Nurbaiti

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Latihan Jadi Orang Kaya

Latihan Jadi Orang Kaya

Oleh: Syahfaty

Menjelang waktu Zuhur, aku dan Caca pamit sebentar dari Rumah Sakit dr. Zainoel Abidin.

"Dek, kita keluar bentar ya."

Tujuan kami sederhana. Belanja beberapa keperluan. Sekaligus menghirup udara di luar kamar rumah sakit yang sudah hampir seminggu menjadi "rumah kedua".

Kami menuju sebuah supermarket yang baru pertama kali kukunjungi. Letaknya strategis, masih di kawasan pusat Kota Banda Aceh. Begitu masuk, mataku langsung sibuk ke sana kemari. Rak demi rak berjejer rapi. Lampunya terang. Pendingin ruangan membuat udara terasa sejuk.

Kami berjalan santai, tanpa target yang muluk-muluk. Kalau istilah orang sekarang.. Cuci mata. Gratis pula.🤣

Rasa penasaranku membawaku menaiki eskalator menuju lantai dua. Di sinilah godaan itu dimulai. Perabot rumah tangga tersusun begitu cantik. Sofa empuk. Meja makan elegan. Lampu gantung yang berkilau. Jam dinding dengan desain unik. Tempat tidur yang membuat siapa pun ingin langsung merebahkan badan. Belum lagi hiasan-hiasan rumah yang membuatku berpikir,

"Kalau dibawa pulang, rumahku yang berubah atau dompetku yang pingsan?" 🤣

Seorang pelayan menghampiri kami dengan ramah. Ia menawarkan beberapa produk. Aku hanya tersenyum sambil melihat-lihat. Tiba-tiba Caca berbisik,

"Bun... kita kayak orang kaya ya."

Aku menoleh.

"Āmīn...."

"Kita latihan dulu, Dek."

"Lihat deh, penampilan Bunda sudah seperti orang kaya belum?"

Caca menatapku dari ujung kepala sampai ujung kaki. Lalu menjawab tanpa ragu.

"Orang kaya sekarang penampilannya biasa aja, Bun."

Ia berhenti sebentar.

"Malah kadang kelihatannya kayak orang kere."

Kami langsung tertawa bersamaan. Untung saja tidak ada yang menoleh. Atau mungkin... ada yang ikut tersenyum mendengar percakapan kami.

Tak lama kemudian, azan Zuhur berkumandang dari pengeras suara supermarket.

Lantunannya merdu.

Sejuk.

"Musala berada di lantai tiga."

Begitu bunyi pengumuman.

Kami kembali menaiki eskalator.

Lantai tiga ternyata tidak kalah menarik.

Barang-barang yang dipajang semakin "berkelas".

Ada yang harganya belasan juta.

Ada pula yang puluhan juta.

Aku hanya bisa mengangguk pelan.

Masya Allah...

Indah memang.

Melihat tidak dipungut biaya.

Alhamdulillah.

Musalanya pun membuat hati nyaman.

Bersih.

Mukena yang disediakan harum.

Tempat wudunya rapi.

Musala laki-laki dan perempuan dipisahkan.

Aku selalu senang jika menemukan tempat salat yang dirawat dengan baik.

Di tengah kesibukan pusat perbelanjaan, Allah tetap menyediakan ruang untuk hamba-Nya bersujud dengan tenang.

Belanja selesai.

Dua kantong besar sudah berada di tangan kami.

Lumayan berat.

Tetapi hati terasa ringan.

Baru beberapa langkah menuju parkiran, Caca berkata,

"Bun... Adek lapar."

Aku spontan menjawab,

"Sama!"

Kami saling pandang.

Lalu kompak berbelok.

Motor bisa menunggu.

Perut tidak.

🤣

Pilihan kami jatuh pada sebuah rumah makan Padang.

Begitu melihat bangunannya, Caca langsung berbisik,

"Bun... kayaknya mahal deh."

Aku tersenyum.

"Sesekali tidak apa-apa."

"Bunda punya uang."

"Paling habis selembar merah."

Maksudku tentu saja uang seratus ribu rupiah.

Caca langsung menyambung candaan kami sejak di supermarket.

"Eh iya ya..."

"Kita kan lagi latihan jadi orang kaya."

Kami kembali tertawa sebelum membuka pintu kaca restoran.

"Mau dipilih sendiri atau dihidangkan, Bu?"

tanya pelayan dengan ramah.

"Pilih sendiri saja."

Kami berdiri di depan etalase kaca.

Rendang.

Telur bulat.

Singkong tumbuk.

Es jeruk.

Air hangat.

Sederhana.

Tetapi cukup membuat perut kami berdamai.

Di luar, matahari Banda Aceh sedang terik-teriknya.

Di dalam restoran, udara sejuk menyelimuti setiap meja.

Orang-orang makan siang dengan tenang.

Sesekali terdengar suara sendok beradu dengan piring.

Aku menikmati suasana itu.

Sederhana.

Tetapi membahagiakan.

Selesai makan, Caca kembali dari kasir.

"Bun..."

"Seratus lima belas."

Aku mengangguk.

Lalu ia berkata sambil tersenyum,

"Itu bisa buat uang jajan Adek lima hari."

Aku tertawa kecil.

"Iya."

"Tapi tidak apa-apa."

"Sesekali kita menikmati makanan enak."

"Sesekali kita memberi hadiah kecil untuk diri sendiri."

Sebab hidup bukan hanya tentang berhemat.

Sesekali...

ada ruang untuk bersyukur dengan cara menikmati nikmat yang Allah berikan.

Kami kembali menaiki Beat biru.

Angin siang menyambut perjalanan pulang menuju rumah sakit.

Di belakang kami tertinggal supermarket, restoran, dan kantong-kantong belanja.

Di dalam hati kami tersimpan sesuatu yang jauh lebih berharga.

Obrolan.

Tawa.

Dan kenangan sederhana antara ibu dan anak.

Mungkin...

itulah arti "latihan jadi orang kaya" yang sesungguhnya.

Bukan karena mampu membeli barang-barang mahal.

Melainkan karena merasa cukup dengan apa yang Allah titipkan, lalu menikmatinya bersama orang yang kita sayangi.

Alhamdulillah.

Selasa, 7 Juni 2026. RS ZA. Banda Aceh

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post