Nurbaiti

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Suara yang Hampir Hilang

Suara yang Hampir Hilang

Oleh Syahfaty

Jam terakhir.

Biasanya, pada jam seperti itu, seorang guru hanya punya dua pilihan: tetap mengajar dengan sisa tenaga yang ada, atau berharap bel segera berbunyi.

Tetapi hari itu aku memilih pilihan ketiga.

Aku memberikan kelas kepada Ronal, mahasiswa PKM yang sedang kupamongi. Bukan karena aku ingin meninggalkan kelas. Justru sebaliknya. Aku ingin melihat bagaimana kelas itu ketika berada di tangan guru lain.

Selama ini akulah yang mengajar mereka. Aku tahu bagaimana mereka ketika belajar denganku. Aku tahu kapan mereka mulai ramai, kapan mereka mulai bosan, kapan suara mereka mulai lebih keras daripada suara guru.

Karena itu, aku ingin menjadikan kelas itu sebagai pembanding.

“Anggap saja Pak Ronal itu guru seperti Ibu,” kataku kepada mereka sebelum aku meninggalkan kelas. “Usianya memang berbeda dari Ibu. Tapi tujuannya sama.”

Aku berhenti sebentar.

“Salah satunya adalah mencerdaskan kalian.”

Beberapa anak tersenyum. Aku pun pergi. Masjid sudah memanggil.

Waktu Dhuha hampir habis. Tidak lama lagi Dhuhur akan masuk. Aku ingin menyelesaikan satu urusan dengan Allah sebelum kembali menyelesaikan urusan dengan manusia.

Belum lama aku berada di masjid ketika sebuah pesan masuk.

Dari Ronal.

Katanya, ia sudah keluar dari kelas. Kelas tidak bisa ditertibkan. Suara di sana ke mana-mana. Ada yang berbicara dengan temannya. Ada yang sibuk dengan HP. Ada yang tidak memperhatikan. Permintaan guru seperti hanya lewat sebentar di udara, lalu menghilang begitu saja.

Aku membaca pesan itu pelan-pelan. Tidak marah. Tidak pula langsung menyimpulkan siapa yang salah. Aku tersenyum.

Aku hanya berpikir, Baiklah. Kita lihat.

Sekitar lima belas menit sebelum jam pelajaran berakhir, Ronal sudah meninggalkan kelas.

Setelah jam selesai, aku memanggil ketua kelas. Namanya Revaldy. Aku tidak bertanya dengan nada menginterogasi.

“Coba ceritakan kepada Ibu apa yang terjadi.”

Revaldy menjelaskan. 😄

Bahasanya santun. Wawasannya cukup luas. Dan yang membuatku sedikit terdiam, ia tidak sibuk mencari kambing hitam.

Ia mengakui bahwa anak-anak di kelasnya memang bersalah.

Aku kemudian bertanya,

“Kalau kamu berada di posisi Pak Ronal tadi, sebagai guru PKM, apa yang akan kamu lakukan?”

Renay berpikir.

Lalu menjawab bahwa ia merasa sangat menyesal karena tidak mampu menghentikan teman-temannya.

“Kalau saya jadi Pak Ronal, mungkin saya juga bingung, Bu.”

Aku mengangguk.

Tidak perlu banyak kata.

Kadang seseorang tidak membutuhkan ceramah untuk memahami kesalahannya.

Ia hanya perlu ditempatkan sebentar di posisi orang lain.

Setelah itu kupanggil beberapa anak yang dianggap paling tidak menurut, bersama wakil ketua kelas.

Kali ini aku mendengar cerita dari sisi yang berbeda.

Ternyata menurut mereka, masalahnya bukan semata-mata tidak mau mendengar.

“Suara Pak Ronal kecil, Bu. Jadi kadang tidak terdengar.”

Aku tersenyum.

Alasan itu bisa kupahami.

Tetapi aku juga ingin mereka memahami sesuatu.

“Kalau kelas sedang ribut,” kataku, “jangan berharap suara guru bisa terdengar jelas.”

Aku berhenti sebentar.

“Suara peluru saja mungkin kalah.”

Mereka tertawa kecil.

Tetapi setelah itu wajah-wajah mereka kembali serius.

Aku tidak ingin mereka hanya memahami soal suara.

Aku ingin mereka memahami soal sikap.

Guru boleh memiliki suara kecil.

Guru boleh belum sempurna dalam mengelola kelas.

Tetapi itu tidak pernah menjadi alasan bagi seorang murid untuk kehilangan adab.

“Akhlak harus selalu nomor satu,” kataku.

Mereka mengangguk.

Lalu aku bertanya,

“Jadi, apa yang akan kalian lakukan?”

“Minta maaf kepada Pak Ronal, Bu.”

“Semua?”

“Semua, Bu.”

Aku sengaja menegaskan lagi.

“Semua.”

Karena kesalahan kelas tidak selalu milik satu atau dua orang.

Kadang sebuah kelas menjadi gaduh bukan karena satu anak yang berulah, tetapi karena terlalu banyak anak yang memilih diam ketika suasana mulai tidak terkendali.

Dan hari itu mereka belajar satu hal sederhana:

tidak ikut berbuat salah bukan berarti tidak punya tanggung jawab untuk memperbaiki keadaan.

Beberapa waktu kemudian, pesan masuk lagi.

Ronal mengabarkan bahwa banyak anak datang kepadanya.

Mereka meminta maaf.

Ronal tidak tahu bahwa sebelum mereka datang kepadanya, mereka sudah lebih dulu duduk bersamaku.

Aku tersenyum.

Ternyata percakapan kecil itu sampai juga ke tempat yang kuharapkan.

Bukan hanya sampai ke telinga.

Tetapi sampai ke hati.

Di grup WhatsApp kelas, kemudian muncul daftar nama.

Satu demi satu.

Anak-anak yang sudah meminta maaf kepada Ronal.

Aku membaca nama-nama itu.

Lalu mengetik:

“Terima kasih, anak-anak baik.”

Aku berhenti sebentar sebelum melanjutkan.

“Dari awal Ibu sudah pernah bilang kepada kalian, kalau kelas yang paling Ibu suka adalah kelas kalian. Mudah-mudahan dengan kejadian hari ini, Ibu tidak berubah pikiran.”

Pesan itu terkirim.

Beberapa saat kemudian, balasan bermunculan.

“Terima kasih, Ibu.”

“Terima kasih, Bu.”

Dan berbagai balasan lainnya.

Aku membaca semuanya sambil tersenyum.

Tidak ada kemenangan hari itu.

Tidak ada guru yang menang melawan murid.

Tidak ada murid yang kalah di hadapan guru.

Yang ada hanyalah sebuah kelas yang baru saja belajar bahwa menjadi pintar ternyata tidak cukup.

Bahwa menjadi ketua kelas bukan hanya soal memimpin teman.

Bahwa menjadi murid bukan hanya soal menerima pelajaran.

Dan bahwa menjadi guru bukan hanya soal mampu mengajar.

Ada sesuatu yang lebih tinggi dari semuanya.

Akhlak.

Mungkin hari itu suara Ronal memang kecil.

Tetapi dari kelas yang gaduh itu, justru lahir suara lain yang jauh lebih penting.

Suara hati.

Dan semoga suara itu tidak pernah hilang.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post