Nurbaiti

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Malak Ketika Tubuh Berbisik Keras

Malam Ketika Tubuh Berbisik Keras

Oleh Syahfaty

Pulang sekolah, aku duduk sebentar di teras.

Kicauan burung parkit menjadi musik kecil yang menemani sore. Sesekali burung beo menyahut salamku. Aku membalasnya, seperti sedang berbincang dengan tetangga yang tak pernah ikut bergosip. 😁

Beberapa tugas anak-anak masih menunggu diperiksa. Aku mengambilnya satu per satu.

Biasa saja.

Sampai azan Magrib terdengar.

Aku menghentikan semuanya. Berwudhu, lalu duduk di atas sajadah sambil menunggu azan selesai.

Selesai shalat, tanganku terasa berat sekali untuk meraih Al-Qur'an.

Aku menyerah.

Bukan kepada rasa malas, tetapi kepada tubuh yang sepertinya sedang meminta sedikit ruang.

Kunyalahkan murattal. Aku rebahan dan mengikuti lantunan ayat yang mengalir dari gawai.

Entah berapa lama.

Lalu terdengar suara anakku.

"Bunda sudah shalat Isya?"

Dia baru pulang dari masjid.

Aku tersentak.

"Belum."

Aku bergegas ke kamar mandi.

Dan setelah itu...

Aku tidak tahu persis kapan semuanya berubah.

Apakah ketika tidur?

Apakah setelah berwudhu?

Tiba-tiba tubuhku menggigil hebat.

Bukan menggigil biasa.

Gigiku beradu. Mulutku sulit dikatupkan. Seluruh tubuh bergetar seperti sedang berada di tengah musim dingin yang tidak kukenal.

Aku memakai jaket.

Masih dingin.

Kutambah lagi lapisan kain tebal.

Masih juga menggigil.

Dalam hati muncul sebuah pertanyaan yang membuatku takut sendiri.

Apakah ini akhir hidupku?

Aku ingin shalat Isya.

Aku meminta anakku memasangkan mukena. Dalam keadaan duduk, berselimut tebal, aku menunaikan shalat.

Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku shalat sambil duduk.

Anakku memperhatikanku dari samping.

Selesai shalat, tubuhku kembali kurebahkan.

Guncangan justru semakin kuat.

Anakku menyelimuti tubuhku dan memijat kaki serta punggungku.

Aku meringkuk.

Ya Allah... apakah sedingin ini rasanya tinggal di kutub?

Padahal AC tidak sedang mengamuk.

Tubuhku saja yang terasa seperti kehilangan kendali.

Aku pusing.

Ingin ke kamar mandi.

Tetapi tubuh terasa lemas.

Aku akhirnya bangkit perlahan. Berpegangan pada pintu, kemudian pada tempat tidur.

Sedikit demi sedikit.

Sampai akhirnya berhasil masuk kamar mandi.

Apa yang terjadi setelah itu tidak terlalu jelas dalam ingatanku.

Yang kuingat, ketika keluar, pemandangan kamar seperti bergerak.

Dinding seperti bergeser.

Tempat tidur seperti berpindah.

Lalu...

Gelap.

Aku tidak tahu berapa lama.

Ketika membuka mata, aku seperti tidak mengenali diriku sendiri.

Kamar gelap.

Aku bertanya dalam hati,

Ini di mana?

Aku berjalan perlahan mencari sakelar lampu.

Lampu menyala.

Aku melihat sekeliling.

Oh... ini kamarku.

Aku melihat jam.

Pukul 20.45.

Aku duduk tegak.

Menghela napas.

Alhamdulillah. Aku masih ada.

Aku bahkan sempat berkata dalam hati,

"Ternyata belum jadi meninggal." 😅

Tubuh yang tadi menggigil perlahan berubah menjadi panas.

Aku menyalakan AC.

Tak lama kemudian suamiku pulang membawa obat dan vitamin.

Tekanan darahku diperiksa.

80/60.

Oh...

Pantas saja tubuhku seperti kehilangan tenaga.

Tapi satu hal penting: angka itu sendiri tidak menjelaskan seluruh kejadian. Tekanan darah rendah bisa tidak menimbulkan keluhan pada sebagian orang, tetapi ketika disertai gejala seperti pusing, lemas, atau pingsan, penyebabnya perlu diperhatikan. �

Mayo Clinic + 1

Setelah minum obat yang diberikan dan beristirahat, tubuhku mulai berkeringat.

Perlahan aku merasa kembali menjadi diriku sendiri.

Dan malam itu aku teringat sesuatu.

Pagi tadi tubuhku sebenarnya sudah berbisik.

Aku mandi dengan air hangat sebelum berangkat sekolah.

Mungkin tubuh memang sering memberi tanda jauh sebelum kita mau mendengarkan.

Kita saja yang terlalu sibuk.

Terlalu sibuk mengajar.

Terlalu sibuk menulis.

Terlalu sibuk mengurus rumah.

Terlalu sibuk memperhatikan orang lain.

Sampai lupa bahwa tubuh sendiri juga sesekali ingin diperhatikan.

Malam itu tubuhku tidak lagi berbisik.

Ia berteriak.

Dan aku akhirnya mendengarnya.

**Tubuh juga punya bahasa.

Kadang ia berbicara melalui lelah.

Kadang melalui pusing.

Kadang melalui gemetar.

Dan kadang, ia memaksa kita berhenti sejenak agar kita kembali ingat: tubuh ini juga amanah.

Baitu Jannati, Selasa 18 Agustua 2026

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post