Tidur
Hari ini, jam ke nol, sebelum pelajaran dimulai, anak-anak berkumpul di lapangan dalam. Bukan untuk upacara. Bukan pula untuk olahraga.
Hari ini mereka makan bersama.
Kegiatan pertama di tahun pelajaran ini dimulai dengan sesuatu yang sangat sederhana: sepiring makanan.
MBG dibagikan satu per satu. Kotak-kotak makanan berpindah dari tangan ke tangan. Sebagian anak tampak senang. Sebagian lainnya sudah membawa bekal dari rumah.
Aku memperhatikan mereka.
Ada yang membuka kotaknya, mencicipi sedikit, lalu berhenti. Ada yang hanya mengambil jeruknya. Ada yang sama sekali tidak menyentuh nasi dan lauknya.
Pemandangan itu membuat hatiku sedikit sesak.
Bukan karena anak-anak tidak menyukai makanan yang disediakan. Selera memang berbeda. Kita tidak bisa memaksa seseorang menyukai makanan tertentu.
Tetapi pikiranku tiba-tiba berjalan jauh.
Berapa banyak orang di luar sana yang hari ini masih berpikir, “Nanti makan apa?”
Sementara di sini, makanan sudah tersedia.
Nasi ada. Lauk ada. Buah ada.
Namun sebagian berakhir sebagai makanan yang tidak tersentuh.
Aku membayangkan seorang ibu yang sedang menghitung sisa uang di dompetnya. Membayangkan seorang anak yang mungkin menunggu orang tuanya pulang hanya untuk memastikan ada sesuatu yang bisa dimakan malam nanti.
Entah kenapa, pemandangan nasi yang tersisa pagi itu terasa berbeda.
Ia bukan lagi sekadar nasi.
Ia seperti sedang mengajarkan sesuatu kepada kami tentang syukur.
Bahwa makanan yang sampai ke tangan kita bukan sesuatu yang tiba-tiba ada.
Ada petani yang menanam padi. Ada orang yang memanen. Ada yang mengolahnya. Ada yang memasak. Ada yang mengemas. Ada yang mengantarkan. Ada banyak tangan yang bekerja sebelum satu kotak makanan akhirnya berada di depan seorang anak.
Maka ketika makanan itu tidak kita habiskan, setidaknya jangan memperlakukannya seperti sesuatu yang tidak bernilai.
Kalau memang tidak suka atau tidak sanggup menghabiskannya, ambillah secukupnya.
Karena menghargai makanan adalah salah satu bentuk menghargai kehidupan.
Aku kembali memandang anak-anak yang sedang makan.
Mereka mungkin belum memikirkan sejauh itu.
Dan memang tidak harus hari ini.
Tugasku hanya mengingatkan.
Bahwa di balik sepiring nasi ada kerja keras.
Di balik makanan yang kita nikmati ada rezeki.
Dan di balik rezeki, ada Allah yang menitipkannya kepada kita.
Maka makanlah dengan syukur. Ambillah secukupnya. Habiskan semampunya. Dan jangan pernah merasa makanan adalah sesuatu yang biasa saja.
Sebab bagi sebagian orang, sepiring nasi bukan sekadar makanan. Ia adalah harapan.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan