Liburan yang Mengajariku Bersyukur
Liburan yang Mengajariku Bersyukur
Oleh:Syahfaty
Ketika mendengar kata liburan, banyak orang membayangkan pantai, gunung, pusat perbelanjaan, atau tempat wisata yang indah.
Liburanku tahun ini berbeda. Sehari setelah memberikan rapor kepada orang tua murid, dengan seizin suami, aku terbang ke Aceh. Tujuan utamaku bukan untuk berlibur, melainkan menemani kakakku yang sedang sakit.
Dua hari di rumah, kami membawanya ke Rumah Sakit Zainal Abidin, Banda Aceh. Jaraknya tidak sampai sepuluh kilometer dari rumah, tetapi perjalanan itu membawaku melihat banyak pelajaran hidup.
Selama sebelas malam aku tinggal di Ruang Raudhah 3, kamar nomor 6. Aku bukan dokter. Bukan perawat. Aku hanya seorang penjaga pasien. Namun, justru dari tempat itulah aku belajar menjadi pengamat kehidupan.
Enam tempat tidur di dalam satu ruangan dihuni oleh enam cerita yang berbeda. Ada yang baru mengalami kecelakaan, ada yang harus menjalani operasi batu empedu, ada yang berjuang melawan diabetes, ada yang kakinya tiba-tiba membengkak, ada yang sakit lambung, dan ada pula yang menderita varises.
Setiap hari ada yang datang. Setiap hari ada yang pulang. Ada yang pulang sambil tersenyum. Ada yang pulang dengan kursi roda.
Aku juga melihat keluarga yang setia menjaga tanpa mengenal siang dan malam. Sebagian harus menghitung setiap lembar uang yang mereka miliki. Sebagian lagi menahan lelah agar orang yang mereka cintai segera sembuh.
Di rumah sakit aku semakin yakin, sehat adalah nikmat yang sering terlambat kita syukuri. Aku belajar bahwa senyum seorang pasien yang mulai membaik jauh lebih indah daripada pemandangan tempat wisata.
Aku belajar bahwa tangan seorang perawat yang menenangkan pasien adalah bentuk kasih sayang yang nyata. Aku belajar bahwa keluarga adalah obat yang tidak dijual di apotek. Dan yang paling penting, aku belajar bahwa Allah tidak pernah salah memilih hamba-Nya untuk menerima sebuah ujian.
Mungkin sakit terasa berat. Namun, jika diterima dengan ikhlas, insya Allah setiap rasa sakit menjadi penggugur dosa.
Liburanku memang tidak dipenuhi foto-foto wisata. Tetapi liburan ini dipenuhi pelajaran tentang kesabaran, kepedulian, dan rasa syukur. Karena ternyata... kadang-kadang Allah tidak mengajak kita berjalan-jalan melihat keindahan dunia. Allah justru mengajak kita melihat kehidupan, agar hati kita tumbuh menjadi lebih lembut.
Baiti Jannati. Malaka Tiga, Selasa, 29 Muharram 1448 H, 14 Juli 2026
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan