Tiga Hal yang Tidak Kita Tahu Tentang Kematian
Renungan Untuk Diri Sendiri
TIGA HAL YANG TIDAK KITA TAHU TENTANG KEMATIANOleh: Nurbaiti
Malam ini aku menjadi salah satu jamaah di rumah seorang teman. Duduk, menyimak ustadz yang sedang menyampaikan kajian. Ada satu bagian ceramah yang membuatku diam lebih lama. Tentang kematian.
Ustadz menyampaikan bahwa ada tiga hal yang tidak kita ketahui ketika Allah memanggil kita pulang.
Sebabnya apa. Kapan waktunya. Dan di mana tempatnya.
Tiga pertanyaan sederhana, tetapi tidak satu pun bisa kita jawab. Kita bisa menjaga kesehatan, tetapi tidak pernah bisa memastikan sebab kematian.
Kita bisa membuat jadwal untuk esok, lusa, bahkan bertahun-tahun ke depan. Tetapi kita tidak pernah mendapatkan kalender yang mencantumkan tanggal kepulangan kita.
Kita bisa merencanakan perjalanan ke berbagai tempat, tetapi tidak pernah tahu di tempat mana perjalanan dunia kita akan berakhir.
Aneh, ya? Untuk pergi beberapa hari saja, kita bisa sibuk menyiapkan pakaian, uang, tiket, obat-obatan, bahkan membuat daftar barang yang harus dibawa.
Tetapi untuk perjalanan yang pasti akan kita tempuh, sering kali persiapannya justru kita tunda. Barangkali karena kita merasa masih punya banyak waktu.
Masih ada besok untuk memperbaiki shalat.
Masih ada nanti untuk meminta maaf.
Masih ada kesempatan untuk membaca Al-Qur'an.
Masih ada sempat untuk bersedekah.
Masih bisa memperbaiki hubungan dengan orang lain.
Padahal, yang tidak pernah kita tahu adalah: apakah “nanti” itu masih menjadi milik kita?
Persiapan kematian ternyata bukan berarti setiap hari harus murung memikirkan kematian. Justru sebaliknya. Persiapan kematian adalah bagaimana kita menjalani hari dengan sebaik-baiknya.
Shalat dijaga.
Dosa yang disadari segera ditaubati.
Utang diselesaikan.
Amanah ditunaikan.
Hubungan dengan sesama diperbaiki.
Sedekah dilakukan meskipun sedikit.
Dan hati dibiasakan dekat dengan Allah.
Sebab kita tidak tahu sebabnya.
Kita tidak tahu waktunya.
Kita juga tidak tahu tempatnya.
Tetapi satu hal kita tahu dengan pasti: Kita akan pulang. Maka mungkin pertanyaan terpenting bukanlah, “Kapan aku mati?” Sebab jawabannya memang dirahasiakan Allah.
Pertanyaan yang lebih penting adalah: “Kalau Allah memanggilku pulang setelah hari ini, apakah aku sudah siap?”
Semoga ketika waktu itu tiba, kita tidak sedang sibuk mengejar dunia hingga lupa kepada Pemilik kehidupan.
Semoga kita dipanggil dalam keadaan beriman, membawa amal yang cukup, hati yang bersih, dan dosa-dosa yang telah kita mohonkan ampun.
Karena kematian bukan tentang apakah kita sudah selesai dengan semua urusan dunia. Kematian adalah tentang apakah kita sudah siap menghadap-Nya.
Allahumma husnul khatimah. Aamiin yaa Rabbal 'Aalamiin.
Baiti Jannati, Malaka 3.
Di antara sunyi, do'a dan detak-detik kehidupan, Sabtu 26 September 2026.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan