Senyuman Sebelas Kurang Seratus
Enam hari. Bukan enam hari liburan. Bukan pula enam hari menikmati indahnya Banda Aceh. Enam hari itu kulewati di sebuah kamar bernomor 6, Ruang Raudhah 3, Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin, Lampriet.
Rumah sakit memang memiliki waktunya sendiri. Pagi, siang, sore, dan malam seolah berjalan lebih pelan. Langkah perawat yang mondar-mandir, bunyi roda tempat tidur pasien, suara monitor, hingga doa-doa lirih keluarga yang menunggu... semuanya menyatu menjadi irama yang membuat hati lebih sering menengadah kepada Allah.
Setelah hampir seminggu berada di sana, siang itu aku meminta izin keluar sebentar.
"Dek, gantikan Bunda sebentar ya."
Dua keponakanku mengangguk.
Aku pun mengajak Caca keluar mencari udara segar.
Kadang, keluar satu atau dua jam bukan berarti ingin meninggalkan tanggung jawab. Justru agar hati kembali lapang dan tenaga terisi untuk melanjutkan ikhtiar.
Beat biru kesayangan Caca melaju pelan membelah jalan-jalan Banda Aceh.
Udara siang terasa hangat.
Langit bersih tanpa mendung.
Sesekali angin menerpa wajahku, membawa aroma kota yang begitu akrab. Kota kelahiranku.
Sudah lama aku tidak menikmati Banda Aceh seperti ini.
Kami sengaja memutari kawasan Mesjid Raya Baiturrahman.
Mesjid itu tetap berdiri megah.
Diam.
Teduh.
Seperti seorang ibu yang selalu menunggu anak-anaknya pulang.
Aku tersenyum sendiri.
Begitu banyak kenangan yang tersimpan di sekitar kawasan itu.
"Nah, toko emasnya di mana ya?"
Aku mulai mengingat-ingat.
Seingatku dulu berada di belakang mesjid atau di sisi kirinya.
Ternyata ingatan manusia memang seperti kompas yang kadang perlu dikalibrasi ulang.
Kami akhirnya berhenti di toko emas pertama yang kami temui.
Belum juga duduk, Caca sudah sibuk memperhatikan etalase.
Matanya berbinar.
"Bun... cincin atau gelang ya? Atau dua-duanya?"
Ia mencoba sebuah cincin.
Lalu sebuah gelang.
Kulihat wajahnya di depan cermin kecil.
Ia tersenyum.
Aku ikut tersenyum.
Dalam hati aku berkata,
"Ya Allah... anak gadisku ini hampir tidak pernah meminta apa-apa."
Jarang sekali ia berbicara tentang emas.
Jarang pula ia meminta hadiah.
Mungkin karena itu, hari ini aku ingin mewujudkan keinginannya.
Walaupun...
Harga emas sedang seperti roket.
Naiknya membuat dompet ikut menarik napas panjang.
Aku sempat melirik angka yang terpampang di layar kalkulator toko.
Astaghfirullah...
Emas rupanya sedang ingin menunjukkan bahwa dirinya memang logam mulia.
Tetapi ada satu hal yang lebih berharga daripada emas.
Melihat senyum anak.
Dan hari itu, aku mendapatkannya.
Perlahan gelang melingkar di pergelangan tangannya.
Cincin berpindah ke salah satu jemarinya.
Sederhana.
Namun wajah Caca seolah sedang memakai matahari.
Bersinar.
"Alhamdulillah..."
Seratus ribu rupiah lagi...
Genap sebelas juta rupiah berpindah dari rekeningku ke rekening toko emas itu.
Bunyi notifikasi transfer terdengar singkat.
Hatiku justru terasa panjang.
Panjang oleh doa.
"Ya Allah, jadikanlah rezeki yang Engkau titipkan ini sebagai keberkahan, bukan sekadar kemewahan. Jadikan perhiasan ini pengingat bahwa kecantikan sejati adalah akhlak dan rasa syukur."
Kami keluar dari toko dengan langkah yang lebih ringan.
Aneh memang.
Isi rekening berkurang.
Tetapi isi hati justru bertambah.
Barangkali begitulah rumus kebahagiaan.
Tidak selalu dihitung dari apa yang kita simpan.
Kadang justru dari apa yang dengan ikhlas kita berikan kepada orang yang kita sayangi.
Beat biru kembali menyala.
Masih ada satu tujuan lagi hari itu.
Keliling kota.
Belanja sedikit.
Lalu menikmati makan siang bersama.
Tetapi...
Biarlah cerita itu kusimpan untuk episode berikutnya.
Karena setiap perjalanan selalu lebih nikmat jika diceritakan setahap demi setahap.
Rumahh Sakit ZA, Raudah 3 kamar 06. Ahad, 5 Juli 2027
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan