Tangga yang Masih Menunggu FATIYA
Tangga yang Masih Menunggu FATIYA
Oleh: Syahfaty
Sebuah foto yang memancing senyum lebar di wajahku. Foto itu muncul begitu saja di grup WhatsApp Keluarga FATIYA. Ucapan selamat dari Kak Aya sudah lebih dulu menghiasi layar telepon genggamku. Aku menyusulnya dengan menuliskan doa terbaik.
Kini, status kami perlahan bergeser. Dua tahun lalu aku resmi menyandang gelar baru. Aku menunggu gelar yang sama untuk Kak Imah selama dua tahun. Kini kami menunggu gelar kak Aya yang mungkin menyusul kami beberapa tahun ke depan. Gelar yang tak pernah tertera di ijazah atau sertifikat. Namun terasa jauh lebih mulia: "Nenek"
Lucu juga mengucapkannya. Dulu kami bertiga sibuk mengejar IPK dan cita-cita mulia ketika kuliah. Cita-cita sederhana: "Menjadi guru" Alhamdullah, kami bertiga sudah menggapainya,
Sekarang dua di antara kami punya kesibukan baru, sibuk menggendong cucu. Sementara Kak Aya, akan menyusul kami, In Syaa Allah.
Kalau digoda, kakakku yang masih jelita itu biasanya hanya tertawa. Tidak membela diri. Tidak juga protes. Begitulah FATIYA. Saling menggoda sudah menjadi bahasa kasih kami yang paling fasih.
"Ayo, Kak... kita reuni."
Kalimat itu kutulis dengan semangat, sambil menatap tiket pesawat di tanganku. Bayanganku melayang jauh mendahului tubuh. Aku sudah membayangkan kami duduk bertiga, tertawa tanpa sebab, saling memotong cerita, lalu tiba-tiba terdiam karena mengenang masa-masa ketika rambut kami masih hitam pekat dan sempurna.
Aku memang pulang karena Cek sedang sakit. Namun Allah rupanya menyelipkan hadiah lain. Kak Imah baru saja menyambut tamu mungil di keluarganya. Seorang bayi berusia tiga hari. Hatiku diam-diam berdoa, "Ya Allah... gerakkan hati Kak Aya untuk datang." Aku ingin FATIYA kembali lengkap. Mungkin begitu juga keinginan kedua kakakku itu. Tiga perempuan. Satu bingkai.
Ahad, 28 Juni 2026. Sehari setelah aku tiba di Banda Aceh. Aku diantar Aton menjenguk bayi mungil itu di Rumah Sakit Cempaka Lima, Lambhuk. Melihat bayi yang baru tiga hari mengenal dunia selalu membuatku terdiam. Wajahnya begitu tenang. Tangannya sekecil daun muda.
Aku tersenyum sendiri. Seketika terkenang beberapa tahun yang lalu, saat masa ketika aku magang di klinik bersalin. Aku yang senior secara usia, dan lebih dari 30 tahun menjadi guru, tidaklah sulit berkomunikasi dengan sang ibu bayi. Dan pengalaman pernah melahirkan tiga kali membuatku paling senior di klinik itu. Bukan pengalaman sebagai bidan. Ach... Apakah dunia menipu? Kurasa tidak benar secara absolut.
Begitulah hidup. Di satu sisi ada cucu yang baru lahir. Di sisi lain ada tiga perempuan yang persaudaraannya sudah berusia empat puluh tahun. Waktu yang tidak boleh dikata sebentar. Bukan waktu yang singkat. Generasi berganti. Kasih sayang tetap tinggal.
Esok harinya. Aku sudah tidak sabar sejak pagi. Sesekali aku melihat ke jalan. Sesekali kulihat jam. Kupantau dari layar mini yang tak jauh dari ku. Hari itu Kak Imah, Kak Aya yang ditemani keponakannya akan datang ke rumah. Rumah tempat segala kenangan tersimpan indah di memori kami.
Aku memilih duduk di tangga depan. Tangga sederhana. Namun bagiku, ia bukan sekadar anak tangga. Ia adalah saksi. Saksi bisu yang empat puluh tahun lalu pernah melihat tiga gadis muda bercanda, bermimpi, saling menguatkan, lalu berjalan mengejar masa depan.
Kini... Tangga yang sama menyambut kami kembali. Dengan rambut yang mulai dihiasi uban. Dengan gelar yang bertambah. Dengan cerita yang semakin panjang.
Mobil yang dipesan online itu berhenti di jalan. Pintu terbuka. Mereka bertiga turun. Walau sudah tidak seperti dulu, ingatan mereka masih kuat. Setiap langkah kaki menuju rumah adalah langkah indah yang masih terukir kenangan.
Tiba di halaman rumah, kami saling memandang. Tidak ada aba-aba. Tidak ada yang berkata, "Ayo peluk." Tubuh kami bergerak begitu saja. Kami berpelukan, bukan bersalaman. Lama. Hangat.
Seolah-olah empat puluh tahun itu hanya jeda sebentar. Entah siapa yang mulai tertawa. Yang jelas, setelah pelukan itu, tawa kami langsung pecah.
"Masih ingat...?" Kalimat itu menjadi pembuka puluhan cerita berikutnya. Ada kenangan yang sudah mulai samar. Ada pula yang masih jelas, seolah baru terjadi kemarin sore. Walau ini bukan pertama kali kami melepaskan rindu bertiga, tapi selalu merasa sudah sangat lama tak bertemu.
Lalu... Seperti ibu-ibu zaman sekarang. Kami tentu tidak lupa mengabadikan momen. Foto bertiga di tangga depan. Foto yang mungkin kelak akan dilihat cucu-cucu kami. Dan mungkin nanti mereka akan bertanya,
"Nek, kenapa ketawanya lebar sekali?" Mungkin jawabannya sederhana. "Karena persahabatan tidak mengenal usia."
Ngobrol tanpa tema. Hahahihi bertiga. Padahal ada Cek, Cek Mah, Icha dan Po. Tapi seakan mereka penonton. Film tanpa layar. 😁. Kami saling bercerita, saling memotong, saling mendahului seakan takut waktu akan cepat berlalu dan kami tak sempat bercerita. Mungkin yang nyaksiin sempat ngiri dan akan berkata, "Ah...lucunya tiga saudara itu kalau ketemu". Atau akan berkata, "duh kayaknya dunia ini milik mereka bertiga, kayaknya kita ngekost deh" Atau, "kita kapan mau merespon mereka?"
Begitulah kakak beradek. Lahir dari rahim yang berbeda, namun akur melebihi saudara kembar. Akhirnya jam makna siang pun bergeser menuju Asar.
Makan siang yang sangat sederhana. Tidak ada hidangan mewah. Tidak ada restoran berbintang. Namun kebersamaan selalu mempunyai bumbu yang tidak dijual di mana pun. Namanya...rasa syukur.
Selesai makan, Kak Aya bilang mau "meulalak". Aku tersenyum, " Ikuuut...!" Seruku senang, meski was-was takut ditolak. Hehe. Aku dan kak Imah segera shalat Asar dan siap berangkat setelahnya.
Sepuluh menit lagi, mobil jemputan akan sampai. Kami keluar rumah, menuju jalan. Jalan bertiga berangkulan, ketawa ngakak gak jelas. Kami tak tahu kemana abang grab membawa kami atas permintaan kak Aya. Tahu-tahu, kami sampai di tempat tujuan.
"Ayo... kita makan mie kocok." Ajak kak Aya.
Pilihan jatuh pada Mie Kocok Si Doel. Langganan kakak cantikku sejak kuliah. Siang malam yang berubah nama, entah sejak kapan. Mungkin sejak aku menjadi warga ibu kota Indonesia sejak 1998.
Aku dan Kak Imah sebenarnya sudah menyiapkan uang. Tetapi seperti biasa... Mata uang kami seperti bukan Indonesia punya. Gak laku. Qiris Kak Aya selalu lebih cepat.
"Sudah... biar Kakak saja."
Kami saling pandang. Lalu tertawa. Menutup dompet kembali dengan hati yang kurang sempurna. Empat puluh tahun berlalu. Satu hal yang tidak berubah. Kak Aya tetap Kak Aya. Perempuan berhati luas yang selalu ingin membahagiakan adik dan kakaknya.
Sore mulai turun. Kak Imah harus pulang. Kami pun berpisah sementara. Perut penuh berisi es campur dan mie kocok. Sampai susah bergerak. Alhamdulillah.
Aku melanjutkan perjalanan bersama Kak Aya menuju penginapannya di Prada. Perjalanan itu terasa singkat. Padahal yang kami lakukan hanya...bercerita. Tentang anak-anak. Tentang cucu. Tentang pekerjaan. Tentang kesehatan. Tentang masa muda yang sekarang lebih sering kami kenang sambil tertawa daripada sambil menangis.
Menjelang magrib, Kak Aya memesanku motor online. Langit Banda Aceh sore itu tidak lagi berwarna jingga. Tapi abu-abu tua. Langit ikut mendung, mungkin seperti hati kami yang enggan berpisah.
Aku tersenyum sendiri, ingat konsep Resonansi. Ketika dua benda memiliki frekuensi getaran yang sama, mereka akan saling menguatkan meski dipisah oleh ruang. Empat puluh tahun ternyata bukan penghalang bagi Resonansi jiwa kami.
Justru waktu telah mengajarkan kami bahwa sahabat sejati bukanlah mereka yang selalu berada di samping kita setiap detik. Melainkan mereka yang, ketika akhirnya bertemu kembali, mampu membuat kita merasa...tidak pernah benar-benar berpisah.
Lamklat, Baiti Jannati, Senin 29 Juni 2026
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
