andai saja tadi bisa bertemu sang supir besi terbang..." Beliau pasti bisa menjawab semua rasa ingin tahuku.
Di tengah lamunan itu, pesawat mulai memasuki hamparan kabut yang semakin tebal. Pemandangan di luar jendela perlahan menghilang. Yang tampak hanya putih keabu-abuan.
Tak lama kemudian terdengar suara dari kokpit. "Kita sedang memasuki cuaca yang kurang baik diharapkan kepada seluruh penumpang agar tetap tenang,menegakkan sandaran kursi, dan mengenakan sabuk pengaman".
Perlahan pesawat mulai bergetar. Aku sempat berpikir, "Apakah kabut itu bergesekan dengan badan pesawat?" Ternyata, setelah kupikirkan kembali, bukan kabut yang membuat pesawat berguncang. Kabut hanyalah kumpulan titik-titik air yang sangat halus. Yang sedang bekerja saat itu adalah udara. Aliran udara yang tidak beraturan membuat pesawat bergoyang.
Dalam fisika, gejala itu dikenal sebagai turbulensi. Aku tersenyum sendiri. Bahkan di balik rasa takut, Allah masih memberiku kesempatan belajar. Namun, seberapa banyak pun teori yang kupahami, ada satu hal yang tetap sama. Saat pesawat berguncang, tidak ada lagi yang dapat kulakukan selain menyerahkan diri kepada Allah.
Tas tidak bisa menolong. Ilmu fisika pun tidak bisa menghentikan turbulensi. Yang mampu menenangkan hati hanyalah doa. Bibirku mulai berzikir pelan. Mungkin banyak penumpang lain melakukan hal yang sama.
Di langit, manusia akhirnya sadar. Setinggi apa pun teknologi mampu membawa kita terbang, tetap ada batas yang tidak bisa dikendalikan oleh manusia. Di sanalah tawakal menemukan maknanya.
Hari ini aku memang tidak berhasil bertemu dengan sang supir besi terbang. Namun aku pulang membawa sesuatu yang lebih berharga. Rasa kagum kepada ilmu. Rasa takjub kepada ciptaan Allah. Dan keyakinan bahwa setiap perjalanan selalu menyimpan pelajaran, selama kita tidak hanya melihat, tetapi juga mengamati.
Alhamdulillah.
Sabtu, 11 Juli 2026. Dalam pesawat, perjalanan Aceh-Jakarta
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
