Nurbaiti

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Namaku, Do'aku

Namaku, Doaku

Oleh: Syahfaty

"Apa arti namamu?"

Pertanyaan itu terdengar sederhana. Namun, tidak semua orang mampu menjawabnya.

Padahal, nama adalah hadiah pertama yang diberikan orang tua kepada seorang anak. Jauh sebelum kita mengenal dunia, sebelum kita bisa berjalan, bahkan sebelum mampu mengucapkan satu kata pun, orang tua telah lebih dulu menghadiahkan sebuah nama. Sebuah panggilan yang akan melekat sepanjang hayat.

Dalam Islam, memberi nama yang baik bukan sekadar tradisi, tetapi juga doa. Rasulullah ﷺ menganjurkan umatnya memberikan nama yang baik kepada anak-anaknya, karena nama adalah panggilan yang akan terus menyertai mereka.

Tidak sedikit orang tua yang berdiskusi berhari-hari hanya untuk menentukan satu nama. Ada yang membuka kitab-kitab nama Islami, ada yang mencari makna dalam berbagai bahasa, bahkan ada pula yang meminta pendapat kepada ulama atau orang yang memahami arti nama agar nama yang dipilih mengandung harapan terbaik.

Mengapa mereka begitu bersungguh-sungguh? Karena setiap nama adalah doa.

Ketika seorang ayah menamai putranya dengan nama yang berarti pemberani, ia sedang berharap kelak anaknya tumbuh menjadi pribadi yang berani membela kebenaran.

Ketika seorang ibu memilih nama yang berarti cahaya, ia sedang berdoa agar anaknya menjadi penerang bagi sekelilingnya.

Nama bukan sekadar rangkaian huruf. Di baliknya tersimpan cinta, harapan, dan doa yang tak pernah berhenti dipanjatkan. Sayangnya, seiring bertambahnya usia, kita lebih sering menjawab ketika nama kita dipanggil daripada merenungkan maknanya.

Padahal, sesekali kita perlu berhenti dan bertanya kepada diri sendiri. Apakah aku sedang berusaha menjadi pribadi yang sesuai dengan doa yang dititipkan melalui namaku?

Hari ini, melalui kegiatan Literasi 61, anak-anak hebat 61 tidak diminta menulis cerita panjang. Mereka hanya diminta bermain dengan nama mereka sendiri. Menyusun sebuah puisi akrostik, yaitu puisi yang setiap barisnya diawali dengan huruf-huruf penyusun nama mereka.

Bukan untuk mencari kata-kata yang paling indah. Melainkan untuk mengenal diri sendiri. Karena ketika seorang anak menulis,

"A adalah Amanah."

"S adalah Sabar."

"F adalah Fokus."

Sesungguhnya ia sedang menulis doa bagi dirinya sendiri. Barangkali, beberapa tahun lagi, ketika mereka membuka kembali buku literasi milik mereka ketika di 61, mereka akan tersenyum.

"Ternyata dulu aku pernah menuliskan orang seperti apa yang ingin aku menjadi."

Dan semoga, satu demi satu, doa itu Allah kabulkan melalui ikhtiar yang mereka jalani. Sebab, nama yang baik akan semakin indah ketika pemiliknya berusaha menghidupkan makna yang terkandung di dalamnya.

Contoh Puisi Akrostik

SYAHFATY

Sejuta syukur kutitipkan pada setiap langkah yang Allah izinkan.

Yakin bahwa setiap pertemuan selalu membawa hikmah.

Aku ingin menjadi manusia yang ilmunya bermanfaat, bukan sekadar diketahui.

Hati yang lembut semoga tak pernah lelah mencintai dan mendidik.

Fajar selalu mengingatkanku bahwa setiap hari adalah kesempatan untuk memulai lagi.

Ayat-ayat Allah menjadi cahaya yang menuntun setiap kata yang kutulis.

Tak ingin dikenang karena jabatan, tetapi karena pernah menyalakan harapan melalui tulisan.

Ya Allah, izinkan namaku dikenang bukan karena siapa aku, tetapi karena manfaat yang sempat kutinggalkan.

DESY NUR LARA (contoh menggunakan dua kata saja: DESY LARA)

DESY

Doa orang tua adalah bekal terindah dalam hidupku.

Energi kebaikan ingin selalu kubagikan kepada siapa pun.

Setiap hari adalah kesempatan untuk belajar menjadi lebih baik.

Yakin bahwa Allah selalu membersamai setiap langkah yang diniatkan karena-Nya.

LARA

Lembut dalam kata, teguh dalam prinsip.

Amanah menjaga setiap kepercayaan yang diberikan.

Rasa ingin tahu adalah pintu menuju ilmu.

Aku ingin menjadi manfaat, meski hanya melalui sebaris tulisan.

Jika pembaca sudah mengerti apa itu puisi akrostik, coba baca dengan teliti, siapakah nama dari akrostik berikut ini:

Namaku adalah doa yang dipilih dengan penuh cinta.

Usia boleh bertambah, tetapi semangat belajar jangan pernah berkurang.

Ruang-ruang kelas menjadi tempatku menanam harapan.

Buku-buku menjadi saksi perjalanan hidupku.

Anak-anak mengajariku arti kesabaran dan keikhlasan.

Ide-ide sederhana sering lahir dari peristiwa yang tampak biasa.

Tak ingin dikenang karena jabatan, tetapi karena manfaat yang kutinggalkan.

Izinkan setiap kata yang kutulis menjadi amal yang terus mengalir.

Untuk kita semua, "Jangan hanya bangga karena memiliki nama yang indah. Berusahalah menjalani hidup sehingga ketika namamu disebut, orang-orang juga mengingat akhlak baik yang menyertainya. Sebab nama adalah doa dari orang tua, sedangkan akhlak adalah jawaban kita terhadap doa itu."

Baiti Jannati, Malaka Tiga, Rabu, 5 Agustus 2026

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post