Kertas Kuning di Depan Labtop
Kertas Kuning di Depan Labtop
Oleh: Syahfaty
Pagi ini, setelah briefing di ruang AUVI, kami mengambil map berisikan berkas "ASESMEN FIRMATIF BERSAMA" lalu menuju ruang 15. Ruang paling ujung lantai dua. Dekat Mesjid.
Setelah berkeliling, kami kembali duduk di belakang anak-anak. Di depan sana, puluhan layar laptop terbuka. Jari-jari bergerak. Mata berpindah dari layar ke layar. Sesekali terdengar suara kursi bergeser atau bisikan pendek yang segera berhenti ketika pengawas mendekat.
Hari ini hari ke-lima sekaligus hari terakhir AFB—Asesmen Formatif Bersama. Seperti biasa, tugas pengawas bukan hanya duduk manis sambil menunggu waktu berjalan. Kami berkeliling dari meja ke meja.
Memeriksa kelengkapan perangkat yang digunakan. Memastikan atribut yang dipakai sesuai ketentuan. Memeriksa kartu legitimasi AFB. Tas, kotak pensil, jaket, dan benda-benda lain yang tidak berkaitan dengan AFB diletakkan di belakang, di bawah papan tulis.
Kami juga memastikan HP tetap berada di belakang laptop. Bukan karena kami ingin mencurigai mereka. Justru agar semuanya aman.
Soal di layar Labtop bisa terlihat jelas dari belakang. Dari tempat kami duduk, tapi HP berbeda. Ukurannya kecil. Kalau diletakkan di samping atau di laci meja, mata pengawas tentu tidak selalu bisa menjangkaunya. Karena itu kami meminta mereka meletakkannya di belakang laptop.
Ada Wi-Fi. Tetapi sebagian anak lebih nyaman menggunakan hotspot dari HP masing-masing. Katanya Wi-Fi agak lambat. Ya sudah. Silakan.
Pada akhirnya, teknologi hanya alat. Yang paling penting tetap satu: kejujuran. Sebab kalau seseorang memang berniat jujur, ada atau tidak ada pengawas, ia tetap akan memilih jalan yang sama.
Aku mengawasi bersama seorang guru PKM. Kami duduk di belakang. Sesekali berjalan di antara meja-meja. Ruang 15 itu terdiri atas siswa kelas XI dan XII yang duduk berpasangan.
Adik kelas Bahasa Indonesia. Kakak kelas Bahasa Inggris. Dua mapel yang diuji. Sama-sama bahasa. Tetapi ketika soal dibuka di layar, perbedaannya terasa sangat jauh.
Aku berhenti di salah satu bangku. Dua lembar kertas terletak di meja seorang siswi. Satu berwarna biru. Ini kartu AFB. Satu lagi kuning.
Kertas kuning itu menarik perhatianku. Ukurannya hampir sama dengan yang biru, tetapi sedikit lebih tinggi—mungkin sekitar dua sentimeter.
Aku mendekat.
“Ini apa?”
Aku menunjuk kertas kuning itu.
“Boleh Ibu baca?”
Anak itu menatapku.
Syifa Aulia. Gadis tinggi semampai itu mengangguk sopan.
“Boleh, Ibu.”
Aku mengambil kertas tersebut. Kubaca. Bukan rumus. Bukan catatan. Bukan rangkuman materi. Bukan pula sesuatu yang berkaitan dengan soal. Di sana tertulis sebuah doa:
Allahumma lā sahla illā mā ja‘altahu sahlā, wa anta taj‘alul-hazna idzā syi’ta sahlā.
“Ya Allah, tidak ada kemudahan kecuali apa yang Engkau jadikan mudah. Dan Engkau menjadikan kesulitan, jika Engkau kehendaki, menjadi mudah.”
Aku membacanya sekali lagi dalam hati. Kemudian kertas itu kukembalikan ke tempatnya.
“Apakah kamu selalu membacanya?”
Syifa mengangguk. Aku tidak bertanya lagi. Ada beberapa hal yang tidak perlu diberi ceramah panjang. Cukup dilihat. Cukup disimpan dalam hati.
Di tengah ruangan yang penuh laptop, jaringan internet, soal, dan berbagai kemungkinan godaan, seorang anak ternyata membawa sesuatu yang jauh lebih sederhana.
Doa.
Teknologi ada di depannya. Tetapi sandaran hatinya bukan teknologi. Ia tahu bahwa soal bisa dibuat manusia. Jawaban bisa dicari manusia. Tetapi kemudahan tetap milik Allah.
Aku tersenyum.
Barangkali inilah salah satu bentuk pendidikan yang sering tidak tercatat di lembar asesmen.
Tidak ada kolom:
“Hari ini siswa membawa doa.”
Tidak ada angka untuk itu. Tidak ada skor. Tetapi mungkin justru hal-hal seperti inilah yang kelak tinggal lebih lama dalam perjalanan hidup seseorang.
Aku kembali berkeliling lagi. Sampai akhirnya berhenti di meja paling belakang. Posisi duduk anak-anak selama Asesmen berlawanan arah dengan kebiasaan mereka ketika belajar.
Anak yang biasanya duduk di belakang, kebetulan hari itu justru berada paling depan. Persis di depan papan tulis.
Di depanku duduk Jody. Awalnya kepalanya tegak. Matanya masih menghadap layar. Beberapa menit kemudian, kepalanya mulai turun. Sedikit. Kemudian lebih rendah. Aku memperhatikan.
Kenapa, Jod?
Aku melirik layar laptopnya. Aku tersenyum.
Oh…
Aku mengerti. Ternyata bukan hanya aku yang punya masalah dengan teks panjang. Satu layar penuh tulisan. Apalagi Bahasa Inggris. Aku hampir ingin tertawa. Dalam hati aku berkata,
Jody, ternyata kita sama. 😂
Ada orang yang bisa membaca halaman demi halaman tanpa berkedip. Ada yang justru baru melihat tiga paragraf sudah merasa seperti sedang mendaki gunung.
Aku termasuk golongan kedua. Dan hari ini aku mendapatkan bukti ilmiahnya. Bukan penelitian. Bukan jurnal. Tetapi Jody. 😂
Barangkali otak memang memiliki kapasitas perhatian yang berbeda-beda. Ketika informasi terlalu panjang dan padat, perhatian bisa menurun. Mata masih menghadap layar, tetapi pikiran sudah mulai jalan-jalan ke tempat lain.
Persis seperti yang sedang terjadi pada Jody. Dan mungkin juga pada beberapa orang dewasa di ruangan itu. Aku tidak menunjuk siapa-siapa. Termasuk diriku sendiri.
Tiba-tiba tenggorokanku terasa kering. Aku baru teringat sesuatu. Sejak Subuh aku sudah sibuk di dapur. Tetapi…Aku belum minum. Air putih saja belum. Kopi? Jangan ditanya.
Belum.
Aku terdiam sebentar. Bagaimana bisa seorang pengawas memastikan anak-anak menggunakan energi dengan baik, sementara dirinya sendiri lupa mengisi energi?
Aku tersenyum. Oh, ternyata pengawas juga manusia. Baterai tubuhku mulai berkedip merah. Aku menoleh kepada teman pengawas.
“Bu, saya izin ke ruang guru sebentar, ya.”
Ia mengangguk. Aku berdiri. Dalam hati aku berkata,
“Mau isi bensin dulu.”
Bukan bensin beatku. Bensin manusia. Air putih. Sesederhana itu.
Aku berjalan keluar dari ruang 15. Di belakangku, anak-anak masih bergulat dengan soal. Laptop masih menyala. HP tetap berada di tempatnya. Kertas kuning masih tergeletak di depan laptop Syifa.
Dan entah mengapa, justru kertas kecil itulah yang paling lama tinggal di pikiranku.
Hari ini aku belajar dari sebuah kertas berwarna kuning. Bahwa di tengah ujian, manusia memang membutuhkan pengetahuan. Membutuhkan laptop. Membutuhkan jaringan internet. Membutuhkan ketelitian. Tetapi ada satu hal yang tidak boleh ditinggalkan: meminta pertolongan kepada Allah.
Aku juga belajar dari Jody. Bahwa tidak semua orang menikmati bacaan panjang. Bahwa kemampuan membaca, memusatkan perhatian, dan mengolah informasi membutuhkan proses.
Dan aku belajar dari tubuhku sendiri. Bahwa kita sering sibuk memastikan orang lain baik-baik saja, sampai lupa bertanya kepada diri sendiri:
“Aku sudah minum belum?”
Hari ini AFB menguji anak-anak dengan soal. Tetapi diam-diam, hari ini juga menguji aku. Bukan tentang benar atau salah. Bukan tentang nilai. Melainkan tentang sesuatu yang jauh lebih sederhana:
seberapa sering aku mengingat bahwa di balik ikhtiar, ada Allah yang memudahkan?
Syifa punya kertas kuning. Aku punya segelas air. Jody punya perjuangannya sendiri menghadapi teks panjang. Dan kami semua, pada akhirnya, sedang belajar. Belajar bahwa hidup tidak hanya membutuhkan jawaban. Kadang kita membutuhkan doa. Kadang membutuhkan istirahat. Kadang membutuhkan air putih. Dan kadang…
kita hanya perlu mengakui dengan jujur:
“Ya Allah, aku tidak sanggup membuat semuanya mudah. Maka Engkaulah yang mudahkan.”
Aku tersenyum. Lalu berjalan menuju ruang guru lantai 2, campuran susu, kopi dan air jahe ynag kubawa dari dapur rumahku tadi menantiku dalam botol.
Bismillahirrahmanirrahim.... Satu tegukan pertama. Pelan. Nikmat. Alhamdulillah. Tegukan kedua.....lebih nikmat. Alhamdulillah. "Nikmat mana lagi yang engkau dustakan?"
Alhamdulillah.
Kerongkongan sudah basah.
Rasa nikmat terasa sudah.
Kembali ke ruangan untuk mengawas.
In Syaa Allah...
Selasa, 22 September 2026, NASA, Pondok Bambu, Ruang Guru lt. 2
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan