Salah Ruangan
Salah Ruangan
Oleh: Syahfaty
Ada kejadian kecil tadi siang. Kecil sekali. Mungkin hanya berlangsung belasan detik. Namun entah mengapa, belasan detik itu berhasil membuat satu ruangan penuh ibu-ibu guru tertawa.
Ruangan guru di lantai dua sedang tenang. Masing-masing sibuk dengan pekerjaannya. Ada yang sedang menulis. Ada yang membuka laptop. Ada yang lagi ngoreksi. Ada yang lagi baca. Ada yang mengobrol pelan.
Tiba-tiba...
Pintu terbuka. Seorang bapak muda berseragam cokelat berdiri di ambang pintu. Mungkin usianya belum jauh dari murid-murid SMA. Wajahnya tampak bingung. Begitu matanya bertemu dengan belasan pasang mata yang serempak menatapnya, ia membeku beberapa detik.
Lalu, dengan wajah yang semakin kikuk, ia berkata,
"Maaf, Ibu-ibu... saya salah masuk ruangan."
Belum selesai kalimatnya, ia buru-buru menutup pintu lagi. Cepat sekali. Seolah-olah kalau terlambat satu detik saja, rasa malunya akan semakin besar.
Ruangan yang tadinya tenang mendadak pecah.
"Hahaha..." Suara tawa menggema.
Aku sendiri sempat menutup mulut dengan telapak tangan. Niatnya ingin menahan tawa. Namun mendengar teman-teman yang lain sudah lebih dulu tertawa, akhirnya aku ikut menyerah. Tertawa juga.
Padahal...Kalau dipikir-pikir sekarang, apa sih yang lucu? Orang salah masuk ruangan? Itu biasa. Siapa pun bisa mengalaminya. Apalagi beliau masih baru. Mahasiswa PKM yang baru sekitar dua minggu berada di sekolah.
Mungkin sedang mencari ruang di lantai tiga, tetapi langkahnya berhenti satu lantai terlalu cepat. Yang membuat kami tertawa bukan kesalahannya. Melainkan ekspresi dan nada suaranya.
Begitu polos. Begitu spontan. Begitu... manusiawi.
Aku lalu teringat pada diriku sendiri. Rupanya aku juga pernah mengalami hal yang sama. Bedanya, aku tidak masuk ruang guru. Aku salah masuk kelas.
Waktu itu aku melihat jadwal sekilas. Merasa yakin. Langsung melangkah mantap menuju sebuah kelas. Sudah berdiri tegak di depan pintu. Begitu melihat ke dalam...
Lho...Bu Waty sedang mengajar. Aku langsung sadar. Alamatnya salah. Untungnya otakku masih sempat bekerja. Tanpa panik aku berkata,
"Maaf Bu Waty... boleh saya panggil ketua kelas sebentar?"
Alhamdulillah...Harga diriku terselamatkan. 🤣🤣🤣
Coba bayangkan kalau waktu itu aku berkata,
"Maaf... saya salah masuk kelas..."
Lalu kabur. Wah...Mungkin sampai sekarang anak-anak masih mengingatnya. Bahkan bisa jadi setiap bertemu mereka akan berkata,
"Bu... jangan salah kelas lagi ya."
Aku tersenyum sendiri. Ternyata menjadi guru bukan berarti selalu tampak sempurna. Kadang kami juga salah membaca jadwal. Salah membawa spidol. Salah menyebut nama murid. Bahkan...Salah masuk ruangan.
Dan mungkin justru karena momen-momen kecil seperti itulah sekolah terasa hidup. Karena di sela kesibukan mengajar, menyusun bahan ajar, memproses nilai, mengoreksi, mendampingi anak-anak, dan mengejar berbagai administrasi, Allah masih menyelipkan alasan sederhana untuk tertawa bersama.
Aku jadi percaya...Tawa di ruang guru juga bagian dari rezeki. Sebab guru yang bahagia biasanya lebih mudah membahagiakan murid-muridnya. Wallahu a'lam.
Baiti Jannati, Malaka Sari, 4 Agustus 2026
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan