Nurbaiti

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Nomor 43, Nasi Liwet dan Lima Menit Sebelum Suami Pulang

Nomor 43, Nasi Liwet, dan Lima Menit Sebelum Suami Pulang

Oleh: Syahfaty

Tanpa sengaja aku membuka grup RT.

Sebuah pesan langsung menarik perhatianku.

"Ayo Bapak Ibu merapat, ditunggu..."

Di bawahnya ada foto dan video.

Meja panjang penuh makanan sudah siap. Prasmanan. Lengkap.

Aku menatap layar agak lama.

Datang?

Jangan?

Datang malu karena telat.

Tidak datang juga malu karena panitia sudah capek-capek menyiapkan makanan.

Akhirnya aku menelepon seorang teman.

"Kalian di mana?"

"Di lapangan. Ayo datang. Ditunggu. Kasihan panitia, makanannya banyak."

Ternyata yang hadir belum terlalu banyak.

Baiklah.

Alasan untuk malu resmi dicabut. 😂

Aku segera bersiap.

Gamis yang kugantung menjadi pilihan. Baru beberapa hari lalu kupakai.

Jilbabnya kucari yang senada.

Aku memang cukup perhitungan kalau memilih pakaian. Bukan soal harga, tetapi membayangkan pekerjaan setelahnya.

Nyuci.

Kalau masih ada yang bersih, kenapa harus mengambil yang lain dari lemari?

Hemat pakaian, hemat tenaga. 😂

Pintu pagar kututup.

Tidak sampai lima menit kemudian aku sudah bergabung dengan teman-teman pengajian.

Warga RT 03 sudah duduk manis. Tidak kuhitung persis, tetapi sepertinya belum sampai empat puluh orang, termasuk panitia.

Kulihat kursi bagian belakang sudah mulai penuh, sedangkan bagian depan masih kosong.

Temanku menyenggolku.

"Bun, di depan saja. Bersama para menteri."

Aku tertawa.

"Aku di belakang saja. Sekalian jadi satpam. Jagain makanan. Biar kalau lapar aman."

Belum sempat memilih tempat, seorang remaja putri menghampiriku.

"Ibu, di sini saja. Ini Ibu ambil nomor dulu untuk doorprize."

Ia memberikan kursinya sekaligus sebuah toples berisi gulungan kertas kecil.

"Makasih banyak ya."

Aku tersenyum.

Satu gulungan kertas sudah berpindah ke tanganku.

Nomor keberuntungan.

Sementara mataku diam-diam berpindah ke meja panjang.

Astaga...

Nasi liwet.

Urap sayur.

Tahu dan tempe.

Ayam goreng.

Sambal telur.

Kerupuk.

Semangka.

Jeruk.

Air timun.

Perutku mulai ikut rapat.

Ada satu yang paling menarik perhatian.

Sebuah tumpeng mini berwarna putih, bertingkat, dikelilingi lauk-pauk. Di atasnya tertancap bendera merah putih yang ternyata dibuat dari semangka dan bengkoang.

Kreatif sekali!

Ini baru karya emak-emak RT 03.

Sederhana, tetapi cantik.

Tidak perlu katering mahal untuk membuat sebuah meja makan terlihat istimewa.

Acara dimulai.

Tidak ada panggung besar.

Lapangan parkir mini RT 03 disulap menjadi tempat perayaan. Kursi ditata rapi. Di depan ada tempat khusus untuk MC, beralaskan karpet biru.

Lampu hias merah putih berkedap-kedip di kiri dan kanan.

Umbul-umbul merah putih berdiri di beberapa sudut.

Bendera Merah Putih berkibar gagah.

Malam itu kami tidak sedang berada di gedung megah.

Tetapi rasa memiliki terhadap lingkungan terasa jauh lebih besar daripada lapangannya.

MC membuka acara.

Indonesia Raya berkumandang.

Dilanjutkan sambutan Pak RT.

Beliau mengapresiasi kerja panitia, kemudian menyampaikan beberapa hal penting tentang kehidupan warga: pemilahan dan pengolahan sampah, keamanan dan kenyamanan lingkungan, serta urusan administrasi yang bisa dikoordinasikan melalui sekretaris RT.

Semuanya serius.

Sampai tiba giliran anak-anak.

Mereka mulai menari dan berjoget.

Warga yang tadinya duduk tegak mulai tersenyum.

Sebagian bahkan mulai menguap.

Termasuk aku.😂

Anak-anak memang punya kemampuan luar biasa menghibur orang dewasa sekaligus menguji ketahanan kantuk.

Acara berlanjut.

Doa penutup.

Pemotongan tumpeng.

Dan akhirnya...

Makan!

Nah, ini acara yang paling ditunggu-tunggu oleh sebagian besar peserta. 😂

Kami mulai sibuk dengan piring masing-masing.

Sambil menyuap nasi liwet, sesekali ngobrol dengan teman di kanan dan kiri.

Anak-anak yang sejak tadi berlarian kini ikut duduk di samping ibunya.

Lapangan yang sebelumnya ramai oleh suara anak-anak berubah menjadi suasana makan malam yang hangat.

Sementara itu, pembagian hadiah lomba terus berjalan.

Ada lomba jalan santai.

Ada lomba memakai kain sarung sambil bermain balon.

Dan tentu saja...

doorprize.

Aku masih makan ketika suara Mbak Indri terdengar.

"Nomor 43!"

Aku berhenti mengunyah.

Mataku langsung menuju HP.

Nomor keberuntungan yang tadi kulipat sudah kuselipkan di sana.

Aku datang memang hanya membawa HP.

Tidak membawa tas.

Tidak membawa apa-apa.

Nomor itu kuberikan kepada panitia.

Dan ternyata...

43!

Aku maju.

Sebuah benda terbungkus kertas sampul cokelat diberikan Pak RT.

"Alhamdulillah. Terima kasih, Pak. Terima kasih, Mbak."

Aku kembali ke kursi.

Hadiah sudah di tangan.

Makan malam belum selesai.

Acara belum selesai.

Tetapi ternyata waktuku juga hampir selesai.

Aku membuka aplikasi Life360.

Kulihat posisi suamiku.

Lima menit lagi masuk gang.

Waduh!

Aku tidak mungkin menunggu acara sampai selesai.

Bukan karena tidak betah.

Tapi aku membawa kunci pagar.

Kalau suami sudah sampai rumah dan pintu pagar masih terkunci, nanti yang jadi acara berikutnya bisa-bisa bukan pembagian doorprize. 😂

Aku segera berbisik kepada teman di sebelah.

"Aku pulang dulu ya. Suamiku sebentar lagi sampai. Kuncinya aku bawa."

Beberapa panitia yang sedang berdiri di dekat meja makan juga kuberi tahu.

Tidak banyak pamit.

Aku langsung beranjak.

Perkiraanku ternyata tepat.

Aku baru muncul dari gang satu...

Dari gang empat, mobil suami muncul.

Aku mempercepat langkah.

Begitu sampai di depan rumah, tanganku segera membuka pintu pagar.

Alhamdulillah.

Selamat.

Suami tidak perlu menunggu terlalu lama.

Aku masuk rumah sambil membawa hadiah doorprize, perut kenyang, dan satu cerita kecil dari malam itu.

Ternyata kebahagiaan tidak selalu membutuhkan acara besar.

Kadang cukup sebuah grup RT yang tidak sengaja terbuka, sepiring nasi liwet, tumpeng buatan emak-emak, nomor 43...

dan seorang istri yang harus pulang tepat waktu karena suaminya sudah lima menit lagi masuk gang. 😂

Malam sederhana.

Tetapi menyenangkan.

Dan seperti biasa, hidup selalu punya cara sendiri untuk menyelipkan kejutan kecil di antara rutinitas.

Lapangan Parkir RT. 03. Sabtu, 22 Agustus 2026

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post