Masih Tiga Puluh Pasien Lagi
"Masih Tiga Puluh Pasien Lagi ."
Oleh: Syahfaty
Malam sudah semakin larut. Entah sudah berapa kali aku menguap. Ini malam ketujuh aku menginap di rumah sakit menemani kakakku. Jadwal kontrol Selasa lalu ternyata berubah menjadi rawat inap. Sejak itu, ruang perawatan menjadi alamat sementara kami.
Ada satu kebiasaan baru yang tanpa kusadari muncul selama menjaga kakak. Aku jadi lebih sering memperhatikan orang-orang yang bekerja di balik pintu rumah sakit. Perawat, petugas kebersihan, satpam, hingga dokter yang datang silih berganti.
Hari ini, seorang dokter muda membuka perban bekas amputasi kakakku. Aku memperhatikannya diam-diam.
Masih muda sekali. Dalam pikiranku, usianya mungkin belum kepala tiga. Kalau dipikir-pikir, mungkin seusia murid-murid SMA yang pernah kuajar delapan tahun lalu.
Aku bahkan sempat bergumam dalam hati.
"Kumisnya saja belum ada..."
Aku tersenyum sendiri. Namun beberapa menit kemudian, senyum itu berubah menjadi rasa kagum.
Tangannya begitu telaten. Perban dibuka perlahan. Luka diperiksa dengan saksama. Bagian tertentu ditekan lembut hingga darah yang masih tertahan keluar sedikit demi sedikit.
Aku memang bukan tipe penjaga pasien yang bisa diam.Rasa ingin tahuku selalu lebih besar daripada rasa sungkan.
"Infeksi ya, Dok?" tanyaku.
Beliau mengambil kasa yang terkena darah, lalu mendekatkannya ke hidung.
"Tidak. Kalau infeksi biasanya berbau. Yang kiri sudah bagus. Yang kanan masih basah dan masih mengeluarkan darah."
Aku mengangguk pelan. Jawaban sederhana itu justru membuka pengetahuan baru bagiku. Rasa penasaran kembali muncul ketika melihat bentuk luka bekas amputasi.
Aneh.
Bentuknya seperti gelas yang diberi penutup. Kulitnya menutup pas, dijahit rapi membentuk setengah lingkaran.
"Dok, penutup kulit itu diambil dari bagian mana?"
Beliau tersenyum.
"Diambil dari kulit bagian belakang. Bagian bawah tidak dijahit."
Di kepalaku langsung tergambar prosesnya. Kulit dan sedikit jaringan dari belakang dilipat ke depan, dipotong menyesuaikan bentuk tungkai yang diamputasi, lalu dijahit membentuk penutup baru.
"Begitu ya, Dok?"
Beliau mengangguk membenarkan bayanganku.
Aku kembali kagum. Allah menciptakan tubuh manusia dengan begitu menakjubkan. Bahkan ketika sebagian harus diangkat demi menyelamatkan nyawa, masih ada bagian lain yang dapat membantu menutup luka.
Sebelum menutup kembali perban, dokter memotret luka dari empat arah. Depan. Kanan. Kiri. Atas. Setiap sudut didokumentasikan sebagai laporan kepada dokter bedah.
Kemudian diambil sedikit sampel darah menggunakan pipet kecil untuk diperiksa di laboratorium. Setelah itu luka dibersihkan menggunakan cairan antiseptik, lalu diperban kembali dengan rapi.
Aku memandangi wajah dokter muda itu. Entah kenapa, yang kulihat bukan lagi seorang dokter. Yang kulihat adalah seorang anak muda yang sejak pagi berdiri berpindah dari satu pasien ke pasien lain. Dari satu tempat tidur ke tempat tidur lainnya. Dari satu kamar ke kamar berikutnya. Luar biasa.
"Capek ya, Dok?"
Ia tersenyum.
"Masih tiga puluh pasien lagi."
Aku spontan melihat jam. Hari sudah sore. Kupikir pekerjaannya sebentar lagi selesai.
"Bisa sampai malam ya, Dok?"
"Mungkin sampai jam tiga pagi."
Aku terdiam. Jam delapan pagi hingga tiga dini hari. Belasan bahkan hampir dua puluh jam. Aku tidak tahu kapan beliau makan. Kapan duduk, kapan beliau sempat memejamkan mata. Yang kutahu, setelah satu pasien selesai, masih ada tiga puluh pasien lain yang menunggu.
Beliau merapikan peralatan.
"Alhamdulillah, selesai. Mudah-mudahan lekas sembuh" Ucapnya.
"Terima kasih, Dok."
"Sama-sama."
Beliau hendak melangkah pergi.
Entah mengapa, aku merasa ingin mengatakan sesuatu.
"Semangat ya, Pak Dokter."
Beliau berhenti. Menoleh. Lalu tersenyum lebar. Senyum yang sederhana. Namun terasa begitu tulus.
Di rumah sakit, kita sering mengucapkan, "Semoga pasien cepat sembuh." Padahal, mungkin ada doa lain yang juga perlu sering kita panjatkan.
"Ya Allah... kuatkanlah tangan-tangan yang merawat orang-orang sakit. Berikan kesehatan kepada mereka yang siang dan malam mengabdikan ilmunya untuk menyelamatkan sesama."
Karena di balik setiap luka yang sembuh, ada banyak tangan yang bekerja tanpa banyak diketahui orang. Dan di balik setiap jas putih yang kita lihat, ada manusia biasa yang juga lelah, juga ingin beristirahat, tetapi memilih tetap melangkah.
Sebab...
masih ada tiga puluh pasien lagi yang menunggu.
Senin Malam, 6 Juli 2026, Raudah 3 Kamar 6, RS. Zainal Abidin
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan