Nurbaiti

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Ketika Tahun 2036 Terasa Begitu Jauh

Ketika Tahun 2036 Terasa Begitu Jauh

Oleh: Syahfaty

Pagi itu aku pergi ke kantor Kementerian Agama. Kali ini bukan untuk mendaftar haji. Aku membawa berkas haji milik kakakku. Ada sesuatu yang ingin kuurus. Sesuatu yang sebenarnya tidak pernah terpikirkan ketika dulu kami mendaftarkan kakakku sebagai calon tamu Allah.

Kakakku lahir pada 1 Januari 1948. Kami dulu tinggal bersama di Jakarta. Sebenarnya, kebersamaan kami di Jakarta bukan tanpa cerita. Setelah kedua orang tua kami meninggal dunia, kami memutuskan mengajak kakak tinggal bersama kami.

Ia tinggal seorang diri di kampung. Kami tidak tega membiarkannya sendirian. Akhirnya, kami tinggal bersama. Karena kami memang saudara. Sekaligus menjadi keluarga yang saling menjaga. Tapi sekarang beliau kembali tinggal di kampung. Beberapa kali kami mencoba menjemputnya, tapi selalu gagal karena alasan kesehatan.

Lima tahun sebelum aku dan suamiku mendaftarkan haji, ada sebuah keputusan kecil yang sampai hari ini masih kuingat. Kami mengumrahkan kakakku ke Tanah Suci. Waktu itu pertimbangannya sederhana. Kakak belum memiliki kewajiban haji seperti kami. Sementara kami, insya Allah, memiliki kewajiban untuk menunaikan rukun Islam yang kelima.

Maka kami berpikir: Biarlah kakak lebih dahulu menginjak Tanah Suci. Biarlah beliau menikmati indahnya beribadah di hadapan Baitullah.

Sementara kami menabung. Mengumpulkan sedikit demi sedikit. Berdoa agar suatu hari Allah mengundang kami menjadi tamu-Nya. Alhamdulillah...

Allah mengabulkan doa-doa kami. Allah mewujudkan cita-cita kami. Tahun 2016, aku dan suami akhirnya menunaikan ibadah haji. Sebuah perjalanan yang sampai hari ini masih terasa sebagai salah satu hadiah terbesar dalam hidup kami.

Waktu terus berjalan. Kemudian pada tahun 2017, kami kembali mendaftarkan kakak untuk menunaikan ibadah haji.

Kami pun kembali menyimpan harapan. Mungkin suatu hari nanti kakak akan kembali ke Tanah Suci. Namun manusia boleh berharap. Allah yang menentukan kapan sebuah perjalanan dimulai.

Ketika aku datang ke Kementerian Agama dan memeriksa data keberangkatannya, aku menemukan sebuah angka: "2036".

Aku terdiam. Aku menghitung. Sepuluh tahun lagi. Saat itu usia kakakku sekitar 88 tahun.

Ya Allah...Ternyata waktu tunggunya masih begitu panjang. Padahal sekarang keadaan kakakku sudah berbeda. Satu kakinya telah diamputasi. Tubuhnya semakin lemah. Aku mulai berpikir realistis.

Apakah masih mungkin kakakku menunggu sampai tahun 2036? Awalnya terpikir olehku untuk mengalihkan porsi haji itu kepadaku. Barangkali aku bisa melaksanakan badal haji untuk kakakku.

Tetapi kemudian aku berpikir lagi. Aku dan suami sudah menunaikan kewajiban haji pada tahun 2016. Tahun 2036 usia kamipun sudah melewati kepala tujuh. Sepuluh tahun ke depan.

Dan bukankah kewajiban haji bagi seorang muslim yang mampu hanya sekali? Andai kami belum melaksanakan ibadah haji, mungkin kami dengan sabar akan menunggunya.

Karena kewajiban itu sudah kami tunaikan, rasanya tidak perlu mengambil sesuatu yang masih harus menjadi hak dan perjalanan kakakku.

Setelah mempertimbangkan semuanya, akhirnya aku sampai pada satu keputusan: pendaftaran haji kakakku akan dibatalkan.

Jujur...

Keputusan itu tidak terasa seperti sekadar membatalkan sebuah administrasi. Di balik sebuah nomor porsi, ada sebuah harapan. Ada doa. Ada kerinduan. Ada keinginan untuk kembali melihat Ka'bah. Dan mungkin ada impian yang belum sempat terwujud.

Tetapi bukankah Allah mengetahui seluruh isi hati hamba-Nya? Bukankah Allah tahu bahwa kakakku pernah berangkat umrah? Bukankah Allah tahu bahwa beliau pernah memiliki niat untuk menunaikan haji? Bukankah Allah juga tahu seluruh ikhtiar yang sudah dilakukan?

Aku tidak tahu bagaimana Allah menilai sebuah perjalanan yang akhirnya tidak sampai pada tujuan yang direncanakan manusia. Tetapi aku percaya... Allah tidak pernah menyia-nyiakan niat baik.

Mungkin kakakku tidak akan berangkat haji pada tahun 2036. Mungkin perjalanan itu memang tidak lagi menjadi bagian dari takdir duniawinya. Tetapi semoga kerinduannya kepada Baitullah tetap menjadi bagian dari amal yang Allah catat.

Di kantor Kementerian Agama, aku diminta membawa surat kuasa dari kakakku. Aku menyiapkan semua berkas yang diperlukan.

KTP. Kartu Keluarga. Dokumen pendaftaran haji. Akte kelahiran yang menunjukkan bahwa kami saudara kandung. Semuanya mulai kupersiapkan.

Namun dalam perjalanan pulang, pikiranku justru tidak lagi sibuk memikirkan berkas. Aku memikirkan waktu.

Betapa manusia sering membuat rencana untuk bertahun-tahun ke depan, padahal kita sendiri tidak pernah diberi tahu apakah akan sampai ke sana. Kita tahu tahun keberangkatan. Tetapi kita tidak tahu usia kita pada saat itu. Kita tahu kapan mendaftar.

Tetapi kita tidak tahu apakah masih memiliki kesempatan untuk berangkat. Kita bisa memiliki nomor porsi. Tetapi kita tidak pernah memiliki kepastian tentang nomor urut kepulangan kita kepada Allah.

Dan hari itu aku seperti kembali diingatkan: Haji bukan hanya tentang perjalanan menuju Baitullah. Ada perjalanan lain yang jauh lebih pasti. Perjalanan menuju Allah.

Maka mungkin, yang perlu kita persiapkan bukan hanya kapan kita akan berangkat, tetapi juga: Sudahkah kita siap ketika Allah memanggil pulang?

Aku teringat kakakku. Seorang perempuan yang pernah menginjak Tanah Suci untuk umrah. Pernah menatap Ka'bah. Pernah berdoa di sana. Pernah menyimpan keinginan untuk kembali sebagai seorang yang menunaikan haji.

Kini mungkin Allah menentukan jalan yang berbeda. Semoga Allah menerima semua niat baiknya. Semoga Allah menerima umrahnya.

Semoga Allah mencatat kerinduannya kepada Baitullah sebagai kebaikan. Dan semoga Allah memberikan yang terbaik untuk sisa perjalanan hidupnya.

Untuk diriku sendiri, kejadian sederhana di kantor Kementerian Agama itu meninggalkan sebuah pelajaran besar:

Jangan terlalu sibuk membuat rencana tentang kapan kita akan sampai di suatu tempat, sampai lupa mempersiapkan ke mana kita akan pulang.

Karena kita tidak tahu apakah akan sampai pada tahun 2036. Tetapi kita tahu pasti...suatu hari nanti kita semua akan sampai kepada Allah.

Ya Allah.... Jika Engkau belum mengizinkan kaki kami kembali menginjak Tanah Suci, jangan Engkau biarkan hati kami jauh dari-Mu. Dan ketika tiba waktunya Engkau memanggil kami pulang...Jemputlah kami dengan ampunan-Mu, dalam keadaan Engkau ridha kepada kami.

Aamiin ya Rabbal 'alamin. 🤲🏻

Baiti Jannati, diantara suara keyboard dan zoom. Rabu, 26 Agustus 2026

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post