Nurbaiti

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

350 CC Keberanian

350 CC Keberanian

Oleh: Syahfaty

"Pengalaman Pertama Menjadi Pendonor Darah"

Di halaman sekolah, suara musik dan gelak tawa masih terdengar. Kegiatan seni dalam rangka ulang tahun sekolah belum usai. Sementara sebagian guru menikmati pertunjukan, aku justru tertarik pada sebuah ruangan yang menawarkan pengalaman baru.

Donor darah gratis.

"Silakan isi formulirnya dulu, Bu." Kata anak-anak yang bertugas di meja depan kelas X-A.

Sepucuk kertas berwarna merah muda ukuran folio berpindah ke tanganku. Isinya lebih dari empat puluh pertanyaan. Untung jawabannya hanya dua pilihan: Ya atau Tidak. Kalau harus menjelaskan satu per satu, mungkin darahku keburu menguap sebelum sempat didonorkan.

Selesai mengisi, aku masuk ke ruangan. Tiga petugas sudah menunggu di balik meja. Kertas formulir kuserahkan. Seorang petugas memegang tangan kananku.

"Sebentar ya, Bu."

Ujung jari tengahku ditusuk. Setetes darah diambil untuk pemeriksaan.

"HB saya berapa, Mbak?" tanyaku, penasaran.

"Empat belas koma tiga."

Lumayan juga, batinku.

"Golongan darah O ya, Bu?"

"Iya."

Aku bergeser ke meja dokter.

Pertanyaannya sederhana.

"Tidur jam berapa tadi malam?"

"Sudah makan?"

"Pernah donor darah sebelumnya?"

Aku menjawab apa adanya.

Belum pernah.

Artinya... ini pengalaman pertama.

Mataku kemudian beralih ke empat tempat tidur donor. Semuanya terisi. Masing-masing petugas menangani dua pendonor sekaligus.

Tak lama kemudian dua tempat tidur kosong.

Aku dan seorang teman langsung dipersilakan berbaring.

"Tangannya ke sini ya, Bu."

Lengan kiriku diletakkan lurus sejajar badan. Telapak tangan menghadap ke atas. Diminta mengepal pelan.

Lalu...

Mataku menangkap sesuatu yang membuat jantungku sedikit mempercepat irama.

Jarum.

Bukan jarum biasa.

Jarum yang menurutku ukurannya... luar biasa.

Seketika ingatanku melayang ke masa kuliah.

Saat praktik menyuntik.

Bukannya berani menyuntik teman, aku malah menyuntik diriku sendiri. Saking takutnya memegang jarum.

Trauma kecil itu rupanya masih tersimpan rapi.

"Tarik napas ya, Bu. Santai saja."

"Nanti dulu, Mbak."

Aku buru-buru membuka ponsel.

Kucari bacaan Ayat Kursi.

Volume kubesarkan sedikit, lalu ponsel kutaruh di dekat telinga.

Aku memejamkan mata.

Mengikuti lantunan ayat demi ayat.

Menarik napas perlahan.

Menahannya sejenak.

Menyerahkan semuanya kepada Allah.

Beberapa detik kemudian...

"Oh..."

Hanya seperti digigit semut.

Aku tersenyum sendiri.

Dalam hati aku memuji keterampilan petugas itu.

Jarum sebesar itu ternyata berhasil masuk tanpa drama.

Rasa penasaranku kembali muncul.

"Jarumnya besar sekali ya, Mbak. Nomor delapan belas?"

Petugas tersenyum.

Mungkin baru kali ini ada pendonor yang menebak ukuran jarum.

"Enam belas, Bu."

Aku mengangguk pelan.

"Oh..."

Pantas saja kelihatan gagah.

"Diambil berapa banyak darahnya, Mbak?"

"Tiga ratus lima puluh cc."

Aku membelalakkan mata.

"Wah... saya kira seratus cc."

Petugas ikut tersenyum.

"Lama nggak, Mbak?"

"Tergantung pembuluh darahnya. Biasanya lima sampai delapan menit."

Guru fisika dalam diriku langsung bekerja.

Aku membayangkan darah mengalir seperti air di dalam selang. Kalau diameter selangnya besar, tentu laju alirannya berbeda dengan selang kecil.

Refleks kulihat jam di layar ponsel.

Jarum mulai menusuk pukul 09.51.

Beberapa menit kemudian...

"Sudah hampir selesai, Bu."

Aku sebenarnya ingin sekali melihat kantong darahku.

Sayangnya letaknya di bawah tempat tidur.

Rasa penasaran itu harus kutunda.

"Tarik napas lagi ya, Bu."

Aku mengulang ritual yang sama.

Tarik.

Tahan.

Baca dalam hati.

Lalu...

Jarumnya keluar.

Selesai.

Alhamdulillah.

Aku tidak langsung bangun.

Mengikuti pesan dokter, aku tetap berbaring beberapa saat.

Setelah merasa cukup nyaman, aku duduk perlahan.

Selembar tensoplas kini menempel manis di lipatan tangan kiri.

Bekas keberanianku hari itu.

Di ruang guru, aku berusaha bersikap biasa saja.

Segelas susu pemberian petugas donor kuminum sampai habis.

Lumayan.

Tubuh terasa ringan.

Beberapa menit kemudian...

Aku mulai merasakan sesuatu.

Tanganku sedikit gemetar.

Aku mendekati teman yang sedang duduk.

Kubisikkan pelan,

"Lara... eh... aku lagi gemetaran ini...."

Lalu kami sama-sama tertawa.

Penyebabnya ternyata bukan karena kehilangan 350 cc darah.

Melainkan karena sejak pagi...aku belum makan.

Perutku akhirnya berhasil mengajukan protes dengan cara yang sangat sopan.

Kemarin aku pulang membawa dua hal.

Yang pertama, selembar kartu donor sebagai kenang-kenangan pengalaman pertamaku.

Yang kedua, sebuah pelajaran sederhana.

Kadang yang paling menegangkan bukanlah jarum suntiknya, melainkan menunggu kapan kita bisa makan setelah donor. 🤣

Baiti Jannati, Sabtu 01 Agustus 2026

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post