Nurbaiti

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Salah Orang, Benar Pelajaran.

Salah Orang, Benar Pelajaran

Oleh: Syahfaty

Malam ke-11 di RS ZA, Banda Aceh.

Rumah sakit memang tempat yang aneh. Bukan aneh karena suasananya, tetapi karena di sanalah aku sering dipertemukan dengan orang-orang yang tidak pernah kukenal sebelumnya. Anehnya lagi, mereka justru meninggalkan pelajaran yang sulit kulupakan.

Kemarin, aku berjalan menuju sebuah tempat tidur pasien.

"Oh... pakai krem," sapaku ramah sambil mendekat.

Ketika jarakku tinggal beberapa langkah, aku langsung berhenti.

Lho... Beda orang! 🤣

Rasanya ingin putar balik. Namun tentu tidak mungkin. Sudah telanjur menyapa. Akhirnya aku tersenyum dan melanjutkan langkah.

"Iya, Kak," jawabnya singkat sambil tersenyum ramah.

Ternyata beliau seorang ibu muda. cantik. Di sampingnya ada anak gadis kelas 2 SMA, yang sesekali memperhatikan kami dengan tenang. Dari obrolan ringan, aku mengetahui bahwa sehari-harinya ia berjualan kue. Katanya, toko kuenya yang sederhana cukup ramai didatangi pembeli.

Lalu ia mulai bercerita.

Qadarullah, beberapa hari lalu ia mengalami musibah. Setelah selesai menggoreng, anaknya lupa mematikan kompor. Api perlahan membesar. Asap hitam memenuhi dapur. Ia segera mengambil kain yang sudah dibasahi untuk menutup wajan berisi minyak panas.

Bukannya padam, api justru menyambar wajahnya. Minyak panas tumpah mengenai kedua tangan, sebagian perut, dan pahanya. Kulitnya melepuh. Beruntung saat itu ia memakai kain sarung sehingga dapat segera melepaskannya sebelum luka bertambah parah.

Ia berlari mencari air dan merendam tubuhnya, lalu segera dibawa ke rumah sakit. Yang membuatku terdiam bukanlah luka-lukanya. Melainkan caranya bercerita.

Tidak ada satu pun kalimat yang menyalahkan anaknya. Tidak ada nada kesal. Tidak ada penyesalan. Dengan suara lembut ia hanya berkata,

"Allah punya banyak cara untuk menegur hamba-Nya."

Aku menunduk. Kalimat itu terasa begitu ringan diucapkan, padahal musibah yang dialaminya tidak ringan.

Obrolan kami pun berlanjut.

"Tinggal di mana, Kak?" tanyaku.

Ternyata kami berasal dari daerah yang sama.

Entah mengapa, dengan polos aku bertanya lagi,

"Bisa ngomong Aceh?"

Beliau langsung tersenyum.

"Jeut. Loen ureung Sigli."

Aku spontan tertawa.

Ya Allah... Dari tadi aku sudah capek-capek berbicara dalam bahasa Indonesia. Kalau tahu sama-sama orang Aceh, mungkin sejak awal kami sudah bercakap-cakap dengan bahasa daerah.

Beliau ikut tersenyum melihat ekspresiku. Suasana kamar yang semula terasa sunyi berubah menjadi hangat. Sebelum pamit, mataku sempat melihat tempat tidur yang sedang ditempatinya.

Kemarin, tempat tidur itu dihuni pasien lain yang wajahnya juga sedang dirawat. Bedanya, yang satu mengalami kecelakaan lalu lintas, sedangkan ibu ini karena kobaran api.

Tempat tidurnya sama. Ceritanya berbeda Di rumah sakit aku belajar, setiap ranjang menyimpan ujian yang tidak pernah sama. Ada yang sedang diuji dengan sakit, ada yang dengan kehilangan, ada pula yang dengan musibah yang datang tanpa diduga.

Dan hari itu aku juga belajar bahwa Allah bisa mempertemukan kita dengan seseorang melalui cara yang sangat sederhana.

Bahkan... karena salah menyapa orang. Ternyata, salah orang tidak selalu berarti salah langkah. Kadang, justru di sanalah Allah sedang menyiapkan pelajaran yang paling berharga.

Alhamdulillah.

Raudhah Tiga, Kamar 6 no 4. RS, ZA. Jum'at, 10 Juli 2026

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post